Nostalgia

986 Kata

Selain mengutarakan perasaannya, ternyata Reyhan juga punya maksud lain. Dia minta dikerokin karena teman-temannya tidak bisa melakukannya, teman-temannya hanya menyuruh membeli obat. Sebagai anak yang sudah biasa hidup susah, Reyhan lebih suka menyembuhkan masuk angin dengan metode manual daripada pakai obat. "Ya ampun punggungmu merah banget." Reyhan meringis karena aku terlalu kencang menggesekkan uang koinnya. "Dah, selesai," ucapku setelah berhasil membuat garis tengah hingga membuat punggung Reyhan membentuk gambar daun kelapa. Dia kembali memakai kaos oblongnya. Kemudian duduk di sebelahku. "Lanjut dong ceritanya," pintaku karena tadi Reyhan sempat bercerita tentang perjalanan ibunya menjadi orang sukses. "Hmm oke, jadi Ibuku dulu juga pernah berpikir menikahi ayah adalah sebua

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN