Sesampainya di rumah sakit, Redhiza mengikuti kemana Atifa berjalan. Atifa merasa risih dikarenakan seluruh mata yang ada di kursi tunggu, melihat ke arahnya dan Redhiza. Ralat. H A N Y A Redhiza saja.
Atifa memberhentikan langkahnya dan memutar bola matanya, "Stop. Berhenti." Redhiza menahan tawanya sedangkan Atifa hanya memandangnya kesal, "Ada yang lucu?" Dan kali tawaan Redhiza terkeluarkan, "Stop dan berhenti itu sama aja artinya." Atifa yang mendengarkan tawaan Redhiza hanya bisa melipat kedua tangannya di d**a dan menunggu hingga lelaki itu bisa diam.
"Udah ketawanya?"
Redhiza langsung terdiam dan kemudian melanjutkan tawaan-nya. Atifa menghentakkan kakinya lalu pergi meninggalkannya, "Freak." ucapnya pelan. Redhiza yang melihat perempuan itu sudah meninggalkannya, ia langsung mengejarnya, "Tunggu dok."
Atifa langsung membuka pintu ruang kerja nya dan diikuti oleh Redhiza yang dengan cepat ia langsung masuk sebelum Atifa menutup pintunya. Alhasil, Redhiza tak sengaja menabrak Atifa dan membuat Redhiza langsung memeluk Atifa dan melindungi kepala Atifa serta pinggang Atifa. Redhiza pun menindih tubuh Atifa.
Mereka terdiam untuk sepersekian detik dan saling tatap menatap. Redhiza melihat wajah Atifa yang sedikit ketakutan dan shock. “Kamu nggak papa kan?”Tanya Redhiza yang benar-benar khawatir. Atifa hanya bisa showing her stunned face karena melihat wajah Redhiza yang terlalu dekat. 'Redhiza kok cakep.' kali ini otak Atifa lah yang berbicara bukan batinnya lagi.
Atifa langsung menggeleng - gelengkan kepalanya dan mendorong tubuh Redhiza sekuat tenaganya. Ia berdiri dan merapikan bajunya lalu berteriak. Redhiza langsung membungkam bibir Atifa dengan tangannya dan menutup pintu ruang kerja Atifa. Redhiza menarik tangannya, "Saya em-" Redhiza menggaruk tengkuk lehernya, "Saya nggak sengaja. Saya minta maaf."
"Penjahat kelamin!"
"Hah, siapa?"
"Ya kamu lah! Lagian ngapain sih ngebet kali mau masuk juga!"
"Saya kan udah minta maaf."
Atifa mengambil buku kedokterannya yang ada di atas meja dan memukulkannya ke lengan Redhiza, "Keluar Redhizaa!" Redhiza hanya mematung di tempat. Tak perduli kalau dia sudah dipukul berkali-kali dengan buku setebal itu. "Saya akan keluar, jika kamu berhenti berteriak dan memaafkanku."
Atifa memberhentikan teriakannya dan aksinya. "Ok, saya udah maafin, sekarang keluar."
"Ok then. I am- out." Redhiza mengucapkan nya dengan kikuk dan langsung keluar dari ruang kerja Atifa. Lalu ia membuka sedikit pintu ruangan Atifa kembali dan menongolkan wajahnya, "I'll drive you home tonight." Lalu ia menutup kembali pintu ruangan Atifa.
Setiba nya diluar dia hanya bisa tersenyum sendiri sambil mengusap tengkuk lehernya karena masih terngiang akan kejadian tadi, "Sometimes she looks so cute."
***
Atifa memangku wajahnya dengan tangannya yang berada di atas meja. Seketika ia menyunggingkan senyumannya ketika ia mengingat kejadian tadi pagi menuju siang itu. "Lumayan but, sok-tahu-nya kadang bikin kesel." Atifa lalu memantap jam tangan miliknya dan sudah menunjukkan angka jam 5 sore. Ia pun langsung merapikan barang-barang nya yang ada di atas meja lalu bergegas untuk pergi ke cafeteria sembari menunggu 'seseorang' yang tadi katanya akan drive her home.
Tiba di Cafetaria, ia sudah melihat sosok seseorang yang ia maksud. Ia lalu berjalan dan duduk didepannya yang membuat lelaki itu langsung mendongakkan kepalanya bingung.
"Who are you?"
Atifa langsung menatap nya dengan tatapan yang hampir mengeluarkan matanya. Damn. Dia salah meja.
"I'm sorry." Atifa langsung bangkit dan berpindah 1 meja ke belakang yang dimana wajah Redhiza sudah berubah menjadi merah padam akibat tertawa dengan cekikian yang ditahannya. "Diam, Redhiza."
