Aku baru bangun pukul 6.30. Sejak kemarin aku memang sedang berhalangan sehingga tidak melaksanakan solat subuh. Entahlah, Reyhan melaksanakan solat atau tidak, yang jelas aku tidak menemukannya di sofa ruang keluarga tempat dia tidur. "Reyhan!" panggilku. Di dapur juga tidak ada. "Ke mana, sih, itu anak." Aku mendengus. "Reyhan!" teriakku namun tidak ada jawaban. Padahal aku hanya ingin bertanya dia mau makan apa hari ini. Aku menghembuskan napas, kemudian mengganti pakaian tidurku dengan gamis Balotelli berwarna biru cerah berkombinasi merah, setelah itu pergi ke warung untuk membeli sayur dan beras. Aku membeli sayur kangkung, tempe, minyak goreng, bumbu-bumbu dapur, dan beberapa mie instan untuk persediaan nanti malam. Untung saja Reyhan memberiku uang 450 ribu. Kalau tidak, mung

