2 - Menungu dan si 'Terung Belanda'

1278 Kata
Kursi panjang yang ada di lorong ini menjadi tempat Redhiza terlelap untuk menunggu Atifa karena kunci mobilnya tersebut. Ingat hanya menunggu perempuan itu karena KUNCI MOBIL PEREMPUAN ITU. Tidak lebih dan tidak kurang. Atifa yang melihatnya hanya bisa menggeleng – gelengkan kepalanya melihat lelaki tersebut. "Bangun." Atifa menggoyangkan badan Redhiza dengan pelan dan alhasil Redhiza pun tak kunjung bangun dari tidurnya. Merasa kesal, Atifa dengan cara yang tak lazim yaitu langsung mendudukkan Redhiza dengan kekuatannya sendiri dan menepuk-kan pipinya. Redhiza yang merasa terusik dan terkejut, langsung sadar dan membuka-kan matanya. "Ada apa?" "Kamu tertidur di sini dan mengambil banyak tempat, yang dimana seharusnya keluarga pasien bisa duduk, tapi terhalang badan mu." "Saya minta maaf. Saya hanya kelelahan. Gimana keadaan korban?" "Sebelum kamu mengetahui kondisi korban, lebih baik kamu mengetahui kondisi mu. Lihat bahkan kantung matamu terlihat terlalu cekung dan hitam." Redhiza menggeleng, "Saya baik-baik saja." Tiba – tiba sebuah suara mengagetkan mereka berdua. "Redhiza? Kamu ngapain disini?" Tanya seorang dokter yang dimana adalah senior Atifa. "Dokter Diva kenal sama ini orang?" Tanya Atifa yang sedikit bingung. "Kamu gimana sih tif, ini adik saya, Redhiza namanya. Kamu ngapain di sini Dhiz? Kamu sakit?" Atifa langsung mengernyitkan kedua alisnya karena masih bingung dengan semua ini. dunia ini sempit geng! "Aku gak papa kak. Cuma bantuin dia aja untuk antar pasien ke sini dan kami jumpanya juga di jalan kok." Redhiza tersenyum kikuk seperti anak laki – laki kecil yang takut dimarahi. "Oh gituu.. yakin Cuma itu aja?" "Yakin!" jawab mereka serempak dan kemudian mereka toleh menoleh bertiga. "Okey, jangan diserbu dong aku nya. Kalau gitu, tinggal dulu ya." Atifa memilih untuk untuk duduk di kursi disamping Redhiza sambil membuka jas dokternya. Mereka pun dilanda kediaman hingga akhirnya Atifa memutuskan untuk berbicara, "Dokter Diva itu humble orangnya, tapi kok beda ya nggak kayak kamu." Redhiza menatap Atifa dengan tatapan kesalnya, "Jadi nggak meriksa saya nya?" Atifa semakin menatap bingung lelaki disebelahnya dan membatin, 'percuma ganteng dan good looking tapi kalau ditanya malah dijawab dengan pertanyaan juga, hft' Redhiza bangkit dan menatap Atifa yang sedang duduk, "Dimana?" "The left way." Redhiza meninggalkan Atifa yang masih terduduk d ikursi tersebut. 'dan satu lagi, percuma dia pefect kalau gengsi-an dan sok ketahuan. Dasar.' batin Atifa sembari melihat Redhiza berjalan dengan percaya dirinya. Atifa pun langsung beranjak menuju ruangan kerjanya. Sesampainya di depan pintu ruangan kerjanya, ia melihat ke arah Redhiza yang berada di depan ruangan kerjanya Dokter Suhendra. Atifa yang melihatnya hanya bisa cekikikan. "Ngapain?" Atifa hanya bisa menahan tawanya. "Ke ruangan Anda tapi?" Jawabnya dengan santai. "Coba lihat ke atas. Itu namanya siapa?" Kali ini tawaan Atifa membludak melihat ekspresi lelaki tersebut. "Hanya salah ruangan. Tidak jadi masalah. Cepat masuk saya tidak punya waktu lama." Redhiza memasang wajah stay cool nya dan berjalan kearah Atifa. Atifa membuka pintu ruangan kerjanya dan menghidupkan lampu. Atifa langsung mengambil buku catatan untuk pasien dengan maksud agar mudah untuk didata dikemudian hari nantinya. "Nama?" Atifa menunggu jawaban dari Redhiza yang dimana ia masih saja berdiri dan memandang sekitar. "Ini ruangan mu?" Atifa menatapnya, "Ada yang salah?" "Tidak, cuma sedikit lebih berwarna dari biasanya dan ada mainan anak-anak juga." Ucap Redhiza sambil memerhatikan seisi ruangan Atifa. "Duduk. Siapa nama Anda?" Atifa menegaskan suaranya. "Untuk?" Atifa berdeham untuk membersihkan tenggorokkannya, "Professional please." "Redhiza." "Kalau hanya nama pendek, saya sudah mengetahuinya ketika Dokter Diva memanggil namamu tadi." "Redhiza Haryadi Utomo." Setelah Atifa selesai menulis namanya, ia langsung mengambil stethoscope dan alat tensi. Atifa langsung mengangkat sebelah tangan Redhiza dan menuntunnya menaruh di atas meja kerjanya. Kemudian ia melilitkan manset dan mengikatkan dengan kencang namun tidak terlalu kendur. Ia lalu memompa nya dan kemudian membuka klepnya dengan arah yang berlawanan dengan arah jarum jam. Atifa yang sedang memakai stethoscope nya dengan seksama mendengarkan denyut tekanan darah. "Lama sekali." "Ssstt. Aku sedang mendengarkan denyut tekanan darah mu." Ucap Atifa sambil berfokus mendengarkan denyut nadi Redhiza. Atifa kembali memompa dan membuka klep nya. Ketika ia sudah berhasil membaca tekanan darahnya, ia langsung membuka stethoscope nya dan melepas lilitan manset. "Hipotensi, 80/120mmHg." tukas Atifa seraya merapikan stethoscope dan alat tensinya. "Terus, apa yang harus saya lakukan?" Tanya Redhiza dengan rasa sedikit khawatir. "Beristirahat yang cukup, perbanyak makan sayuran dan satu lagi." Atifa bangkit dari kursinya dan mengambil sebuah jus terong belanda yang berada di atas nakas yang memang setiap hari menjadi minuman paginya. "Minum ini. ini dapat membantu Anda untuk menaikkan darah rendah." Redhiza hanya menatap minuman yang dikasih oleh Atifa tersebut. "Harus?" Atifa mengangguk tegas, "Cepat. Aku tidak mau mendengar bahwa besok adiknya Dokter Diva yang bernama Redhiza berbaring lemas di rumah." Redhiza mengambil minuman tersebut dan mengendus terlebih dahulu minuman tersebut. Atifa hanya memerhatikannya dan melipatkan kedua tangannya di d**a. Membutuhkan waktu sepersekian detik untuk menyaksikan Redhiza mengendus minuman tersebut. "Kalau Anda tidak mau nggak apa. Kemarikan gelas itu." "Aku akan meminumnya." Redhiza langsung meneguk habis minuman yang bernama terong belanda tersebut. "Aku sarankan hari ini untuk tidak bekerja dulu. Beristirahat sejenak." Redhiza mengangguk dan langsung keluar dari ruangan Atifa tersebut. Ia menatap kembali nama yang tertera diatas pintu ruangan kerja Atifa, "dr. Atifa Shayla Dyvette." Ulangnya dan sedikit tersenyum ketika mengulang kembali nama tersebut. *** Atifa membereskan semua buku dan peralatan tulis nya yang berserakan di meja dan memasukkan kembali barang barang yang ia keluarkan dari dalam tasnya. Setelah selesai, Atifa menggantungkan jas dokternya di kursi kerjanya. Atifa langsung turun ke parkiran dan mengambil kunci mobilnya. Seketika ia panik, karena tidak ditemukannya kunci mobil tersebut. Atifa terus mencari dan meng-obrak-abrik isi tasnya. Seketika, ia teringat bahwa kunci mobilnya ada sama.. REDHIZA. Sialan! Atifa memikirkan seribu cara agar dapat menghubungi orang tersebut dan akhirnya ia menemukan cara. Ia langsung beranjak untuk menemui Dokter Diva dan langsung menanyakan dengan sopan nomor telefon adiknya tersebut ketika mereka berjumpa di lobi rumah sakit. "Dokter Diva, aku tau ini stupid things. Tapi aku benar benar membutuhkan nomor telefon adikmu, Redhiza." Diva hanya bisa menatapnya bingung, "Atur dulu nafasmu baru berbicara Tifa, ada apa?" "Ok-" Atifa menetralkan laju pernafasannya, "Kunci mobil saya ada sama adik dokter dan sekarang saya nggak bisa pulang kak Div." Jelas Atifa yang sudah sedikit panik. "Kalau soal nomor, dia dong yang cari tau untuk kamu. Masak kamu sih yang nyari." Diva terkekeh setelah menggoda Atifa. "Saya suruh aja dia ke sini dan membawakan pesanan mu, ok? Kamu hanya perlu menunggu di cafeteria." Atifa mengangguk dan bernafas sedikit lega. "Saya tinggal dulu ya Tif? Lagi banyak pasien." "Makasi dokter!" teriak Atifa ketika Diva sudah beranjak pergi. *** Redhiza datang untuk menemui Atifa sesuai dengan amanah yang diberikan oleh kakaknya. Redhiza menyapu kesetiap sudut di cafeteria ini. dan sampai akhirnya ia melihat seorang wanita yang sedang tertidur dengan tangannya sebagai bantal. "Hey, bangun." Atifa yang mendengarkannya langsung terbangun dan menatap tajam ke arah pria yang ada didepannya saat ini. "Mana kunci mobilnya?" "Kunci mobil?" Tanya Redhiza sambil menautkan alis matanya, "Kunci mobil siapa- ASTAGA!" "Jangan bilang kalau nggak bawa kuncinya." "Beneran gak bawa. Soalnya kak Diva bilang aku hanya disuruh untuk menemui mu." Atifa kembali menundukkan kepalanya dan merengek layaknya anak kecil. "Jadi gimana saya pulangnya?!" Redhiza memikirkan jalan keluarnya. "Saya antar aja dan mengingat kamu belum ada beristirahat sejak tadi malam, itu akan beresiko nantinya." "Dan soal uang parkir, aku akan bertanggung jawab." Tambahnya. Atifa menatapnya sinis, "Saya lebih baik pulang naik transportasi online kalau kaya gini ceritanya." Redhiza bangkit dan menarik paksa tangannya Atifa, "Kalau kamu kenapa-kenapa, maka saya yang akan dimarahi kak Diva nantinya." Mau tak mau, akhirnya Atifa mengikuti tarikan tangannya oleh Redhiza. "Alamat saya di Bumi Asri residence no 6. Saya tidur dulu." ucap Atifa ketika ia sampai di mobil Redhiza. Redhiza pun hanya bisa menghembuskan nafasnya dan membantu untuk memasangkan safety belt untuk Atifa. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN