3 - Bi Jum

1444 Kata
Redhiza memarkirkan mobilnya di depan rumah yang berwarna cokelat dengan angka 6 yang terpampang di depan rumah tersebut. Redhiza membantu untuk melepaskan safety belt Atifa kembali dan membangunkannya perlahan. Namun tampaknya hanya dia dan angin dari AC yang mendengarkannya. Redhiza ingin menggendongnya untuk masuk ke dalam rumah, tapi memikirkan bagaimana nanti ketika ayah dan ibunya melihat anak perempuannya digendong sama orang asing? Bisa-bisa dicap PK lagi. Redhiza pun memilih untuk turun dan menekan bel rumah Atifa. Tak lama kemudian, keluar seorang bibi dengan kain lap yang menggantung di pundaknya. "Cari siapa den?" Tanya bibi tersebut sambil menggantungkan gembok pagarnya di pagar. "Enggak nyari siapa-siapa bi. Saya kawannya Atifa." "Oh kawannya non Atifa. Tapi non Atifanya belum pulang den." Redhiza menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal, "Iya bi, justru karena itu bi saya kemari." Bibi itu menunggu penjelasan dari Redhiza, "Terus den? Saya nggak ngerti, den-nya ngomong muter-muter. Pening kepala bibi jadinya." Redhiza menahan nafas nya sebentar lalu dibuangnya, "Atifa lagi ada di mobil saya dan saya minta bantuin untuk bawa dia ke dalam bi." "Oh, bilang toh den. Dikirain kenapa. Kenapa enggak den-nya aja yang gendong non Atifa?" "Saya takut." Bibi tersebut tertawa, "Kenapa takut den? Yaudah kalau gitu bibi panggilkan den Altaf, adiknya non Atifa." Redhiza mengangguk. Tak lama kemudian seorang anak lelaki dan bibi tersebut keluar untuk menemui Redhiza, "Dimana kakak gue?" "Di mobil." Redhiza membawa jalan untuk ke mobilnya. Altaf langsung menggendong Atifa yang sedang tertidur itu, "Lo apain kakak gue?" "Saya nggak nyakitin kakak kamu kok. Tenang, tanya aja sama kakak kamu nanti. Saya pulang dulu, permisi." Altaf langsung mengangguk. *** Atifa menggeliat di tempat tidurnya dan membuka matanya perlahan. Ia mengumpulkan semua nyawanya dan kemudian memilih untuk duduk dipinggiran tempat tidurnya. "Tadi kayaknya aku dimobil Redhiza, terus kenapa bisa disini?" Atifa menghembuskan nafasnya dan membelalakkan matanya, "Jangan-jangan gue digendong sama dia?!" Atifa berlari untuk mencari bibi nya dan sambil berteriak, "Bi Jum!!" Bi Jum yang mendengar teriakan langsung berlari ke sumber suara, "Ada apa non?" "Tadi yang ngantar Tifa siapa, Bi?" "Oh tadi ada den ganteng non." Bibinya tersenyum malu. "Siapa namanya bi?" Bibinya berusaha untuk mengingat namanya, "Kayaknya tadi den –nya nggak ada kenalin dirinya non. Dia cuma bilang kalau dia temennya non." Atifa menghembuskan nafasnya, ketika mendengar penjelasan Bi Jum. "Terus kenapa Tifa bisa di dalam kamar, Bi?" "Ya digendong la non. Pulaknya non tidurnya lelap banget. Bahkan udah digendong pun non nggak sadar juga." Atifa tertawa miris, "Yang gendong bibi kan?" "Enggak la non. Non ini ada ada aja. Mana sanggup bibi gendong non. Badan bibi aja cungkring kayak begini." 