Jane sering bertanya pada dirinya sendiri, apa benar ia menginginkan Daniel sebagai seorang suami? Selain hubungan ranjang, mereka susah disatukan. Energi keduanya nyaris tidak pernah sejalan. Baik dalam pembicaraan biasa maupun percakapan serius. Secara kepribadian Jane sedang mengalami pasang surut emosi, sedang Daniel? Pria kasar sekaligus pemaksa. Keduanya tidak pernah klop, jadi lebih menghabiskan kebersamaan dengan dua hal. Kalau tidak bercinta, pasti bertengkar. Tapi anehnya saat tidak bertemu, rasanya hampa. Apa bisa itu disebut dengan cinta atau hanya obsesi semata? Jujur saja, Jane tertarik pada Daniel karena tampilan fisiknya. Ibarat makanan, Daniel terlihat legit. “Aku kan bilang besok.” Jane terlihat keberatan saat Daniel tiba-tiba menerobos apartemennya subuh-subuh. Sebent

