Buru-buru kubereskan peralatan yang baru saja kupakai utuk menolong persalinan tetanggaku. Selepas maghrib tadi seorang Pak Jagat menjemputku. Ia mengatakan putrinya akan melahirkan. Aku pun menyusul beliau karena kebetulan tetangga jauh. Jam di ponselku sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Yang ada di otakku saat ini adalah Mega. Semakin gelap hari semakin aku gelisah. Istriku sendirian di rumah karena itu aku buru-buru pulang. Rumah sedikit ramai saat aku tinggal, ada beberapa anak yang masih numpang belajar di sana. Namun, paling lama jam delapan mereka sudah pamitan pulang ke rumah masing-masing. Setelah berpamitan pada pemilik rumah dan memastikan wanita yang kutolong dalam kondisi baik, segera kustarter motor matic pemberian salah satu sahabat Mega. Kondisi jalan yang ge

