Aku menghirup bunga lily yang baru saja kutemukan di depan pintu. Lagi-lagi aku diberi bunga ini oleh orang misterius, hampir setiap hari. "Dapat bunga lagi?" tanya Umi yang baru saja keluar dari rumah. "Iya, Umi." Aku mengangguk sambil mencium aroma floral dari bunga lily tersebut. "Kamu yakin, nggak lagi deket sama cowok?" tanya umi sambil mengangkat beberapa kertas vinyl yang akan beliau antarkan ke toko abi. Aku menoleh ke arah umi. "Enggak, Umi. Salisah cuma dekat sama ustad Azka, itupun karena kami sama-sama ngajar di TPA." "Buruan nikah, Umi pengen banget nimang cucu." Aku menunduk setelah melihat ekspresi penuh harap Umi. "Salisah belum punya calon yang pas, Umi." Umi menghela napas kemudian memegang pundakku. "Yang sabar, ya. Mungkin Azka bukan jodohmu." Aku mengangguk.

