Leona dan Erik pun sampai ke rumah. Wajah Leona terlihat masih murung. Mungkin pertemuan dengan ibunya juga Panji menjadi faktor kesedihannya saat ini. "Apa kau ingin makan sesuatu?" tanya Erik yang mencoba mencairkan suasana. "Tidak, aku sudah kenyang. Makanan tadi sangat enak." Leona pun berjalan memasuki kamarnya. "Makanan apa? Bahkan kamu belum makan apapun karena bertemu dengan dua manusia tanpa hati tadi," gumam Erik. Leona menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang, lalu menangis tersedih sedih. Bantal guling menjadi saksi air mata yang jatuh menetes. Seketika ia pun teringat dengan perlakuan ibunya sejak dulu. Dulu, saat dirinya baru berusia lima tahun, ia sering sekali mendapat perlakuan tidak adil dari ibunya. Livia yang saat itu masih berusia tiga tahun menjadi prioritas utama i

