47. Pijat Kandungan

1921 Kata

"Mas, istirahat aja di rumah," bisik Mega lirih tepat di belakangku. Aku membalikkan tubuh menghadap ke arahnya. Aku menduga istriku sudah akan bersiap bangun dan menuju kamar mandi, mengingat azan subuh sudah hampir satu jam berlalu. Sedikit banyak aku hafal rutinitas pagi Mega, meskipun terkadang aku menjahilinya dengan serangan fajar. Aku memang masih merasakan kantuk yang luar biasa, tetapi membiarkan istriku sendirian di balai desa. Ada rasa tidak ikhlas. Hubunganku dengan pemuda tampan di depan rumah kami memang sudah membaik. Aku sudah menganggapnya sebagai rekan kerja. Tidak ada kecemburuan yang menghangat seperti awal-awal dia pindah. Namun, tetap saja rasanya tidak rela melihat Mega bekerja sendiri. Mengingat kesulitannya beradaptasi dengan warga sekitar yang berbeda den

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN