Bangun sebelum subuh memang menjadi kebiasaan Atifa. Selama apapun dia tidur dan dia akan terbangun sebelum fajar menyingsing. Gerakan gontai, Atifa menuju kamar mandi untuk membersihkan wajahnya serta giginya dengan menggunakan tooth brush yang memang tersedia untuk tamu. Setelah selesai dan sudah terkumpul nyawanya semua, ia mengambil Tylenol yang memang sudah ia bawa di dalam tote-bag-nya ketika Aqeel menelfonnya. Atifa membuka perlahan pintu ruang kamar Redhiza. Perlahan ia melangkahkan kakinya agar sang empu nya tidak terbangun.
Perlahan ia menaruh Tylenol tersebut diatas nakas kamar Redhiza dan menulis sebuah note 'drink me' di sampingnya dan menaruh sebuah gelas kosong agar Redhiza dapat mengisinya dengan air hangat yang ada di dispenser ruang kamar Redhiza. Atifa lalu mengecek suhu tubuh Redhiza dan Alhamdulillah sampai saat ini suhunya masih normal. Ia pun kembali keluar dan berjalan ke ruang tamu. Sekarang ia benar-benar tidak tau apa yang harus ia lakukan. Atifa mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru sudut.
Kalau boleh jujur, Redhiza berbeda dengan lain! Bahkan apartmennya bersih dan rapi. Tapi nggak tau juga kalau OmaMmes yang membantunya untuk membersihkan semua ini. Tapi rasa nya tak mungkin! Atifa berjalan menuju tirai apartmen ini yang berwarna abu-abu ini lalu ia menariknya dan memaparkan gemerlap-gemerlip keindahan kota di kala subuh. Sedikit excited menurutnya.
Ia pun memilih untuk menghidupkan televisi (yang akhirnya televisi lah yang menontonnya) dan sambil membaca buku kedokterannya yang memang ia bawa selalu di dalam tote-bag-nya. Ia sengaja menghidup kan televisi agar tidak terlalu sunyi dan ia dapat belajar dengan caranya sendiri.
Ia pun sibuk dengan stabilo nya untuk menandai hal yang penting baginya, sampai sampai ia tidak menyadari kedatangan seseorang.
"Ujian?" Atifa pun langsung menengadahkan kepalanya dan melihat ke sumber suara. Jujur kaget.
"Enggak. Kok dah bangun? Dah diminum Tylenolnya?" Redhiza mengangguk dan duduk di samping Atifa sambil mengganti channel televisinya. Atifa yang melihatnya hanya bisa kebingungan.
'Dia kok nggak kayak orang orang yang mabok ya?' Batinnya
"Ujian?" Tanyanya lagi.
"Enggak. Aku kan udah jawab."
"Tapi kenapa pagi sekali sudah belajar?"
"Aku memang harus biasain kayak gini Dhiz. Biar ingat."
Redhiza mengangguk-angguk. Atifa pun membereskan buku-bukunya dan berdiri.
"Mau kemana? Udah selesai?"
"Buat sarapan untuk ku, kamu dan Oma."
Redhiza mengangkat kedua alisnya, "Kamu sudah mengenal Oma ku?"
Atifa mengangguk, "She's kinda cool u know." Atifa tertawa geli, "Jarang ada Oma-Oma
gawl."
Redhiza menatapnya heran, "Tapi Oma orangnya nggak easy going. Lebih ke galak kalau sama orang asing."
"Tapi dia kemarin baik Dhiz..."
"Oke nggak ada waktu untuk berdebat. Aku mau buat sarapan dan kamu segera mandi. Habis itu sarapan." Redhiza mengangguk
Atifa pun berjalan ke dapur dan meninggalkan Redhiza seorang diri. Redhiza pun menyunggingkan senyumannya mendengar ucapan Atifa tersebut dan ia pun langsung mematikan televisinya dan membersihkan dirinya.
***
Atifa menyiapkan nasi goreng, bubur dan roti bakar buatannya di atas meja makan. Tak lupa dengan menyiapkan teh manis hangat, s**u dan hot lemon tea di dalam teko masing-masing. Setelah selesai, Atifa membersihkan dapur dan mencuci peralatan masaknya agar nanti tidak terlalu bertumpuk. Atifa pun membuka celemek masaknya dan menaruhnya di atas kabinet setelah mengerjakan seluruh tugas dapur ini.
Redhiza yang baru selesai mandi lalu bergegas ke dapur untuk sarapan pun menghentikan langkahnya, karena ia melihat Oma nya tengah berdiri didepan pintu dan mengintip ke arah dapur. Redhiza pun mengikuti apa yang dilakukan Oma nya.
"Liat dia Redhiza. Sungguh mandiri. Jarang sekarang ini wanita yang mandiri sepertinya." Redhiza pun mengangguk di belakang tubuh Oma-nya, "Iya oma. Redhiza pun suka sama dia." Oma nya membalikkan badannya untuk menatap cucunya itu sedangkan Redhiza masih sibuk memperhatikan Atifa yang sedang melepaskan celemek dapurnya itu.
Seksi. Itu lah yang dapat ia deskripsikan ketika melihat Atifa.
"Kamu suka ya sama dia??"
Redhiza langsung tersadar dan menggeleng kuat, "Belum Oma. Oma salah dengar kali. Tadi Redhiza bilang, Atifa suka masak."
Oma nya langsung menarik daun telinga Redhiza keatas, "Kamu bilang Oma b***k ya?!"
Redhiza langsung menjerit ketika Oma nya menjewernya, "Sakit Omaa."
"Biarin. Cucu kurang ajar kamu, bilangin Oma nya budek." Atifa yang mendengar sebuah jeritan langsung berjalan ke sumber suara, "Oma? Redhiza? Kenapa?" Oma nya langsung menarik tangannya dari telinga Redhiza, "Cucu nakal harus dihukum. Kamu sedang apa di dapur Tifa?" Tanyanya dengan lembut.
Atifa tertawa kecil, "Tifa udah siapin sarapan. Oma makan yuk?" Oma nya mengangguk dan berjalan mendahului mereka berdua.
"Mau ngapain disini terus? Nggak mau makan?"Tanya Atifa dan Redhiza mengangguk serta berjalan ke arah meja makan.
"Oma mau makan apa? Biar Tifa ambilin." Oma nya melihat ragam sarapan yang dibuat oleh Atifa. Ia pun menyebutkan nasi goreng dan Atifa langsung menyendokkan nasi goreng tersebut ke piring Oma.
"Kamu juga mau?" Redhiza menggeleng, "Aku bisa sendiri." Atifa pun mengangguk dan kembali duduk dan menyantap sarapan paginya. Mereka bertiga makan dalam diam dan hanya terdengar dentingan antara garpu, sendok dan piring. Tak lama kemudian, Oma nya membuka suara.
"Habis ini kamu kemana atifa?"
Atifa menatap Redhiza sebentar, "Mengingat cucu oma sudah baikan, habis ini Tifa akan pulang."
"Menginap lah sehari lagi." Redhiza mengelus tangan Oma nya, "Oma, Tifa ada kerjaannya. Jadi dia harus balik ke rumahnya."
Oma-nya memasang wajah cemberutnya sambil memakan nasi goreng buatan Atifa.
"Nanti Atifa lebih sering main kesini ya oma? Tifa janji deh."
Sebuah senyuman tercipta di wajah Oma. "Baiklah. Tapi nanti kamu pulang diantar sama Redhiza ya."
"Tifa bawa mobil sendiri oma. Malah Redhiza yang kemari naik mobil Tifa."
"Kemana mobil mu anak muda? Tanya Oma kepada Redhiza dan Redhiza hanya menggaruk tengkuk lehernya, "Sama Aqeel oma. Mobil Redhiza lagi di kantor."
"Yasudah, kamu yang nyetirin mobil nya Atifa. Selebihnya itu urusan mu anak muda, bagaimana untuk ke kantormu."
Atifa hanya bisa terkikik kecil melihat Redhiza seperti ini. Layaknya seorang anak yang dimarahi oleh ibunya. Tapi Redhiza berbeda. Ia anak nenek. Bukan anak mama, jadi begini nih.
Setelah semuanya selesai, Atifa bangkit dan membersihkan meja serta piring kotor. Redhiza pun ikut membantu, membantu untuk menata kembali piring piring yang sudah dibersihkan
"Btw, Oma memang tinggal disini? Sendirian?"
Redhiza mengangguk, "Oma memang mau nya begitu. Ia tidak mau menginap dirumah kami. Takut merepotkan katanya. Padahal kami enggak ngerasa kayak gitu."
"Lalu Oma sama siapa disini kalau kamu tidak ada?"
"Sendiri aja. Aku sering main kemari kalau waktu pulang kerja. Begitu dengan mama dan papaku."
Atifa pun mematikan air keran dan mengeringkan tangannya dengan kain lap. Lalu mengambil sebuah gelas yang berisikan jus jeruk asli dari dalam kulkas. "Minum ini. Agar kamu tidak kekurangan vitamin c." Atifa menyodorkan segelas jus tersebut ke Redhiza.
Redhiza mengambilnya seraya berkata, "Apa kamu bilang? Aku kekurangan vitamin c?"
"Lebih baik menghindar dibandingkan dengan mengobati. Minum saja. Aku mau berpamitan dengan Oma."
Redhiza pun meneguk langsung jus tersebut dan mengikuti Atifa ke ruang televisi yang dimana Oma Mes sedang berolahraga kecil di sana. "Oma, Tifa udah buatin Oma jus guava. Nanti tinggal diminum aja ya Oma, udah ada di kulkas. Kalau Oma nggak mau dingin, dikeluarin dulu Oma." Oma mengangguk, "Sering bermain kesini. Oma sangat senang bersamamu." Oma memeluk Atifa dan Atifa pun membalas pelukannya seraya mengangguk.
Redhiza yang hendak berjalan keluar duluan, langsung ditarik Oma Mes, "Jaga dia anak muda. Jangan kamu sia-siakan."
Redhiza mengedipkan sebelah matanya dan memeluk omanya. "Kami pergi dulu ya Oma."
"Iya iya. Berhati-hati kalian."
***