5 - Si 'Dia'

1363 Kata
Redhiza bersama dengan crew PUBDOK (publikasi dan dokumentasi) sudah berada di rumah sakit dimana Atifa bekerja. Redhiza mengintip dari kaca luar ruangan Atifa, untuk melihat sedang ada pasien atau tidak, dan ternyata ada. Redhiza menunggu untuk beberapa saat hingga pasien itu selesai. Ketika selesai, Redhiza langsung masuk ke dalam ruangan Atifa tanpa embel-embel mengetuk pintu terlebih dahulu. "Kamu? Ngapain?" "Ayo syuting profilmu. Jangan lupa menggunakan jas dokter mu." Atifa bangkit dari kursinya dan merapikan rambutnya yang sedikit berserak. Kemudian ia berdiri ke arah pintu ruangannya yang dimana Redhiza masih berdiri didepan pintu, "Ayo. Sekarang kan?" Redhiza mengangguk dan membawa jalannya menuju ke crew nya. "Kamu sudah tau kan ide mu untuk di voting nanti?" Atifa mengangguk. "Apa idenya?" tanya Redhiza. "Idenya adalah suatu Negara harus lebih memperhatikan kesejahteraan masyarakat di daerah terpencil." "Misalnya?" "Seperti lebih banyak dokter dan guru yang dikirim untuk ke daerah daerah." Redhiza mengangguk, "Ok then. Kamu sudah siap?" "Tunggu. Ini apa apa saja yang akan ditanyakan?" "Just prepare your self. I know you can do it." "Tunggu bentar Dhiz. Aku udah rapi?" Redhiza memandangnya dari atas hingga ke bawah dan over all baik baik saja dan kelihatan rapi. Redhiza pun langsung mengangguk dengan mantap. "Ok then." Atifa berjalan ke arah depan kamera. Salah seorang crew menjelaskan mekanismenya. Ketika semua nya sudah selesai, Atifa pun dengan mantap menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan. Atifa pun dengan tenangnya menceritakan ide nya untuk profil dia sendiri. "Cut!" Atifa berjalan kearah Redhiza dan duduk disampingnya. "That's cool." Atifa pun tertawa. "Setelah ini ngapain?" Tanya Atifa sambil membuka jas dokternya. "Makan yuk? Di cafeteria aja." Atifa menimang-nimang tawaran Redhiza tersebut, "Yuk." Mereka berdua beranjak dari tempat dan berjalan menuju cafeteria. Sesampainya di cafeteria, Atifa mengambil menu makanan yang sehat seperti salad sayur, nasi, telur, salad buah dan air mineral. Berbeda dengan Redhiza, ia mengambil nasi dengan daging dan telur dan segelas s**u. Kali ini bukan Atifa lah yang meng-komentari makanan mereka satu sama lain. Tapi Redhiza yang memulainya dahulu. "Kamu lagi diet? Kenapa makanan mu terlihat berwarna sekali?" "Walaupun colourful, tapi sehat. Emang situ? Udah makan daging pakai telur dan s**u lagi minumnya." Redhiza kali ini benar-benar skak-mat. Jangan pernah berdebat dengan dokter soal makanan yang sehat, karena mereka emang jago dalam hal kesehatan. "Ok. Aku kalah." Redhiza memilih untuk mengalah dan diam. Setelah beberapa menit kemudian, makanan Atifa sudah habis duluan dan meminum air putihnya. Redhiza yang melihat nya hanya bisa melihat wajah Atifa. "Kenapa?" Redhiza menggeleng, "Baru kali ini aku melihat perempuan yang sama sekali tidak jaim ketika makan." "Karena ini bukan makan formal. Ini hanya makan siang." Redhiza mengangguk dan memakan suapan terakhir nya. "BTW, kenapa kamu terlibat di acara ini? Kamu ketua panitia acara ini?" "Aku CEO nya." Atifa membulatkan bibirnya dan mengangguk. Seketika ia tersadar akan ucapan Redhiza tersebut dan menampilkan ekspresi terkejutnya, "Apa kamu bilang? Kamu CEO nya?!" Redhiza mengangguk sembari meminum susunya. "Nggak mungkin." "Kenapa nggak mungkin?" "Karena kamu tidak ber-ekspresi dingin dan mematikan seperti CEO lainnya yang sering diceritakan di novel-novel." "Berbeda. Aku ini nyata Atifa." Atifa menetralisir pikiran ya tentang seorang CEO yang ada di depannya ini. "Jangan bilang, kalau papamu yang punya perusahaan nya seperti kebanyakan cerita di novel-novel itu?" "Kali ini kamu benar." Atifa menautkan alis matanya menatap Redhiza, "Lalu kenapa kakakmu, Diva tidak mengikuti jejak ayahmu?" "Aku punya 2 kakak satu bernama Dina dan yang kedua bernama Diva. Keduanya menjadi dokter sama seperti mu. Dan aku tidak tau alasannya kenapa." "Aku tidak sebanding dengan kakak-kakak mu. Mereka sudah mengambil spesialis sedangkan aku masih dokter umum." "Waktumu masih panjang Atifa dan kamu masih bisa meraih yang lebih tinggi bukan?" Atifa mengangguk. "Jadi kamu lah yang menjadi penerus ayahmu?" Redhiza mengangguk, "Kamu tau hanya denganmu aku bisa membicarakan tentang keluargaku. Pertama, kamu tidak seperti kebanyakan wanita lain diluar sana," Ucap Redhiza. "Yang kedua, karena kamu teman nya kak Diva. You know, kakak-kakak ku sangat galak kepadaku dan membuatku sedikit..ya, takut." Atifa kali ini terkekeh dan merasa senang karena dipuji seperti itu. Atifa langsung menggeleng-gelengkan kepalanya. "Udah siap kan? Balik yuk?" Redhiza pun mengangguk dan mengikuti Atifa. Sesampainya kembali di lokasi syuting, Atifa menanyakan tentang kegiatan selanjutnya. "Habis ini ngapain?" "Kamu akan syuting untuk mempromosikan dirimu. Dan aku harap kamu bisa membuatnya se-menarik mungkin." "Tak perlu membuat diriku untuk menarik. Aku memang sudah menarik." Redhiza tersenyum terpaksa mendengarkan pernyataan dari Atifa tersebut, "Ok then. Sekarang kamu sudah siap?" Atifa mengangguk. Atifa dengan lihainya dia berbicara dan mengucapkan kata-kata nya di depan kamera. Redhiza yang melihatnya merasa, sedikit kagum mungkin? Atau memang kagum? Ketika melihat Atifa berbicara seperti itu, charismatic? Iya sepertinya. "Cut!" "Bagian mu hari ini sudah selesai dokter." Suara teriakan dari salah satu camera-man mengejutkan Redhiza dari lamunannya. Saat itu lah ia melihat Atifa dengan wajah tersenyum sumringah-nya. Entah mengapa itu membuat Redhiza, suka? Redhiza menghampiri Atifa, "Kamu sudah selesai. Lusa voting sudah dibuka. So, jangan lupa memilih dirimu sendiri. Waktu voting diberikan sampai hari H event. Berarti seminggu lagi." Atifa mengangguk, "Ok kalau gitu. Aku kembali ke ruangan ku." Redhiza mengangguk dan menahan tangan Atifa ketika ia hendak bergegas pergi. Redhiza mengambil kartu namanya di dompetnya dan diberikannya ke Atifa, "Simpan ini. Mana tau kamu memerlukannya." Atifa menatapnya, "Aku nggak butuh itu." tetapi Atifa tetap mengambil kartu nama Redhiza dan berlenggang pergi. "So cute." Redhiza bergumam dan tersenyum sendiri. *** Redhiza memilih untuk kembali ke kantornya. Dan disaat itulah ia disambut dengan kehadiran ex nya, Clara. Redhiza sudah menganggap nya seperti itu. Tapi tidak tau lah bagaimana wanita itu menganggapnya. "Kamu dari mana Redhiza?" tanya nya manja dan bergelanyut di lengan kekar Redhiza. "Kamu tak perlu tau aku darimana. Dan kamu ngapain ada disini?" Clara memasang wajah cemberutnya lalu ia tersenyum dengan manja yang menjijik-kan menurut Redhiza. "Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu mengadakan event perusahaan mu?" Redhiza mengerutnya keningnya, "Emang apa pedulimu? Bukannya kamu hanya ingin duit ku saja?" Clara menghentakkan lengannya yang bergelanyut manja di lengan Redhiza, "Kamu ini kenapa? Aku hanya bertanya padamu dan aku akan ikut dalam event mu ini titik." "Kamu tidak diizinkan untuk mengikuti event ini. Masalah selesai begitu juga dengan hubungan kita. Aku minta maaf. Karena aku sudah tidak bisa bersama dengan mu lagi. Kamu mau keluar dengan sendirinya atau ditemani dengan security? Jangan mempericuh keadaan. Dan ingat, jaga sikapmu ini lobby." Jelas Redhiza yang sudah tak tertahankannya untuk menceritakan ini ke Clara. Satu tamparan keras melayang dipipi kiri Redhiza, "Kamu pikir segampang itu kamu memutuskan ku ha?" Redhiza menahan tangan Clara yang hendak menamparnya kembali, "Kalau urusan tampar-menampar, harusnya aku. Tapi aku masih menghargai wanita. Dan aku harap kamu pergi." "Urusan apa kamu ingin menamparku?!" Redhiza tersenyum miring, "Yang kamu pikir aku tidak tau kalau selama ini kamu tidak hanya berjalan dengan ku? Aku mengetahuinya semua Clar." "Jaga ucapanmu, kamu bisa mencoreng nama baikku sebegai model terkenal!" Redhiza menatap sepele ke arah Clara, "Apa peduliku? Takut kalau kebenaran itu terbongkar dan menyeruak di seluruh social media dan bahkan sampai ke luar negeri?" Clara mendekatkan jaraknya dengan Redhiza, "Hubugan kita memang sudah selesai. Tapi tidak dengan dendam ku Redhiza Haryadi Utomo. Selamat malam." Clara pergi dengan angkuhnya, "Selamat datang di mimpi buruk mu Mr. Redhiza." gumamnya sambil tersenyum sinis. *** Redhiza hanya bisa memijat pangkal batang hidungnya. Seketika pintu ruangannya terbuka dengan lebar dan menampakkan Aqeel yang sedang membawa mesin printer keruangan Redhiza. "Oh sudah kembali. Bagaimana dengan orang yang kamu tangani Dhiz?" "Baik dan lancar." "Siapa dia? "Seorang dokter wanita." Aqeel menatapnya heran, "Dokter? Wanita? Bagaimana bisa? Biasanya kamu merekrut pengusaha pengusaha muda." "Berhentilah bertanya qeel. Aku sedang banyak pikiran." Aqeel mengangguk-angguk melihat bestie-nya sekaligus bos nya ini. Dia bisa mengambil conclusion bahwa ini ada masalahnya dengan perempuan, maybe? Aqeel pun kembali mengutak-atik printer yang dibawanya tadi. Seketika Redhiza bangkit dari kursinya, "Mau kemana, Dhiz?" Tanya Aqeel sambil melihat bergantian dari arah printernya dengan Redhiza. Redhiza mengangkat bahunya tidak acuh, "Sedikit minum mungkin? Wanna join?" Redhiza menunggu jawaban dari Aqeel tapi tak kunjung didapatkannya. Redhiza pun langsung pergi meninggalkan temannya itu. Aqeel yang merasa ada yang tidak beres, langsung mengikuti kemana Redhiza pergi dan sesekali meneriaki namanya. "Dhiz. Gue ikut!" Redhiza pun mengangguk dan berjalan menuju parkiran. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN