Setelah pulang mengajar, aku biasanya mampir ke tenda warung penjual ketoprak di pinggir jalan, memesan makanan untuk dibawa pulang. "Ketoprak dua, ya, Pak." Aku memesan dua porsi, yang satunya akan aku berikan kepada umi. "Pakai telur, Bu?" tanya penjual ketoprak itu. "Owh, iya, Pak." "Duapuluh empat, ya, Pak." Aku menyerahkan uangku. Karena satu porsi kalau dikasih telur harganya 12 ribu. "Owh, nggak usah, Bu." Pak Mamat, nama pedagang itu menolak. "Lho, kenapa, Pak?" "Udah ada Mas-Mas yang bayarin." Pak Mamat tersenyum. "Maksudnya gimana, sih, Pak?" tanyaku bingung. "Bu Salis nggak perlu bayar, karena tadi udah ada yang bayarin." Aku menggaruk-garuk pelipisku. "Aku sudah dibayarin sebelum aku beli di sini?" Pak Mamat mengangguk. "Aneh banget. Siapa, sih, Pak, orangnya?" "A

