Solat Subuh

1050 Kata
Aku langsung terbangun begitu mendengar suara adzan subuh berkumandang. Mataku mengerjap sambil menguap melihat Reyhan yang tidur sambil mendengkur di bawah ranjang. "Ishh, kayak katak kecebur wajan." Aku bergindik jijik. Kemudian turun dan menggoyang-goyangkan tubuh Reyhan dengan kakiku. Hanya sebentar, karena aku buru-buru menghentikannya. Upss, tidak sopan. Biar bagaimanapun dia adalah suami sahku. Ih, aku bergindik-gindik kesal jika mengingat statusku sekarang adalah istrinya Reyhan. "Reyhan bangun!" Aku mengguncang-guncang tubuh Reyhan pelan. Tapi, Reyhan hanya menggeliat dengan malas. "Reyhan!" bentakku. Membuat Reyhan yang mendengkur gelagapan sampai napasnya tersendat, kemudian terbangun sambil mengucek-ngucek mata sayunya yang habis bangun tidur. "Apa?" tanyanya dengan suara serak. Aku menaikan sebelah alisku, kemudian menggeleng pelan melihat air liur Reyhan yang meninggalkan jejak di pipinya. "Bangun!" "Kenapa, sih? Aku masih ngantuk?" Reyhan menggeram lalu berbaring miring membelakangiku. Aku menghela napas. "Solat subuh." "Hmm, duluan aja." Nah, kan, dia kembali ke mode murid ngeselin. Aku jewer telinganya dengan kuat hingga Reyhan memekik kencang. "Bangun nggak?!" "Am..., ampun, Bu." Reyhan meringis kesakitan sambil memasang wajah memelasnya. Aku nyaris tertawa melihat wajahnya yang lucu. Tapi, dengan cepat aku merubah ekspresiku menjadi datar. Aku ingin terlihat berwibawa di depannya. "Jangan-jangan kamu nggak biasa solat subuh?" Reyhan tampak kikuk, kemudian bangkit dari posisinya sambil membenarkan rambutnya yang acak-acakan. Dan lihatlah, aku yang dibesarkan oleh umi dan abi penuh kasih sayang sampai menghabiskan modal yang tidak sedikit agar aku bisa menjadi perempuan yang bahagia dunia-akhirat dengan memasukanku ke pondok pesantren kemudian di kuliahkan sampai aku bisa mengajar di SMA Atlas. Tapi kenyataannya aku malah mendapatkan jodoh yang tidak sepadan, hmm maksudku Reyhan bukan cerminan dari diriku sendiri, seperti yang dikatakan oleh  pak ustad kalau jodoh itu cerminan dari diri sendiri. Aku mendengus kemudian berdiri untuk mengambil air wudhu. Sepertinya aku tidak perlu terlalu repot-repot peduli dengan jodohku yang tertukar ini. "Bu Salis," panggil Reyhan membuatku langsung berhenti melangkah kemudian menoleh ke arahnya. "Aku ikut," ujarnya kemudian melangkah menyusulku. Aku memutar bola mataku malas, lalu mulai menyalakan kran untuk berwudhu. Setelah selesai aku memiringkan badan untuk melewati Reyhan yang sedari tadi memperhatikanku tanpa berkedip. "Tunggu!" sergah Reyhan mencekal tanganku membuat aku langsung mendengus. "Reyhan, aku jadi batal lagi dong wudhunya!" Aku melotot membuat Reyhan menyipitkan mata karena aku bentak. "Maaf hehe... aku pengen diajari wudhu." Reyhan terlihat gugup. "Eh, maksudnya aku minta tolong ke Bu Salis mengoreksi cara berwudhuku sudah benar atau tidak." Aku menghela napas mencoba meredam emosi. "Berarti kamu nggak pernah solat di rumah? Bocah segede ini nggak bisa wudhu? Kids zaman now yang sok pinter tapi ternyata nggak kenal sama Tuhannya?" tanyaku beruntun yang dijawab Reyhan dengan anggukan lugu. Aku menepuk jidat. "Kemana tujuan hidupmu, Sayang." Aku buru-buru membekap mulutku sendiri karena kelepasan memanggil Reyhan dengan panggilan 'sayang'. Maklum, wajah Reyhan jika sedang memelas terlihat begitu menggemaskan. "Tujuan hidupku ya, bikin Bapak bahagia." Reyhan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Aku terdiam mendengar pengakuan Reyhan yang begitu tulus. "Yaudah cepetan sana wudhu," titahku. Reyhan mengangguk kemudian mulai berwudhu. Aku lanngsung menggetok kepalanya dengan kencang. "Masak sehabis membasuh wajah langsung kaki?" Reyhan menoleh ke arahku dengan wajah takut. "Salah, ya, Bu?" "Penyakitmu sudah kronis, sampai-sampai tidak tau caranya mensucikan diri." Aku melipat kedua tanganku di depan d**a. "Jangan galak-galak sih, Bu. Cantik banget sumpah." Reyhan menunduk. Bagaimana mungkin aku bisa tersipu malu mendengar ucapan itu? Semoga saja wajahku tidak memerah sekarang. "Lalu sehabis wajah apa, Bu?" Aku langsung terbangun dari lamunan. Kemudian menjawab pertanyaan Reyhan. "Sehabis wajah, tangan, rambut, telinga, lalu kaki." Reyhan mengangguk kemudian mempraktikkan apa yang sudah aku ajarkan. Lelaki itu tersenyum ke arahku. "Betul, kan, Bu?" Aku menelan ludah. Lihatlah suamiku Ya Tuhan, lenyapkan dia dan gantikan dia dengan kang santri. Aku berbalik badan untuk keluar dari kamar mandi. Tapi lagi-lagi Reyhan mencekal tanganku. "Tunggu, Bu!" "Apa lagi?" Aku menoleh ke arahnya. "Bu Salis nggak wudhu lagi? Katanya tadi wudhunya batal karena sudah aku sentuh?" "Masyaallah, aku lupa!" Aku langsung mengambil air wudhu di sebelah Reyhan setelah sebelumnya berkata. "Kamu juga harus wudhu lagi karena sudah menyentuhku." "Owh, iya, lupa." Reyhan menepuk jidatnya kemudian tertawa. "Berarti kita jodoh, ya, Bu Salis? Sama-sama pelupa." Uhkk... Uhkk... Aku tersedak air pada kran saat berkumur-kumur. Ya Tuhan, tabahkanlah hambamu ini!!! *** Karena Reyhan tidak bisa menjadi imam, dan punya poin plus berupa lupa bacaan solat karena sudah bertahun-tahun tidak melaksanakannya. Akhirnya aku mengajak Reyhan untuk solat berjamaah bersama Reyhan di mushola dekat rumahku. Aku menunggu Reyhan di serambi mushola karena laki-laki itu tidak kunjung keluar setelah solat berjamaah selesai. Ya ampun aku terlihat seperti ibunya Reyhan daripada disebut isitrinya. Kenapa sih aku malah dikaruniai seorang anak? Padahal aku sedang mendambakan laki-laki terbaik seperti kang santri yang datang ke rumah sambil membawa kuda besinya untuk melamarku. Pandanganku beralih ke arah ibu-ibu yang menatapku sinis saat hendak pulang ke rumah. Aku sedikit risih ditatap seperti itu, seolah aku adalah bangkai busuk yang tidak pantas menampakan diri di depan masyarakat. "Mereka belum tentu suci dari kamu," ucap sebuah suara di belakangku. Aku langsung menoleh dan menemukan abi di sana. "Air tak perlu menunjukan dirinya suci. Mawar tak perlu menunjukan dirinya anggun. Dan, matahari tak perlu menunjukan dirinya perkasa. Apalagi ketabahanmu yang lebih suci, yang lebih anggun, dan lebih perkasa dari semua itu." Aku menatap abi dengan mata berkaca-kaca. "Tak perlu menunjukan siapa dirimu, karena orang yang menyukaimu tak butuh itu dan orang yang membencimu tidak akan peduli itu." "A..., Abi?" lirihku dengan bibir bergetar. "Tapi dengan aku menikah sama Reyhan. Orang-orang semakin yakin kalau aku memang benar melakukan hal senonoh kepada murid, dengan bukti aku rela dinikahi laki-laki dibawah umur, Abi? Abi tau kan, kalau itu cuma salah paham?" Abi menghela napas sambil mengusap-ngusap puncak kepalaku yang tertutup oleh mukenah. "Semoga Abi diberi hidayah untuk bisa percaya sama kamu." Aku ingin menangis rasanya. "Sekarang Salis harus menerima penderitaan ini seumur hidup karena dijodohkan dengan Reyhan. Laki-laki dari planet lain yang tidak pernah diharapkan menjadi isi dunia Salis." Abi berdiri sambil membenarkan sorbannya lalu melangkah meninggalkanku. "Bangunkan suamimu yang ketiduran di shaf paling belakang," ucap beliau sebelum pergi. Aku menggeram frustasi. Dosa tidak, sih, memperlakukan suami seperti murid bandel di sekolah? Lagipula dia juga alumni murid bandel. Aku masuk ke dalam mushola kemudian menemukan Reyhan yang tidur dengan posisi duduk. "Reyhan, bangun!" Reyhan langsung tersentak kemudian mendongak ke arahku dengan wajah kaget. "Udah mulai solatnya?" "Masyaallah. Jadi kamu nggak ikut solat berjamaah?" Reyhan menggeleng. Ingin kuteriakkkkkkk!!! Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN