6 - Oma Gemes

1486 Kata
"Qeel lo nggak? yakin? Arghh" Redhiza meracau-racau seorang diri dikarenakan minuman yang tengah ia minum. Aqeel menaruh gelas yang dipegang oleh Redhiza, "Oke. Lo harus berhenti. Lo udah mabok parah Dhiz." Redhiza menggeleng sembari berdiri untuk mengambil gelas nya kembali tapi Aqeel tetap keukeuh untuk tidak memberikannya kepada Redhiza, "cukup Dhiz." "Kalau lo nggak ngasih gelasnya, gak masalah. Gue bisa minum langsung dari sininya." Redhiza mengambil botol minuman tersebut dan diteguknya langsung dari botol tersebut. Aqeel menggelengkan kepalanya melihat kelakukan teman nya ini. Ia frustasi melihatnya. Aqeel mengambil inisiatif untuk langsung menarik tangan Redhiza dengan paksa yang dimana ia sedang duduk leyehan dengan tangan memegang kepalanya "Apaan sih. Kepala gue pusing banget!" "Karena itu makanya kita pulang." Redhiza menghentakkan tarikan tangan Aqeel, "Gue butuh dokter Tifa. Sekarang Qeel." Raungnya. "Dimana gue nyarinya Dhiz? Lo yang nggak nggak aja lah." Redhiza memberikan mobile phonenya dan memaksa Aqeel untuk menelfon nya dari mobile phone Redhiza. Aqeel langsung mengambilnya dan mencari nama Tifa yang ada di mobile phonenya Redhiza. "Dhiz nggak ada nama dokter Tifa. lo lagi nggak sadar. Sebaiknya kita pulang." Redhiza merampas mobile phonenya dan mencari nama Atifa disana, "Ini ada buktinya. Namanya Atifa b**o. Emang lu nyari siapa namanya?" Aqeel mengambil mobile phone Redhiza kembali dan menelfon seseorang yang bernama Atifa-Atifa itu.Tak lama ia menunggu, sebuah sahutan terdengar dari seberang sana. "Halo ini dengan siapa?" Aqeel berlari keluar club karena disini keadaannya, ya kalian juga tau bagaimana. Terlalu bising. "Ini nggak penting siapa dan sekarang lo harus ke Nuansa club." "Emang apaan dah gue pake kesana segala." "Tolong dokter Atifa. Redhiza lagi mabok berat dan dia ngeracau-in nama lo terus." Ada jeda suara hampa diseberang sana, "Hallo dok? Lo masih disanakan?" "Oke gue akan kesana." lalu Atifa memutuskan sambungan telefonnya terlebih dahulu. Aqeel masuk lagi kedalam, dan ia tengah melihat Redhiza sudah bernari dengan ria dengan ya... (sambungan dari, indah pemandangan, banyak ____ - ____). Aqeel langsung menarik kerah kemeja Redhiza dari belakang, "Tifa lagi dijalan. Lo duduk. Apa lo mau dilihatin Tifa dengan kelakuan lo kaya gini?" Redhiza menautkan alis matanya remeh, "Gue hanya sekali seperti ini. dan semua ini gara-gara Clara si w***********g!" Redhiza tertawa setelah mengucapkannya itu. Aqeel membantu Redhiza untuk duduk di sofa. Aqeel merasa sedikit jijik ketika melihat, wanita – wanita itu berjalan kearah Redhiza dan menyapu seluruh bagian tubuh Redhiza. Untungnya, Redhiza mengusir para wanita itu pergi. Tak lama kemudian, sebuah panggilan berdering dari mobile phone Redhiza dan memunculkan nama Atifa. Aqeel langsung mengambil mobile phone Redhiza begitu juga dengan Redhiza ia hendak mengambil mobile phone-nya, tetapi Aqeel menyentak tangan nya Redhiza, "Lo mau nanti Atifa illfeel nengok lo mabok kayak gini?" Redhiza terdiam dan mengalah. Aqeel menjawab panggilan tersebut, "Hallo, udah sampai?" "Udah tapi gue gak boleh masuk, karena nggak punya member card. Lo sama Redhiza aja deh yang keluar." "Oke then." Aqeel langsung memutuskan sambungannya. "Tifa lo dah datang. Lo masih mau disini atau lo balik pulang?" Redhiza langsung berdiri sendiri dan berjalan meninggalkan Aqeel seorang diri. Aqeel hanya bisa.... menggelengkan kepalanya lagi. Aqeel bangkit lalu melihat kunci mobil Redhiza yang masih tergeletak di meja dan mengambilnya. "Dasar orang kaya. Kunci mobil aja di telantarin mckmck." Setibanya Aqeel di luar, ia tengah melihat Redhiza dengan berdiri tegap dan berbicara dengan Atifa layaknya seseorang yang tidak mabok. Aqeel menautkan alis matanya dan menaikkan pipinya keatas melihat kejadian didepan matanya. "Dhiz? Lo kok?" Redhiza tersenyum ke arahnya, "Aku nggak mabok." Atifa mengetahui kebohongan Redhiza tapi ia memilih untuk diam. "Yaudah sekarang kita pulang ya." Redhiza mengangguk, "Oke Qeel gue pulang sama Atifa dan lo bawa mobil gue ya?" Aqeel langsung mengangguk layaknya terhipnotis. *** Atifa menarik nafasnya dalam dan melihat kearah Redhiza yang sedang duduk meringkuk miring menatap Atifa. "Ceritakan dengan jelas Redhiza." Redhiza menggelengkan kepalanya, "Aku nggak mabok." "Jangan bohongi aku Dhiz. Aku tau ciri – ciri orang mabok gimana." "Tolong jangan berdebat sekarang Tif. aku benar benar banyak pikiran." Atifa sedikit tertegun mendengarkan pernyataan Redhiza tersebut. Seakan akan apa yang dialami Redhiza sangat lah berat. "Rumahmu dimana?" Redhiza menggeleng, "Jangan kerumah. Ke apartmenku aja ya?" Atifa mengangguk dan Redhiza memberikan mobile phone-nya ke Atifa untuk memberi petunjuk ke apartment nya melalui GPS. Tak butuh waktu lama hingga mereka sampai di apartment Redhiza. Redhiza duduk dan hendak membuka pintu mobil Atifa, "Makasi Atifa." Atifa menggeleng dan mencekal lengan Redhiza, "Aku anterin sampai kamar mu." Atifa kembali melajukan mobil nya untuk memarkirkannya. Kemudian, Atifa membopong Redhiza berjalan. Sesampainya di depan pintu kamarnya, Redhiza langsung mengucapkan password kamar nya kepada Atifa dan Atifa menekan nomornya. Atifa langsung membopongnya masuk ke dalam ruang tidur Redhiza dengan keadaan Redhiza sudah tertidur pulas. Atifa membuka kemeja Redhiza dan diganti dengan baju kaos yang berada di walk in closetnya Redhiza, karena Atifa mencium bau minuman berakohol yang ia minum tadi. Setelah selesai menggantikan baju Redhiza, ia terduduk dipinggir tempat tidur dan menatap Redhiza dalam diam. Seketika ia bergelanyut dalam pikiran sendiri, tentang pria yang ada di depannya ini. dan seketika ia tersentak ketika sebuah tangan meng-genggam tangannya, dan tangan itu adalah milik Redhiza. "Tif disini saja." Ucapnya sambil tertidur yang dimana Atifa meyakini bahwa Redhiza sedang mengigau. Atifa pun hanya bisa mengangguk lalu bangkit dan menarik selimut Redhiza hingga dadanya. Atifa pun memilih untuk menetap malam ini disini, karena sekarang ini ia menganggap bahwa Redhiza adalah pasiennya yang sedang membutuhkan orang sepertinya. Atifa pun mematikan lampu ruang tidur Redhiza dan menutup pintunya. Setelah ia menutup pintu kamar, ia mendengar suara gemerisik dari arah dapur. Ia pun memberanikan dirinya untuk melihat ke arah dapur dan ia pun sempat mengambil pemukul baseball yang terletak di ruang tamu. Ketika ia sudah sampai didapur, ia melihat seseorang tengah jongkok mencari sesuatu di kabinet bawah dapur. Atifa pun mendekat dan hendak memegang seseorang tersebut. Tetapi sebelum tangan Atifa mendarat di pundaknya, seseorang itu sudah membalikkan badan nya dahulu dan akhirnya seseorang itu berteriak dan diikuti teriakan Atifa juga. "Kamu siapa?! Kamu maling ya?!" Atifa mengangkat kedua tangannya keatas, "Sumpah bukan. Saya teman nya Redhiza." Seseorang tersebut memerhatikan Atifa dari atas hingga bawah. Atifa pun mengikuti pandangan tersebut. "Ada yang salah ya, Bu?" "Enak aja kamu manggil saya ibu! Saya ini oma-nya Redhiza." Ucapan nenek tersebut mampu membuat Atifa melongoh tak percaya. "Kenapa kamu nggak percaya kalau saya oma-nya Redhiza?" Atifa menggeleng ketakutan, "Saya hanya ... kagum." Terkutuklah kamu Atifa. Mengapa kamu bilang kalau kamu kagum pada oma-nya?! "Saya memang dikagumi semua orang. Panggil saya OMA MES." Atifa menautkan alis matanya, "Oma mes?" Oma Mes mengangguk, "Iya Oma Mes, Oma Gemes." Atifa langsung tersenyum meng-iyakan ucapan nenek mes itu "Kamu siapa Redhiza tadi?" "Saya temannya , Oma Mes." "Good. Harus dibiasain. Lalu kalau teman kenapa bisa ada di apartment Redhiza?" "Tadi Redhiza mabok, terus temannya Redhiza si Aqeel nelfon Atifa untuk jemput Redhiza." Oma Mes menampilkan wajah khawatirnya, "Lalu sekarang dimana cucu lelakiku satu-satunya?" Atifa tersenyum, "Dia udah ada di kamar oma. Oma mau ngapain malam-malam begini?" Oma Mes berjalan untuk duduk diruang makan, "Oma mes laper. Jadi Oma Mes cari makanan." Atifa memilih untuk duduk di hadapan Oma mes, "Oma mau Atifa masakin sup hangat?" Oma Mes tersebut mengangguk dan merasa senang, "Mau.. tapi sekarang." Atifa mengangguk dan langsung memasakkan soup hangat untuk neneknya Redhiza. Tak butuh waktu lama untuk membuatkan semangkuk sedang soup hangat untuk Oma Mes. Oma Mes pun langsung mengambil mangkuk tersebut dan memakannya dengan lahap. Seketika, Atifa tersenyum hangat melihat ia bisa membantu seseorang seperti Oma Mes. "Kamu disini aja sampai besok. Ini udah malam. Nggak baik anak gadis berkeliaran malam-malam. Pantang." Atifa pun mengangguk "Kamu kerja apa?" "Saya seorang dokter Oma." Oma Mes langsung membulatkan bibirnya yang sudah keriput akibat faktor umur. "Kamu nggak makan? Siapa tadi namanya?" "Atifa oma mes. Atifa tadi udah makan Oma sebelum jemput Redhiza." "Ayo makan bagi dua sama Oma, biar nanti tidurnya nyenyak karena udah kenyang." Atifa tertawa dan mengambil sendok lainnya. Dan mereka pun makan bersama. Setelah habis, Atifa mencuci piring dan alat alat yang lain, lalu ia memilih untuk tidur di sofa ruang tamu apartment Redhiza. Dan ketika ia baru saja membaringkan tubuhnya, ia mendengar suara Oma Mes dari dalam kamarnya. Atifa pun langsung bangkit dan berlari. "Oma kenapa?" "Tidurnya disini aja. Nanti sakit badannya kalau tidur di sofa." "Atifa kirain apa tadi Oma hehe. Gak apa ni Oma kalau Tifa tidur disini?" "Ya nggak apa-apa. Tapi jangan hidupin AC ya. Oma nggak tahan." Atifa tertawa kecil dan memilih untuk menutup pintu kamar oma dan ikut tidur di samping Oma Mes. Ketika ia sudah terlayang, Oma Mes menginterupsinya, "Baru pertama kali cucuku membawa seorang gadis ke apartment ini. dan Oma senang bersamanya." Atifa yang mendengarkannya merasa senang dan hangat. Entah mengapa itu. dan Atifa selalu merasakan kehangatan setiap ia mendengar seorang lansia berbicara. Alasan itu tak teralasankan bagi Atifa. Ia merasa ingin melindunginya, seperti Oma Mes. "Oma tidur ya, biar besok nya nggak ngantuk." Atifa pun akhirnya tertidur, yang ditemani dengan Oma Mes, dalam kehangatan dan keheningan. *** Jangan lupa berikan votenya yaa mentemen, terima kasih!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN