Atifa menyusun semua barang-barang yang ada di atas mejanya, melepaskan jas putihnya dan disandarkannya di kursi. Ia mengambil mobile phone nya dan mengecek pesan. Nama yang ia cari tidak muncul di urutan pesan paling atas. Ia pun hanya bisa menghembuskan nafasnya.
Atifa memilih untuk makan malam dahulu sebelum Redhiza datang untuk menemuinya. Ketika ia menutup pintu ruangan kerjanya, Atifa hanya bisa memasang ekspresi terkejut ketika melihat Redhiza sudah duduk di bangku panjang dengan memangku macbook nya. "Ini rumah sakit tuan dan anda tidak boleh mengerjakan pekerjaan anda di sini." Redhiza masih berfokus ke layar macbook nya, "Udah selesai? udah makan?" Atifa memutarkan bola matanya dan memilih untuk duduk di samping Redhiza. Atifa memerhatikan apa yang sedang dikerjakan Redhiza di layar macbook nya itu. "Aih. kok tabel dan diagram gitu semua?" Redhiza hanya mengangguk.
"Nggak pusing?" Redhiza menggeleng perlahan.
"Makan yuk." ajak Atifa.
"Yuk." Jawab Redhiza yang masih berfokus di layar macbook nya.
"Katanya mau makan tapi kok masih-" Redhiza segera mengirimkan data nya ke Aqeel dan mematikan macbook nya. "Udah. Udah selesai. Yuk?" Redhiza bangkit sambil menenteng macbook nya dan melihat Atifa yang masih bergeming ditempat.
"Jadi nggak?" Atifa berdiri, "Jadi. Aku lagi kepingin sate kacang. Yuk." Redhiza mengangguk dan berjalan mendahului Atifa. Atifa pun mengikutinya dan mensejajarkan langkahnya dengan langkah Redhiza. "Letak dulu deh macbook nya di ruangan aku."
Redhiza menautkan kedua alis matanya, "Kenapa? Di mobil aja."
"Karena kita nggak naik mobil. Kita jalan kaki. Daripada macbook mu hilang, mending letak di ruangan aku dulu." Redhiza mengangguk dan mengambil kunci ruangan Atifa dari genggaman Atifa. Atifa memilih untuk menunggu nya dengan memainkan mobile phone nya. Hingga sampai seseorang tak sengaja menabrak dirinya dan membuat fokus Atifa berhilir ke arah seseorang itu. Perempuan itu hanya berjalan dengan angkuhnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Sungguh tak beretika sekali." Atifa pun kembali berfokus kepada mobile phone nya. Setelah selesai meletakkan macbook nya dan mengunci ruangan Atifa kembali, Redhiza pun kembali menemui Atifa. "Udah yuk? Yakin tahan jalan kaki?" Tanya Redhiza untuk memastikan dan Atifa pun mengangguk, "ini sebagai perminta maafan soal pagi tadi." Mereka pun berjalan menuju sate langganan Atifa.
Dalam perjalanan, Atifa menceritakan kejadian yang baru saja terjadi.
"Ya mungkin dia nya nggak di-didik kali makanya untuk mengucapkan kata maaf itu perlu beratus-ratus pemikiran."
"Tapi Dhiz, aku pernah lihat dia deh kayaknya."
"Dimana?"
"Di televisi. Waktu aku nonton program infortainment dan sekilas wajahnya seperti model papan atas, Clara Prinzlo." Seketika otak Redhiza menyuruh nya untuk memberhentikan langkahnya. Sedikit terkejut mendengarkannya.
"Dhiz? kenapa?" Redhiza menggeleng cepat, "Tidak, tidak ada. Aku hanya terkejut mendengarkannya karena namanya yang begitu aneh." Seketika Atifa tertawa, "Ngelantur deh. Apa hubungannya coba kaget karena namanya aneh." Mereka sama-sama berdiam diri dan bergelanyut dalam pemikiran mereka sendiri. Atifa beranggapan bahwa pasti ada sesuatu antara Clara dan Redhiza. Secara Atifa gitu loh yang bisa sedikit membaca pikiran. Sedangkan Redhiza, sedikit menahan amarahnya karena sikap Clara yang begitu beraninya dia menabrak Atifa tanpa sengaja dan tanpa kata permintamaafan. Karena Atifa merasa sangat curios, Atifa langsung menanyakan tentang pemikirannya itu, "Kekasih mu, hm?"
Redhiza menoleh ke arah Atifa, "Oke baiklah. Dia mantan yang sebenarnya aku tidak mau menjalin hubungan dengannya. Karena apa?" Atifa mengernyitkan kedua alis matanya karena kebingungan, "Karena apa? Kok nanya ke aku."
"Karena, relasi antara perusahaan aku dengan ayahnya."
Atifa memanggut-manggut mendengarkan penjelasan Redhiza. "Lalu sekarang kalian bagaimana?"
"Sudah selesai. Tapi si w***********g itu masih mengejar-ngejar ku. Secara aku kan memang cool."
Atifa memukul lengan Redhiza, yang bisa dibilang sedikit kekar "Bicara apa sih? Nggak dengar deh keknya." Redhiza tertawa dan mencuil hidung mancung Atifa. "Dhiz, cukup. Nanti kayak tadi pagi lagi kejadiannya."
"Biar nggak kenapa-kenapa, kamu jalannya di sisi kiri deh, biar aku yang di sisi kanan dekat jalan, bahaya nanti." Atifa mengangguk dan mereka pun melanjutkan perjalanan mereka.
***
Atifa memesan 2 porsi sate ayam kacang plus dengan lontongnya dan segelas air putih hangat. "Kamu mesan 2 untuk kita dua atau untuk kamu aja?"
"Hm, untuk aku dua-duanya! Tenang aku bayar sendiri kok."
"Eh, bukan gitu. Jangan-"
"Udah diem. Sekarang pesan punyamu." ucap Atifa lalu mencari tempat makan untuk mereka berdua.
Redhiza memesan pesanannya lalu berjalan ke meja mereka.
Selang beberapa menit kemudian, pesanan mereka pun datang. Hingga akhirnya Atifa melihat segelas manis dingin terletak di meja mereka.
"Kamu tahu? Kalau sehabis makan makanan yang dibakar apalagi berkuah kacang dengan lontong yang diguyur olehnya, tidak baik untuk minum minuman seperti ini."
"Oke oke aku akan menukarkannya."
"Ehh, jangan. Aku hanya menjelaskannya."
"Tidak. Aku akan menukarkannya. Aku ingin sehat juga sama sepertimu."
Redhiza bangkit dengan membawa segelas mandi dan memberikannya kembali ke babang sate dan menukarkannya dengan segelas air putih hangat.
"Baru pertama kali aku merasa diperhatikan."
Atifa menelan kunyahannya, "Sudah seharusnya seorang dokter perhatian kepada semua orang terhadap kesehatannya." Redhiza mengangguk mendengarkannya dan melanjutkan aktivitas mereka berdua. Setelah selesai, mereka hanya duduk diam terbodoh karena perut yang sudah terisi. Hingga mereka berakhir berdua bertatapan yang membuat Redhiza tertawa melihat ekspresi Atifa yang sudah kekenyangan. "Nggak takut gendut?"
Atifa menggeleng dengan cepat, "Karena tadi siang aku belum makan, jadi aku kelaparan. Dan sekarang aku kekenyangan. Alhamdulillah. Kamu risih ya melihatku seperti ini?"
"Bilang apa tadi? Belum makan? Dari pagi?"
Atifa mengangguk perlahan, "Aku nggak sempat makan, karena tadi ngurusin lansia yang terkena Alzheimer."
"Kamu tidak seharusnya melewatkan makan siang mu Tif. Kalau sakit, siapa yang akan merawat pasienmu?" Atifa menundukkan kepalanya, Redhiza yang melihatnya langsung gelagapan. Takut perempuan ini akan menangis.
"Tif? Aku tidak bermaksud. Aku hanya, hanya-"
"Khawatir? Mungkin?" Lanjutnya.
Atifa menatap Redhiza dengan tatapan terkejut. Tapi kembali ia menetralkan ekspresi nya. Tapi tidak dengan hatinya yang sedang meloncat sana-sini saat ini. "Dhiz, pulang yuk? Aku nggak enak badan kayaknya." Redhiza mengangguk dan langsung bangkit. Ia menuntun Atifa berjalan. Jujur, saat ini wajah Atifa sudah mulai pucat. Tak ada langkah lain, Redhiza menggendong Atifa
dipunggungnya. Atifa pun tidak menolak dan mengalungkan tangannya di leher Redhiza.
Tak lama kemudian, Atifa teringat bahwa ia belum membayar sate abang itu! "Dhiz berhenti!"
"Kenapa? mau muntah?"
"Bukan! Aku belum bayar sate nya."
Redhiza terkekeh kecil, "Udah dibayar kok."
"Haa kapan?"
"Tadi pas aku nukar air minum. Aku bayar aja sekalian, karena kamu tau kan, bahwa aku tidak akan membiarkan wanita yang membayar kalau dalam keadaan berdua."
"Berarti sama semua wanita yang berduaan dengan mu, kamu yang bayarin?" Tanya Atifa dengan nada yang lemah.
"Especially teruntuk yang special aja."
Atifa yang hendak memejamkan matanya, kembali terbuka lebar ketika mendengar ucapan Redhiza barusan. Ia pun memilih untuk memejamkan matanya kembali dan menyandarkan kepala nya di bahu Redhiza. Redhiza pun hanya bisa tersenyum gemas layaknya seseorang jatuh hati.
Eits? Jatuh hati? Apakah benar? Ah tidak mungkin. Ini hanya perasaan sesaat saja. Mungkin dan berharap seperti itu.
***