'tolong tuhan jangan sampai dia yang gendong' "Jadi, siapa Bi?" Bi Jum tertawa sambil mendelik-delik-kan mata menggodanya melihat Atifa, "Penasaran ya non? Berharap den ganteng ya yang gendong?" "Bibi Jum, dengerin Atifa. Atifa baru ketemu sama dia tadi malam dan kami sama sekali enggak ada hubungan apa-apa bi. Percaya sama Atifa dan jangan kasih tau mama papa dulu ya bi soal ini" "Iya non Tifa yang cantik. Tadi malam yang gendong non, den Altaf kok non." Definisi Atifa bisa bernafas lega, "Makasi ya, Bi." *** Redhiza memarkirkan mobilnya di sebuah lobi restoran mewah di kota ini. ia memberikan kunci mobil ke vallet. Redhiza langsung masuk dan menyapu pandangan nya ke arah pacar-yang tak-diinginkannya itu. "Redhiza. Sini." panggil Clara excited sambil melambaikan tangannya ke arah Redhiza. Redhiza membalikkan bola matanya, "Again and again." ucapnya pelan. Redhiza menarik kursi dan duduk di depan Clara, "Ada apa kamu ingin bertemu dengan ku disini?" "Oh ayolah Redhiza, kita ini couple. Sebuah makan siang bersama bukan hal yang salah kan?" "Look, Clara. Aku nggak punya banyak waktu." "Kenapa? Sekarang kamu sudah memiliki kekasih yang baru? Sehingga kamu tak punya waktu dengan ku?" Redhiza menutup matanya, "Stop it." "Kemana kamu kemarin? Kenapa kamu tidak membalas WA ku?" "Aku sibuk dan pekerjaan ku banyak." Clara membalikkan matanya keatas, "Kerja,kerja,kerja. Klise sekali alasanmu." Redhiza bangkit dari duduknya, "Kalau kamu tidak suka orang seperti ku, cari yang lain. Aku juga udah muak dengan mu. Hubungan kita berakhir di sini, pergi dan jangan temui aku lagi." Redhiza beranjak dan bergegas pergi dari restoran ini. "Redhiza!!" Teriak Clara yang membuat semua orang yang berada di restoran itu menatap wanita yang sedang meneriakkan nama Redhiza. Clara yang merasa menjadi pusat perhatian, hanya bisa merasa bodo amat dengan semua tatapan mata mereka. *** Kebiasaan Atifa sejak dulu, selalu duduk di teras belakang rumahnya yang lebar sambil menikmati sunset ditambah dengan segelas s**u hangat yang menemaninya dan beberapa buku kedokterannya. Atifa selalu membaca bukunya setiap hari untuk menguatkan ingatannya. Aldof yang melihat putrinya berada di teras belakang rumahnya, berjalan untuk menemuinya "Bagaimana dengan kerjaan mu, nak?" "Oh papa, Alhamdulillah semuanya baik-baik saja." Atifa tersenyum tulus ke ayahnya. "Gimana kamu mau ngelanjutin S2 atau spesialis nggak?" "Rencananya ada, Pa. Cuma kayaknya istirahat dulu deh." "Jangan kelamaan. Ntar nikahnya jadi lama." "Iiih papa apaan sih, masalah itu kayaknya nanti deh." "Jangan lama-lama, papa sama mama mau cepat gendong cucu." Ayahnya tertawa mendengar ucapannya sendiri lalu beranjak pergi dan Atifa hanya bisa tertawa datar. Atifa tiba-tiba kepikiran soal menikah. Gimana kalau tiba-tiba ada seseorang yang ngelamar dia terus nikah terus di malam pertama mereka... dan.... CUKUP. Atifa menggeleng gelengkan kepalanya cepat. Altaf yang baru saja pulang futsal bersama kawan kuliahnya langsung berjalan ke arah Atifa karena melihat kelakuan aneh dari kakaknya. "Kak? Kenapa?" Atifa langsung berhenti dan melihat ke sumber suara, "Enggak papa hehe." "Tadi siang ada yang nganterin kakak, siapa dia?" "Oh, Redhiza namanya." "Kakak nggak kenapa-kenapa kan?" Atifa bangkit dari duduk nya dan memeluk adiknya itu, "Ululu manisnya. Kakak gak papa kok." Altaf melepaskan pelukannya, "Altaf lagi keringetan kak. Yaudah deh, Altaf mandi dulu, babay kak.” *** "Tema kita untuk tahun ini adalah The Most Influentical Person of The Year 2017." Ucap Redhiza ketika ia dan tim nya sedang rapat untuk membicarakan tentang acara yang mereka buat untuk memperingati hari jadi perusahaan Redhiza. "Jadi itu gimana mekanisme nya Dhiz?" tanya Aqeel yang dimana adalah sekerearisnya Redhiza di kantor. Redhiza sengaja memilih seorang lelaki sebagai sekretarisnya, agar anti-klise. "Ok jadi mekanismenya, kita akan mengambil 10 orang yang bekerja. Apapun itu pekerjaannya. Kita syuting mereka untuk membuat profil masing masing lalu kita adakan online voting." Redhiza menatap semua anggota timnya, "Ada yang ingin bertanya?" Laura mengacungkan tangannya, "Ketika kita syuting mereka Pak, apa yang akan kita wawancarai Pak?" "Tentang itu, kita akan menanyakan biodata mereka dan salah satu ide mereka untuk bisa mengubah hidup orang menjadi lebih baik lagi." "Seperti ide untuk kebaikan bagi banyak orang pak?" Tanya Laura. "That's it!" Redhiza menggenggam telapak tangan nya sendiri, "Soal pembagian peserta, kita disini pas ada 10 orang dan kita bagi mejadi satu orang mendapat jatah 1 orang. Syuting akan dimulai lusa, ok?" "Siap Pak." Ucap mereka serempak. "Baik, sampai di sini saja rapat kita kali ini dan sudah bisa mulai bekerja mulai sekarang." *** Atifa bergegas ke kamar Altaf dan membangunkannya ketika ia sampai di dalam kamar Altaf. "Altaf antarin kakak kerumah sakit dong." Atifa menggoyang-goyakan badan Altaf untuk membangunkannya. "Mobil kakak dimana? Naik transportasi online aja deh kak. Masih ngantuk." Atifa pun kembali keluar dari kamar nya Altaf. Ia langsung membuka mobile phonenya dan segera memesan transportasi onlinenya. Ketika ia sedang mencari lokasi yang akan ia tuju, suara ibunya terdengar sedang memanggil nama-nya. "Tifa, ada yang datang tuh. Buruan turun." "Siapa sih? Ganggu aja." Ucapnya monolog dan pelan. "Iyaa ma." Atifa pun langsung bergegas untuk menuruni anak tangga rumahnya. Ketika ia sampai di lantai bawah, ia melihat Redhiza sudah duduk di ruang tamunya. Yang lebih mengejutkannya lagi, ia sedang berbicara dengan ayahnya. Atifa segera menemui ibunya yang berada di ruang TV, "Mama kenapa mama biarin dia masuk?" "Kamu gimana sih Tifa? Diakan tamu. Masa nggak kita kasih masuk." Atifa tersenyum karena tidak ingin berdebat, "Oke mama. Tifa ke depan dulu.”Atifa berjalan menemui ayahnya dan Redhiza. Ketika ia sudah menunjukkan wajahnya, ayahnya duluan lah yang membuka pembicaraan. "Tifa ini kawannya udah datang. Katanya mau jemput kamu ke rumah sakit." "Papa udah tau soal kunci mobil Tifa?" Aldof mengangguk, "Udah cepat pergi, nanti terlambat." Atifa mengangguk dan berpamitan sama ibu dan ayahnya begitu juga dengan Redhiza. Ketika selesai berpamitan, ia langsung menarik tangan Redhiza untuk segera pergi. Sesampainya dimobil, Atifa menatap kesal kearah Redhiza, "Ada apa?" Tanya Redhiza dengan tenangnya. "Ada apa kamu bilang? Kamu udah buat kesal ya pagi-pagi. Kunci mobil aku mana? Kenapa kamu yang jemput?" Redhiza tidak menanggapi ucapan Atifa barusan. Ia hanya bersibuk untuk menghidupkan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya. Atifa pun melipat kedua tangannya di dadanya. "Masih pagi nggak boleh marah-marah dan nggak boleh banyak tanya. Aku bawa kok kunci mobil mu. Jadi sekarang tenang dan nikmati aja jalannya." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN