Baru juga aku berhasil membuka gembok pintu depan rumah. Saat mendengar suara seorang wanita berteriak-teriak memanggilku dengan suara keras dan penuh ancaman. Rumahku memang masih memakai gembok untuk pengaman. Sengaja belum kuganti dengan pintu kekinian karena tidak etis rasanya seorang dukun memiliki rumah mentereng. Sedangkan di sekitarnya masih banyak warga yang tidak mampu. Aku hanya mencoba beradaptasi dengan sekitar. Agar tidak terlalu mencolok. Meskipun, dengan mudah kurenovasi dalam sekejab. Bahkan para tamuku sudah menawarkan jasa untuk merenovasi full bangunannya, tetapi semua aku tolak dengan alasan belum waktunya. Alasan yang sedikit ngaco dan tidak masuk akal, tetapi siapa yang berani membantah dukun sepertiku. Pada takut kena karma dan kualat mereka. Menurutku sih, rum

