"Aku berangkat dulu, ya, Umi." Aku mencium tangan umi kemudian diikuti Azka di belakangku. "Saya pinjem Salisahnya dulu, ya, Bu," ucap Azka saat berpamitan dengan umi. Umi tersenyum. "Hati-hati! Kalian ditemani setan lho." Aku terkikik, kemudian memasuki mobil Azka. Azka kini berpenampilan berbeda dari biasanya. Dia memakai celana formal berwarna hitam, dengan atasan kemeja merah maroon panjang yang digulung sampai ke lengan. Aku menutupi wajahku dengan kedua tangan, takut tergoda dengan kharisma Azka a.k.a kang santri. "Benar kata Ibumu, kalau kita ditemani sama setan." Azka menatap lurus ke depan, fokus mengemudikan mobilnya. Aku menggigit bibir. "Ustad mau tunangan sama siapa, sih?" tanyaku ragu-ragu. Kulirik dia yang tersenyum tanpa menoleh ke arahku. "Belum waktunya aku kasih t

