bc

My Wife is My Healer

book_age16+
485
IKUTI
2.0K
BACA
billionaire
mate
goodgirl
independent
confident
inspirational
CEO
doctor
sweet
priest
like
intro-logo
Uraian

Dua insan bertemu di suatu keadaan yang bisa dikatakan, ya sangat tidak pas. akan tetapi, pertemuan itu menjadi saksi bisu dari perjalanan mereka. Redhiza Haryadi Utomo adalah seorang CEO dari perusahaan ayahnya sendiri sedangkan Atifa Shayla Dyvette adalah seorang dokter. Akankah dua insan ini akan berlabuh lebih dalam lagi?

chap-preview
Pratinjau gratis
1 - First Time?
Mobil Atifa membelah kedamaian jalan malam ini dan ditemani oleh lagu dari Bryan McKnight nya yang berjudul One Last Cry. Entah mengapa rasanya ketika mendengar lagu ini dapat membuatnya relax. "Wishing all my feeling was goneee." Atifa berkaraoke ria sambil membelokkan mobilnya ke gas station untuk mengisi bahan bakar mobilnya dan membeli snacks di supermarket gas station ini. Atifa menekan tombol untuk membuka tangki bensin mobilnya, lalu turun dan membayarnya di kasir supermarket tersebut sambil membeli snacks nya. Setelah selesai, Atifa membawa satu paper bag besar yang berwarna cokelat dan menaruhnya di bangku penumpang mobilnya. Atifa menaruh selang tangki bahan bakarnya di tangki minyak mobilnya dan kemudian menekan nominal untuk membeli bensinnya. Sembari menunggu, Atifa mengamati kukunya dan sesekali mengamati angka yang ada di mesin minyak tersebut. Tak lama kemudian, ia mendengar suatu hantaman yang terdengar begitu mengejutkan dari arah belakangnya. Sebuah bunyi 'cetek' menandakan bahwa minyak sudah terisi sebanyak yang ia minta. Atifa langsung mengembalikan selang minyak tersebut dan menutup tangki mobilnya.Atifa langsung berlari ke arah sebuah hantaman tersebut terdengar. Ia mengamati mobil yang berlalu kencang dan sedikit berkelok-kelok. "Woy! Berhenti!" teriak Atifa. Tapi sayang suaranya hanya bisa ia dengarkan seorang diri. Atifa langsung mengamati seseorang yang sudah tergeletak di tengah jalan dengan muka yang sudah bersimbah darah. "Aduh mana nggak kuat lagi bawanya." Atifa mencoba menggendong lelaki tersebut. Atifa masih berusaha untuk menggendongnya tapi nihil. Atifa mengambil inisiatif, untuk langsung menelfon ambulans. Ketika ia sedang menelfon, sebuah mobil menghampirinya lalu turun seorang lelaki dengan kemeja yang lengan bajunya sudah disikut dan memakai flip flop dan masih menggunakan kaos kaki. Dan Atifa pun mengurungi niatannya untuk menelfon ambulans. "Cepat bawa dia ke rumah sakit!" Titah lelaki tersebut. *** Ini sudah larut malam. Redhiza memutuskan untuk kembali ke rumahnya dan langsung menghubungi supir pribadinya untuk segera menjemputnya. Tak lama kemudian, mobilnya sudah terparkir sempurna di depan lobi kantornya yang dimana kantor ini ia menjabat sebagai CEO nya sekaligus anak yang punya perusahaan ini. Redhiza langsung masuk ke dalam mobil dan langsung memerintahkan kepada supirnya agar langsung pulang ke rumahnya. Dalam perjalanan, Redhiza mengusap kasar wajahnya karena urusan kantor yang tak akan mungkin pernah selesai. Redhiza mengaktifkan mobile phone nya dan langsung diserbu oleh 10 missed call dari Clara, mantan pacarnya. Redhiza mengabaikan missed call nya Clara dan kemudian masuk notifikasi dari mamanya. Redhiza langsung membalasnya dan mengatakan bahwa ia sudah dalam perjalanan pulang ke rumah. Ketika selesai me-reply hal yang penting saja, Redhiza kembali menon-aktifkan mobile phone nya. Redhiza menatap keadaan malam dari jendela mobilnya. Tak lama kemudian, ia melihat seorang perempuan yang sedang membantu seseorang untuk digendongnya dan menampakkan wajah lelaki yang akan digendongnya tersebut sudah berdarah-darah. "Pak minggir sebentar, sepertinya ada yang kecelakaan." Redhiza membuka auto-lock mobilnya. "Tapi den, ini sudah malam. Jangan terlalu mempercayai adegan seperti itu." Cegah supirnya, Pak Man. "Tapi ini darurat Pak. Kalau gitu, bapak ikut turun temani saya. Bagaimana?" Tawar Redhiza yang kemudian mendapat anggukan dari Pak Man. Redhiza menggulung lengan bajunya ketika ia turun dari mobil dan hanya menggunakan flip flop. Redhiza mendekat ke arah mereka, "Cepat bawa dia ke rumah sakit!" Perempuan tersebut mendongakkan kepalanya, "Bantuin. Saya dari tadi nggak sanggup untuk gendongnya." "Siapa yang suruh gendong? Kenapa nggak panggil ambulans?" Perempuan tersebut mendengus, "Bukan waktu untuk berdebat. Sekarang bantu aku untuk membawa korban ini ke mobil saya dan saya akan membawakannya ke rumah sakit tempat saya bekerja." Redhiza langsung mengangguk dan menggendong lelaki tersebut ke mobil perempuan itu, yang diikuti oleh perempuan tersebut. Redhiza langsung mengambil alih untuk menyetirkan mobil perempuan tersebut menuju rumah sakit yang perempuan itu tuju. "Biar saya aja yang bawa. Terima kasih sudah membantu." Atifa berjalan ke bangku kemudinya tetapi, lelaki tersebut lebih duluan masuk ke bangku kemudi. "Cepat masuk. Saya tidak akan membiarkan perempuan sendirian untuk mengurus hal semacam ini. Ini sudah larut." *** "Kamu siapa?" tanya Atifa ketika ia sedang memangku korban lelaki tersebut sambil menutup lukanya agar darahnya tidak terus menerus bercucuran. Redhiza masih berfokus untuk menyetir, sehingga Atifa yang merasa di kacangin hanya bisa berdeham sebagai kode. "Berhenti untuk berisik. Biarkan saya fokus menyetir." Atifa hanya bisa duduk diam di bangku penumpang di belakang dan sesekali melihat kearah korban tersebut. "Emangnya kamu tau dimana rumah sakit yang saya maksud?" Redhiza menatapnya dari kaca spion tengah, "Tidak." Atifa mendengus, "Kalau kamu enggak tau, seenggaknya kamu bertanya." "Katakan cepat." "Baiklah, rumah sakit yang paling dekat dari sini." Tak lama kemudian, Redhiza langsung memberhentikan mobil Atifa di depan lobi rumah sakit, di tempat Atifa bekerja. Redhiza langsung berteriak memanggil suster dan menyuruh suster tersebut untuk membawakan sebuah brankar. Tak lama kemudian, sebuah brankar dan ketiga suster datang dan langsung mengangkut korban tersebut menuju unit gawat darurat. Atifa langsung kembali ke mobilnya dan mengambil jas dokternya lalu memakainya. Redhiza yang melihatnya hanya bisa bingung. "Kamu yang akan memeriksanya?" Atifa langsung mengangguk. "Jangan banyak tanya, kalau lapar tadi aku beli jajanan. Tapi kalau kamu mau sih, kalau nggak ya nggak papa." Ucap Atifa dan berlari pergi dan kemudian kembali menemui Redhiza, "BTW, makasi udah bantuin." Ucap Atifa yang kemudian ia berlari lagi. Redhiza hanya bisa menatap kunci mobil yang ia pegang, "Terus, kuncinya mau diapain?" Redhiza mengusap wajahnya kasar dan memilih untuk memarkirkan mobil perempuan tersebut di tempat VIP dan masuk ke dalam rumah sakit untuk menunggu kabar dari korban tersebut. Redhiza mengambil mobile phone nya dan mengaktifkannya kembali untuk menghubungi Pak Man bahwa dia sekarang ada di rumah sakit dan memerintahkan agar Pak Man dapat kembali ke rumah. ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.5K
bc

TERNODA

read
199.4K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.4K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.4K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
71.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook