Redhiza turun dari mobil Atifa ketika mobil nya sampai di rumah Atifa. Redhiza hanya berdiri mematung di depan gerbang rumah Atifa dan Atifa pun menatapnya bingung melihat tingkah Redhiza. "Mau sampai kapan kamu berdiri disitu?"
"Aku akan pulang."
"Naik apa? Udah deh mending tungguin di dalem aja. Selesai mandi aku akan mengantarkanmu ke kantor mu. Lagian mama papa ku lagi di Singapur, ada para adikku di rumah ini, so tenang aja oke?"
Redhiza pun mengangguk dan mengikuti Atifa berjalan dari belakang.
Atifa menginstruksi kan kepada Redhiza untuk hanya duduk di ruang tamu saja dan tidak kemana-mana.
Atifa pun mengambil makanan ringan dan minuman untuk Redhiza agar ia nyaman. Lalu meninggalkannya untuk ber-bersih badan.
Redhiza menyantap makanan ringan yang diberikan Atifa barusan. Tak lama kemudian salah satu adik Atifa datang menemuinya, "Kak Redhiza?!" Redhiza menautkan alis matanya, "Kamu tau dari mana kalau nama kakak Redhiza?"
Ardin memikirkan jawabannya. Ia pun tak terlalu mengingatnya dari mana ia pertama kali tau sosok yang ada di depannya ini. "Kayak nya Ardin tau dari telivisi deh kak. Kakak pernah di wawancara di televisi. Iya iya Ardin baru ingat!"
Redhiza mengacak rambut anak yang berumur 16 tahun itu,"Keren banget. Kamu sering nonton televisi?"
"Itu hanya kebetulan kak, karena papa sering nonton tv ya.. tentang bisnis bisnis gitu."
Redhiza membulatkan bibirnya, "Kak Atifa sebenarnya ada berapa sih adiknya?"
"3 kak Dhiz, dan aku adiknya yang kedua."
"Yang ketiga mana?"
"Lagi main PES'18 kak. Kakak mau ikut? Yuk." ajak Ardin dan Redhiza pun menimang-nimang tawaran Ardin tersebut lalu menyetujuinya dan ia pun bangkit lalu berjalan ke arah ruang bermain mereka. Ruang main mereka bukan yang untuk bayi itu, melainkan tempat mereka bermain PS, Xbox dan electronic games lainnya. Redhiza pun ditantang untuk bermain PES'18. Dengan semangat, Redhiza menyetujui tantangan tersebut. Jika kalah maka salah satu dari mereka harus memberikan 150.000. Siapa takut pikir Redhiza.
Redhiza pun memulai permainannya dan ia memilih team #Barca sedangkan Arkan adiknya Tifa yang ketiga memilih team #realmadrid. Mereka pun dengan semangat dan tentunya dengan fokus yang tinggi untuk memainkan game ini. Sampai-sampai Redhiza melupakan waktu. Atifa yang sudah selesai mandi dan bersiap-siap, pergi menuruni anak tangga rumahnya untuk menemui Redhiza di ruang tamu. Tapi, ketika ia sudah berada di ruang tamu, ia hanya melihat gelas dan toples yang berisi makanan ringan itu saja yang ada. Atifa pun mencarinya ke seluruh ruangan yang ada di lantai bawah. Ia pun sempat menanyakan bi Jum tentang kemana perginya Redhiza. Tapi jawaban bi Jum sangat bukan lah yang diinginkannya.
Atifa pun bertemu dengan Altaf yang baru saja turun dari lantai atas.
"Nampak kak Redhiza nggak?"
Altaf menautkan alis matanya, "Kenapa sih? Kak Redhiza dari tadi itu di atas main PS sama kami."
Atifa dengan menahan emosi nya yang sedikit tersemburat, berjalan ke lantai atas yang dimana ruang main itu berada.
Atifa berkacak pinggang ketika ia melihat Redhiza dengan serunya bermain game bersama dengan adik-adiknya. Bagaimana mereka bisa sedekat ini? Oh ayolah Tif, bukan saat nya kamu memikirkan tentang itu.
Atifa berdeham. Tapi tak seorang pun yang menyadarinya. Ia pun masuk ke dalam ruang main tersebut dan duduk di samping Redhiza, "Seru bet ya."
Redhiza mengangguk, "sstt. Iya." Redhiza masih berfokus ria dan akhirnya ia tersadar bahwa yang berbicara barusan adalah...
Atifa.
Ia pun menolehkan kepalanya perlahan untuk melihat seseorang yang ada di sampingnya. Setelah itu, Redhiza memberikan senyuman cengengesannya kepada Atifa. "Udah siap? Yuk. Aku udah siap kok mainnya." Redhiza pun berdiri dan menarik tangan Atifa agar ia mau beranjak.
"Kak Dhiz tunggu! Duitnya? Kakak dah kalah." ucap Arkan.
Redhiza pun langsung mengeluarkan dompetnya dan memberikan 250.000 kepada mereka bertiga.
"Ini sekalian tip nya untuk bujuk ke kakak perempuanya agar tidak marah-marah ya." ucap Redhiza dan Redhiza pun langsung menarik tangan Atifa.
***
Atifa menghela nafasnya panjang, "Tau nggak sih? Tadi aku nyari orang, terus orang nya nggak ada di ruang tamu."
Redhiza tertawa kecil melihat yang disampingnya masih ngambek, "Kali aja dia sama adik adiknya nggak?"
"Iya itulah, rupanya dia ada di kamar main adikku. Coba bayangin?" Kali ini benar-benar tawanya Redhiza membludak, "Gemes." ucapnya sambil mencubit pipi Atifa.
Atifa hanya bisa mengelakkan kepalanya untuk menghindari cubitan dari Redhiza. Tapi malangnya, kepala nya malah ke-pentok kaca mobil! "Aduhh!" seketika Redhiza langsung memberhentikan laju mobilnya, karena sedikit membuatnya khawatir ketika ia melihat dan mendengar sendiri suara kepentoknya itu terjadi. Redhiza langsung membuka safety belt dan memutar kepala Atifa dengan perlahan dan memeriksa bagian dahi nya yang kepentok sambil menghembuskannya perlahan.
"Apaan sih? Kok malah di hembus? Nggak ngaruh juga."
Redhiza hanya diam dan masih melanjutkan ritualnya. Redhiza pun mengusapkan bekas kepentokan nya tadi yang ada dikepala Atifa dengan rambut Atifa sendiri.
"Ha ini apalagi? Kok malah di usap-usap? Pakai rambut aku lagi."
Redhiza memeriksa nya sekali lagi dan masih tidak menghiraukan ucapan Atifa, "Mana lagi yang kepentok?"
Atifa menggelengkan kepalanya perlahan, karena apa? Karena ia terpana melihat Redhiza dalam radius yang sedekat ini!
"Kalau aku kecil dulu, mamaku suka gituin kepala aku kalau kepala ku kepentok. Biar nggak benjol."
Redhiza membenarkan duduk nya dan kembali memasangkan safety belt nya Atifa, "Maaf ya. Kalau udah buat kepentok tadi."
Atifa hanya membuang wajahnya ke arah jendela, bukan karena ia benci tapi karena dia gemas wahai teman-temannya Atifa.
'Tolong Dhiz, radius antara kita itu di perpanjang. Takut nya aku tidak akan tidur malam ini!' Batin Atifa dan masih membuang wajahnya kearah jendela.
"Tif?"
Atifa menetralkan ekspresinya lalu menatapnya dengan fake gazing nya ke arah Redhiza sekaligus menaikkan sebelas alis matanya, "What?"
"Sebagai permintamaafan, aku akan belikkan apa yang kamu mau."
"Dengar ya Dhiza, seorang Atifa tidak akan tergiur dengan tawaran yang menuju materialisasi."
Redhiza tertegun mendengarnya, mungkin karena baru pertama kalinya ia mendengarkan secara langsung dari seorang wanita?
"Oke, then?"
Atifa menimang-nimang sesuatu, "Ntar malam deh, karena kalau sekarang, waktunya kejepit. Aku juga ada jaga siang hari ini sampai sore."
"Terus ini kita kemana?"
"Ya ke kantor kamu dulu la Dhiz. Jadi kalau aku duluan yang diantar, jadi yang ngantar kamu siapa?"
"Aku bisa di jemput pak man-"
"Udah diem. Hati hati ngendarain mobilnya."
Bukan marah yang dirasakan Redhiza sekarang ini, melainkan apa ya? Sesuatu yang tak bisa di jelaskan pokoknya.
***
"Hati-hati di jalan ketika kamu balik ke rumah sakit." ucap Redhiza sambil menopang-kan tangannya di jendela yang terbuka ketika ia sudah turun.
Atifa menatapnya bingung, "Kenapa?"
"Kenapa?"
"Iss Redhiza udah. Mendingan kamu minggir karena kita lagi drop off. Nanti bisa macet gara-gara mobil aku."
Redhiza tertawa, "Alright. Jangan lupa berdoa dan jangan ngebut!" Atifa mengangguk dan langsung menutup kaca mobilnya dan berlangsung pergi. Redhiza membalikkan tubuhnya dan berjalan untuk memasuki kantornya.
Redhiza langsung membuang wajahnya ketika ia melihat siapa yang ada di depannya sekarang.
"Lagi dan lagi." Redhiza tersenyum miring ketika mendengar lawan bicaranya membuka suara. "Harusnya aku yang berucap seperti itu." Redhiza pun langsung berjalan meninggalkan Clara yang masih mematung di tempat.
"Berhenti." Clara berjalan ke arah Redhiza, "Kamu sudah berani tidak mengacuhkanku seperti tadi?!"
Redhiza menautkan alis matanya, "Kita sudah berakhir dan artinya tidak ada lagi kata antara kita. Mengerti?"
Kali ini, Redhiza benar-benar berjalan dengan langkah panjang agar wanita gila itu tidak akan mengejarnya.
***