Jane tidak tahu jam berapa Daniel pulang. Tahu-tahu ia merasa ada yang naik ke atas ranjang dan memeluknya dari belakang. Jemari pria itu menyusup di pinggang, mencari tempat paling nyaman. Awalnya Jane risih, tapi lama-lama nyaman lalu terlelap lagi. Bau cologne Daniel seperti sudah bersatu dengan napasnya. Hangat tapi sedikit membangkitkan gairah. Tapi karena rasa kantuk, keduanya lebih memilih tidur. Tepat pukul enam pagi, mereka sama-sama bangun. Daniel langsung ke kamar mandi untuk cuci muka, diikuti Jane yang terlihat panik, takut terlambat. “Ini lakukan dulu. Aku tunggu.” Sebuah testpack disodorkan Daniel. Jane terpaku sebentar,”sekarang?” “Ya, kapan lagi?” cetus Daniel merobek pembungkusnya lalu memberi isyarat agar Jane cepat-cepat mengambil isinya. “Tapi aku bisa telat nan