Redhiza mengatur laju pernafasannya, "Maaf."
Redhiza lalu berbalik arah melihat lelaki tersebut, "I'm sorry dude cause of my wife." Lelaki itu tersenyum, "just take it easy dude." Redhiza membalikkan badan nya lagi ke arah Atifa dan Atifa sudah memandangnya dengan tatapan mematikan "What did you say?"
Redhiza menggeleng, "Nothing. Just nothing. Pergi sekarang?" Atifa langsung bangkit dan berjalan duluan dari Redhiza agar semua mata tidak menatap mereka berdua kalau mereka berjalan berdampingan. Atifa sudah sampai di mobil Redhiza, tetapi Redhiza belum kunjung datang juga. Ini lah balada seseorang yang berlagak cepat tetapi sang empu-nya belum sampai.
Tak lama kemudian, Redhiza datang sambil bersiul. "Sudah lama menunggu?"
Atifa memutar bola matanya, "Yaudah cepatan."
Redhiza dengan langkah santainya menekan tombol unlock car nya lalu masuk ke dalam mobil. Ia masih menatap Atifa dari dalam mobil. Redhiza menekan klakson mobilnya dan membuat Atifa terkejut sekali. Ia kemudian langsung masuk kedalam mobil.
"Kalau aku tadi pingsan gimana?"
"Ya di gendong masuk lagi ke dalam rumah sakit." Redhiza dengan entengnya berbicara kayak gini.
"Yaudah jalan."
Redhiza terkekeh kecil melihat perempuan di sebelahnya ini. entah mengapa rasanya ia sangat berbeda dengan yang lain.
"Hidupin lagu, ya?"
"Yaudah tinggal dicolokin aux nya ke mobile phone." Redhiza mengambil auxnya dan memberikannya ke Atifa. Atifa mengambilnya dan langsung dicoloknya ke mobile phone-nya. Atifa memilih lagu Baby, I Love Your Way dari Big Mountain. Ia tak sadar bahwa ia sangat menikmati lagu itu.
"Your fave?"
"Maybe, I think it's one of them."
"Good taste!"
Redhiza pun tak sadar bahwa ia tengah menyanyikan lagu itu juga dan mereka pun berakhir dengan berkaroke ria.
***
Redhiza memarkirkan mobilnya di sebuah café yang sederhana. Atifa hanya bisa mengikuti kemana lelaki ini pergi.
"Maka dulu. Keberatan nggak?" Atifa menggeleng, "Karena aku juga laper." Redhiza terkekeh dan menuntun perempuan itu untuk masuk kedalam café. Seorang waitress langsung membawakan sebuah menu ketika Redhiza dan Atifa sudah duduk. Redhiza mengangkat tangannya ketika waitress tersebut hendak memberikan nya menu. "Best steak in here and 2 capucinno latte."
"No-" Atifa menyanggah, "2 lemon tea and 1 ice cream."
"Alright 2 lemon tea and 1 box ice cream."
Waitress tersebut tersenyum, "alright wait for a minute sir." Redhiza membalas nya dengan anggukan.
"Kamu tau kalau abis makan minum kopi itu bahaya?" Redhiza menggeleng "Ok just FYI, kamu sudah makan yang berlemak ditambah dengan kopi yang berkafein dapat merusak komunikasi antara usus dan pankreas."
Redhiza mengangguk angguk ketika mendengarkan penjelasan dari Atifa. "Usus dan pankreas aja bisa berkomunikasi, berarti kita bisa juga dong?" Atifa menatapnya datar, "Jadi yang kita lakukan sekarang ini apa ya Redhiza Haryadi Utomo?"
Redhiza tersenyum menggoda melihat Atifa, " Udah hapal aja nama aku."
"Stop it."
"Kamu mau bantu aku nggak?" tanya Redhiza.
Atifa menautkan kedua alis matanya, "Soal?"
"Jawab dulu."
"Selagi itu nggak merugikan dan merepotkan aku, mungkin bisa."
"Kamu akan menjadi salah satu peserta di event perusahaan aku nanti." Redhiza membenarkan duduknya, "The Most Influentical Person of The Year 2018 adalah event terbesar perusahanku tahun ini dan aku berharap kamu join untuk menyukseskan event ini."
"Kerja nya gimana?"
"Kamu setuju?"
"Aku akan menjawabnya ketika kamu menjelaskannya."
"Yang pertama, kamu hanya perlu menyiapkan ide yang akan membuat semua orang terkesan. Apapun itu. tapi yang berhubungan dengan pekerjaan mu saat ini. setelah itu kamu akan disyuting untuk membuat profil mu baru setelah itu akan dilakukan online voting."
"Not bad at all."
"Setuju?" Redhiza menunggu jawaban dari Atifa. "Kalau kamu tidak setuju, maka kunci mobilmu akan menjadi korban." Atifa menghembuskan nafasnya kasar. "Ok, deal. Kapan akan disyuting untuk pembuatan profilnya?"
"Besok." Redhiza menampilkan senyum terbaiknya.
***
"What the heck? Besok?"
Redhiza mengangguk, "Iya besok. Ada yang salah?"
"Ada. Salahnya adalah kenapa kamu baru mengajakku sekarang."
Redhiza menatapnya, "Karena keputusan ini baru kemarin dimusyawarahkan." Tak lama kemudian waitress tadi mengantarkan pesanan mereka berdua. Redhiza membantu mengambilkan makanan mereka berdua dari baki waitress tersebut karena ia melihat waitress tersebut sedikit kesusahan untuk meletakkan makanan dan minuman mereka dimeja.
"Thank you sir." Waitress yang bernama 'Ben' tersebut tersenyum manis ke arah Redhiza.
Atifa menahan tawanya dan akhirnya sedikit membludak karena ia menyadari bahwa saat ini ia berada di tempat umum. "Thank you sir." ucapnya sambil mengikuti gaya waitress tadi berbicara dan ditambahi dengan mengedipkan sebelah matanya ke arah Redhiza.
"Cucok banget mas."
Redhiza hanya menatap datar ke arah Atifa, "Let's eat."
Atifa mulai menyantap makanan yang ada di depannya dengan lahap. Redhiza yang melihat wanita yang ada di depannya ini, hanya bisa sedikit tersenyum agar wanita tersebut tidak menyadarinya.
Selesai makan, Atifa menatap ice cream yang ada di meja mereka dan kembali menatap Redhiza dengan tatapan yang sedikit ketakutan layaknya seorang anak yang meminta sesuatu.
"Ada apa?"
"Ice cream nya punya siapa?"
"Punyamu. Bukannya tadi kamu memesannya?"
Atifa mengangguk dengan antusias, "Aku makan ya? Kamu mau?" Redhiza menggeleng, "Makan aja." Atifa langsung mengambil 1 box ice cream tersebut.
Tak berapa lama kemudian, Atifa menutup kembali box Ice cream tersebut dan Redhiza yang melihat nya hanya bisa bertanya tanya, "Udah habis?"
"Udah."
"Enggak takut gendut?"
"Enggak, selagi tidak berlebihan. Lagian ice cream bisa menaikkan mood aku. Jadi selama aku bahagia makan ice cream dan tidak terlalu over calories satu hari ini rasaku nggak perlu takut.
"Ok then. Nice one. Sekarang kita ambil mobilmu ya?" Atifa mengangguk.
Redhiza memanggil waitress yang lain karena ia sedikit trauma dengan kejadian waitress ‘Ben tadi untuk meminta bill nya. Ia langsung mengeluarkan uangnya untuk membayarnya.
"’Kenapa nggak bagi 2 bayarnya?" Redhiza langsung menggeleng. "Bagiku nggak boleh perempuan yang bayar ketika aku sedang makan berdua dengannya."
***
Sesampainya di parkiran rumah sakit, Redhiza memberikan sebuah cek kepada Atifa dan kunci mobilnya, "Apa ini?"
"Bukti pembayaran parkir VIP mu selama 2 hari disini." Jelas Redhiza kepada Atifa.
"Kamu tau, kamu tak perlu melakukan ini. ini berlebihan."
"Aku hanya membantu. Ditambah ini adalah kesalahan ku, karena aku lupa membawa kunci mobil mu kemarin." Atifa menghembuskan nafasnya dengan perlahan, "Ok, terima kasih Dhiz."
Atifa masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya. Redhiza mengambil inisiatif untuk mengikuti wanita itu sampai rumahnya. Merasa ada yang mengikuti dari belakang, Atifa melihat dari kaca spion tengah mobilnya. "Itu mobilnya Redhiza nggak sih? Ngapain dia ngikutin aku?"
Atifa tertiba tersenyum, "So gentle." Atifa langsung tersadar, "Nggak boleh Tifa, nggak boleh. Kamu nggak boleh suka sama orang kayak dia. jangan...jangan.." Atifa langsung melajukan mobilnya sedikit lebih kencang.
Sesampainya dirumah Atifa, Redhiza melihat Atifa barusan turun dari mobilnya dan ia pun bisa bernafas lega dan akhirnya memilih untuk pulang.
***