46. Sungsang

1512 Kata

Aku masih merasakan beratnya kedua mataku membuka lebar. Namun, ucapan Novi tentang adiknya yang akan melahirkan membuatku berupaya sadar. Setelah pamit pada Mega, aku bergegas menyalakan motor menyusul Novi. Sebetulnya aku kasihan dengan Mega, selama ini aku tidak pernah meninggalkannya saat jam tidur. Apalagi setelah peristiwa dua makhluk kurang ajar yang menyamar jadi diriku, membuatku lebih was was dan khawatir. Sebelum berangkat kuingatkan beberapa hal agar dipatuhi Mega. Berharap istriku baik-baik saja. Meskipun, tidak tega aku tidak bisa menolak permintaan tetangga yang butuh bantuanku. Andai bisa memilih aku ingin menjadi manusia biasa saja. Manusia dengan pekerjaan wajar, entah itu sebagai petani, buruh atau pegawai biasa. Tidak pernah aku bermimpi menjadi orang besar ka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN