Tiba di Kota A

1101 Kata
Nhosa baru saja keluar dari dalam pesawatnya setelah tiba di bandara Kota A, dengan perasaan was-was dan gugup ia melangkah sembari mendorong kopernya menuju kearea penjemputan di bandara. Tiba di area penjemputan Nhosa langsung melihat tulisan disebuah papan putih bertuliskan 'Selamat Datang kembali Anak Gadisku Nhosa Ellizabet Morries' papan tulisan itu dipegang oleh seorang wanita paruh baya yang cantik berpenampilan elegan dengan dibalut busana serba barang brend ternama. Nhosa ingin menyapa namun malu, ia hanya berdiri mematung memandang wanita paruh baya itu yang terlihat celingak celinguk mencari sosoknya, saat kedua pandangan mata Nhosa dan wanita paruh baya itu beradu Nhosa tersentak mendengar suara teriakan bahagia wanita paruh baya itu "NHOSA!!!.." Wanita paruh baya itu berlari tak sabar ingin menghampiri Nhosa, tiba di hadapan Nhosa wanita paruh baya itu langsung memeluk Nhosa erat layaknya seperti pelukan seorang Ibu yang telah merindukan anaknya sekian lama. "Akhirnya kita bertemu, Tante sudah tidak sabar menunggu kedatanganmu." Ucap wanita paruh baya itu hanya disambut dengan senyuman canggung oleh Nhosa. "Bagaimana pernerbangannya? Apa kau lelah?" Tanya wanita paruh baya itu menyerobot "Perjalananya cukup menyenangkan Nyonya." Jawab Nhosa membuat wanita paruh baya itu menyerengit tak suka "Siapa yang kau panggil Nyonya, Sayang. Panggil aku Tanten Rose, Mama juga bisa." Ucap wanita paruh baya itu membuat Nhosa tersenyum malu "Baik Tante." Sahutnya Nyonya Rose menatap Nhosa dari ujung kaki hingga ujung kepala "Kau telah tumbuh menjadi gadis cantik yang menggemaskan." Ucap Nyonya Rose lalu menggandeng tangan Nhosa setelah memerintahkan seorang supir untuk mengambil alih barang bawaan milik Nhosa "Ayo kita pulang, kau pasti capek. Tante telah menyiapkan makanan kesukaanmu setelah makan kau harus tidur oke, Tante tau kau pasti lelah. Oh iya, selama bersama Tante kau jangan sungkan anggap Tante adalah Mamamu. Kau mengerti sayang." Ucap Nyonya Rose kembali dan Nhosa hanya mengangguk Sementara itu di perusahaan Hose Group, Juan terlihat gelisa ia bahkan tak fokus bekerja "Hari ini gadis itu tiba di Kota A, entah dimana dia berada sekarang?" Pikir Juan sebelum ia melotot lalu menggelengkan kepalanya cukup keras "Apa yang ku pikirkan, kenapa aku jadi kepikiran gadis itu terus." Ucap Juan sebelum menampar dirinya sendiri "Sadarlah Juan, kenapa kau memikirkan orang asing itu sekarang. Sekarang fokus bekerja dan lupakan gadis itu." Ucap Juan sebelum kembali melanjutkan pekerjaanya memeriksa beberapa dokumen. **** Di kediaman Hose, Nhosa terlihat makan siang bersama Nyonya Rose sesekali terdengar tawa keduanya disela-sela aktivitas makan mereka, pembawaan Nyonya Rose yang ramah dan hangat membuat Nhosa cepat akrab dengannya. "Ayo, Tante antar kau ke kamarmu, sayang." Ucap Nyonya Rose setelah mereka menyelesaikan makan mereka, Nhosa mengangguk lalu berdiri mengekor di belakang Nyonya Rose menuju kamarnya. Tiba di lantai dua, Nyonya Rose berhenti tepat di depan pintu kamar milik Nhosa sambil berkata "Ini kamarmu sayang, itu kamar milik anak Tante," Nyonya Rose menunjuk kearah pintu kamar yang berada tepat di depan pintu kamar milik Nhosa "Dan ruangan itu adalah ruangan kerja milik Juan." Ucap Nyonya Rose kembali seraya menunjuk kearah ruangan yang berada di sisi kanan kamar milik Juan. Nyonya Rose membuka pintu kamar milik Nhosa kemudian melangkah masuk diikuti oleh Nhosa yang mengekor, mata Nhosa terbelalak melihat kamar yang akan di tempatinya begitu mewah, luas dan indah dengan nuansa putih. "Kau suka kamarmu, sayang?" Tanya Nyonya Rose menatap kearah Nhosa Nhosa dengan segera menganggukan kepalanya "Ini terlalu indah Tante." Jawab Nhosa membuat Nyonya Rose tersenyum lega mengetahui Nhosa menyukai kamar yang disiapkannya. "Baiklah sekarang kau istirahatlah, kau pasti lelah." Ucap Nyonya Rose "Maaf Tante, tapi aku tidak bisa istirahat sekarang. Aku harus ke perusahaan tempatku bekerja karena semua pemaga disuruh berkumpul di perusahaan 1 jam lagi untuk perkenalan diri." Jawab Nhosa "Kalau begitu mari Tante antar," usul Nyonya Rose membuat Nhosa segera menggelengkan kepalanya "Tidak perlu Tante, aku tahu Tante pasti lelah setelah menjemputku tadi di bandara, aku pergi sendiri saja. Sekarang Tante istirahat agar nanti kita bisa menghabiskan waktu berdua." Usul Nhosa membuat Nyonya Rose mengangguk tanda mengerti "Kalau begitu Tante akan meminta supir untuk mengantarmu ke perusahan tempat kau bekerja, bagaimana?" Usul Nyonya Rose kembali Nhosa seketika menolak, ia berpikir tidak nyaman jika harus diantar supir menggunakan mobil mewah bisa-bisa orang-orang di perusahaanya salah paham mengiranya anak orang kaya. "Lebih baik aku pergi sendiri, naik bus atau taksi Tante. Jika selalu diantar supir maka aku tidak akan cepat beradaptasi disini." Tolak Nhosa "Tapi sayang, kau baru tiba disini kau belum menghafal jalanan di Kota ini bagaimana jika kau tersesat." Ucap Nyonya Rose panik "Aku tidak akan tersesat Tante, lagi pula aku mempunyai ponsel jika seandainya aku tersesat aku akan sharelok pada Tante agar Tante bisa menjemputku." Balas Nhosa mau tak mau Nyonya Rosepun mengalah dan membiarkan Nhosa pergi seorang diri menuju perusahaan tempatnya bekerja. **** Tiba di perusahaan, Nhosa berdiri bersama tujuh orang pemagang lainnya, dan 3 orang kepala tim bagian pemagang masing-masing devisi kini telah berdiri depan Nhosa dan tujuh orang lainnya. "Kalian sudah membawa dokumen yang diminta?" Tanya salah seorang ketua tim dan Nhosa serta pemagang lainnya mengangguk "Baiklah sekarang kalian pergilah ke bagian HRD, serahkan berkas kalian agar hari ini dapat dibuatkan kartu pekerja untuk tanda pengenal kalian, setelahnya kalian boleh pulang." Ucap lelaki itu kembali membuat Nhosa dan beberapa rekan pemagangnya mengangguk tanda mengerti. Sementara itu di ruangannya, Juan menyerengit saat membaca CV para pemagang di perusahaan mereka, Juan mengucek matanya ketika ia mendapati salah satu CV terdapat foto milik Nhosa "Gadis itu, ini benar gadis itu!" Pekik Juan sama sekali tidak menyangka akan mendapati keberadaan Nhosa di tumpukan CV para pemagang "Ternyata dia bekerja di perusahaanku." Gumam Juan seraya beranjak berdiri lalu bergegas meninggalkan ruangannya berniat menemui para pemagang. Juan melangkah dengan terburu bahkan mengabaikan Lucha yang memanggilnya saat ini tujuanya adalah bagian perencanaan karena kebetulan Nhosa terdaftar sebagai pemagang dibagian devisi perencanaan dan pengembangan proyek. Tiba di ruangan perencanaan Juan langsung menghampiri kepala devisi, membuat Pak Antonio selaku kepala Devisi pemasaran spontan berdiri dengan wajah pucat dan panik. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Tanya Pak Antonio dengan suara bergetar takut ia melakukan kesalah sampai Juan selaku CEO datang menemuinya, apa lagi Juan terkenal bukanlah orang yang mau memberikan kesempatan kedua salah sedikit langsung dipecat. "Dimana para pemagang devisi perencanaan dan pengembangan?" Tanya Juan langsung to the point "Mungkin mereka sudah pulang Tuan," jawab Pak Antonio "Telpon mereka semua suruh mereka kembali sekarang." Ucap Juan dan dengan segera Pak Antonio langsung mengirim pesan pada Nhosa dan dua rekan tim pemagang devisi perancangan dan pengembangan lainnya. Juan melangkah keluar ruangan Devisi perancangan dan pengembangan lalu seketika menghentikan langkahnya saat dari kejauhan tepatnya di area lobi perusahaan ia melihat Nhosa tengah duduk di kuris area tunggu. "Itu dia," gumam Juan lalu berlari menuju lift untuk turun ke loby Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN