Semakin cemburu

1397 Kata
Salsa segera berjalan masuk ke dalam apartemennya, melihat ada beberapa pekerjaan rumah yang belum diselesaikan. "Sepertinya aku tidak bisa segera beristirahat, melihat ada banyak pekerjaan yang belum aku kerjakan sejak kemarin," ucap Salsha sambil masuk ke dalam apartemennya. Apartemennya terlihat sangat sepi karena sudah tidak ada sepupunya yang berada di dalam. "Kak Reiner pasti sudah berangkat ke rumah sakit," ucap Salsa sambil memegang pundaknya yang terlihat sangat lelah. "Sungguh membuatku sangat lelah, aku harus segera pergi untuk beristirahat." Salsa membaringkan tubuhnya tepat di atas ranjang. Tidak menunggu lama Salsa segera tidur, bahkan dirinya belum melepas sepatu yang menempel di kalinya. Andika duduk di dalam ruangannya sambil membayangkan wajah Salsa, terasa sangat menyakitkan saat melihat Salsha dekat dengan pria yang jauh lebih tampan dari Andika. "Kenapa kamu bisa sangat mudah melupakan ku?" Andika terus memikirkan bagaimana caranya bisa mendapatkan Salsa kembali, rasanya sangat sulit untuk bisa mendapatkan Hati Salsa. "Aku benar-benar mencintaimu, tapi kamu justru lebih nyaman saat bersama dengan pria lain." Andika terus mencemburui Salsa, meskipun ada banyak wanita yang ingin menjadi kekasihnya, namun Andhika tetap ingin jika Salsa menjadi pendamping hidupnya. "Apakah aku salah jika aku menginginkan Salsa menjadi pendamping hidupku," gumam Andika sambil terus membayangkan jika dirinya bisa menjadi suami Salsa. "Impian ini terasa sangat indah, namun ini hanyalah khayalan semata." Andika menganggap semua yang ada di dalam pikirannya adalah sebuah khayalan, meskipun jika Andika terus mencoba untuk bisa mendapatkan Hati Salsa. "Aku tidak tahu, Kenapa dahulu aku bisa sangat mencintai Salsa?" Sebenarnya Andika memiliki rasa bimbang untuk terus melanjutkan rasa sayangnya kepada Salsa, namun Andika tidak bisa melupakan Salsa. "Apakah perlu aku terus mendekatinya?" Pikiran Andika semakin kacau, namun saat Andika memikirkan Salsa, tiba-tiba ada panggilan telepon masuk. "Hai Andika," ucap Lena. "Ada apa Lena?" Andika sama sekali tidak menyukai jika Lena meneleponnya. "Aku hanya ingin bersenang-senang dengan mu, menikmati keindahan kota ini." Lena merasa sangat senang jika dirinya bisa berduaan dengan Andika, meskipun mereka tidak memiliki hubungan yang spesial. "Aku sepertinya sangat sibuk hari ini, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan." Andika menolak ajakan Lena untuk pergi bersenang-senang. "Bolehkah aku membantu pekerjaan mu yang tertunda." Lena menawarkan dirinya untuk bisa bersama Andika. "Baiklah, nanti sore sepulang kerja Aku akan membawa beberapa berkas untuk bisa diselesaikan." Andika sebagai seorang dokter harus menyiapkan beberapa berkas untuk laporan kerjanya, Andika yang tidak biasa mengerjakan sendiri merasa sangat kewalahan disaat harus memiliki laporan kerja. "Jika hanya masalah data, serahkan semuanya kepadaku, aku akan membantumu." Lena tersenyum bahagia ketika dirinya bisa membantu Andika, karena bisa menjadi salah satu sarana untuk bisa mendekati Andika. "Baiklah setelah aku pulang kerja, Aku akan segera menelepon mu." Andika tiba-tiba mematikan ponselnya, saat Lena akan menjawab ucapannya. "Kenapa Andika tiba-tiba mematikan ponselnya, seharusnya dia menunggu Aku menjawabnya." Lena terlihat sangat kesal ketika melihat sikap Andika yang begitu kasar kepadanya. "Jika bukan karena ketampananmu, mungkin aku tidak akan pernah mau mendekatimu." Lena memang sangat mencintai Andika, namun dirinya harus berjuang untuk bisa dekat dengan Andika. "Apakah Andika memiliki masalah? Aku melihat jika dirinya memiliki banyak masalah," ucap Lena sambil memikirkan Andika. Terlihat sangat jelas jika Lena sebenarnya tidak tulus mencintai Andika, Lena hanya ingin jika dirinya bisa jauh lebih dekat dengan Andika. "Aku harus melakukan perawatan sebelum bertemu Andika, sungguh aku sangat senang jika akan bertemu Andika." Lena setelah mengambil tasnya untuk pergi ke salon. "Sepertinya aku harus terlihat lebih cantik agar bisa mendapatkan hati Andika." Andika masih sangat sibuk duduk di dalam ruangannya, hari ini Andika tidak ada jadwal operasi, tentu saja pekerjaannya akan terlihat sangat ringan. "Jika aku sering bertemu dengan Lena, aku takut jika Lena akan jatuh cinta padaku," gumam Andika. Andika mengingat jika kedekatannya akan menambah rasa kebencian jika sampai Salsa mengetahui. "Aku yakin pasti Salsa akan semakin benci saat aku bersama dengan wanita lain." Namun karena Andika sudah terlanjur janji, Andika tidak mau menghianati janjinya. "Aku akan mencoba untuk menepati janjiku," ucap Andika. Andika tidak mau terlalu pusing memikirkan hubungan Salsa dengan Reza, jika mengingat kedekatan mereka tentu saja akan membuat Andika merasa sakit. "Sepertinya aku harus mencari tahu, siapa anak kecil yang mereka selamatkan." Andika sangat penasaran dengan status anak kecil tersebut. "Aku akan segera pergi ke ruangan anak kecil tersebut, Aku tidak akan membiarkan Salsa semakin dekat dengan pria lain." Andika segera pergi meninggalkan ruangannya menuju ke ruangan anak kecil itu, terlihat sosok anak kecil yang sedang bermain. Andika segera menghampiri anak kecil tersebut, melihat wajahnya yang begitu ceria tentu saja membuat Andika merasa penasaran. "Siapa namamu?" Andika bertanya kepada anak kecil tersebut. "Namaku aku Alan, usiaku sekitar 6 tahun.'' sebenarnya anak kecil itu terlihat sangat pandai, namun Andika merasa sangat heran kenapa orang tuanya tega menelantarkan anaknya. "Kenapa kamu berkeliaran di tengah jalan?" "Aku mencari kedua orang tuaku yang meninggalkanku sendirian, Aku sangat ingin jika bisa menemukan mereka." Anak kecil tersebut terlihat sangat polos, tentu bisa membuat Salsa semakin merasa kasihan. "Jadi ini yang membuat Salsa sampai tidak pulang semalam, karena merasa sangat sedih jika harus melihat anak kecil tidak memiliki orang tua," demam Andika sambil menatap wajah anak kecil tersebut. "Apakah saya bersalah?" Alan bertanya kepada Andika, Andika justru tersenyum saat melihat sikap Alan. "Kamu sama sekali tidak membuat masalah, tentu aku tidak akan memarahi mu." Andika tersenyum sambil berjalan meninggalkan anak kecil tersebut. "Aku masih sangat bersalah kepada Salsa, aku selalu menuduhnya bersikap tidak setia.'' Andika tidak ingin jika sampai Salsa terus mengarah padanya, Andika sangat ingin jika bisa melihat Salsa tersenyum. "Aku akan berusaha agar Salsha bisa tersenyum padaku, Aku tidak seburuk seperti yang dipikirkan.'' Saat Andika akan kembali ke ruangannya, tiba-tiba Andika melihat ada pria tampan yang membawa bunga. "Kenapa Bagas datang ke rumah sakit ini? Membawa bunga yang sangat indah tentu saja akan membuat Salsa semakin jatuh cinta." Andika sangat tidak suka ketika melihat kedatangan Bagas. "Aku harus banyak bersabar saat menghadapi masalah ini, aku yakin suatu saat pasti akan ada keindahan yang menghampiriku." Karena tidak ingin terlalu cemburu dengan Bagas, Andika berusaha untuk bisa bersikap jauh lebih baik daripada Bagas. "Andika Apakah kamu mengetahui ke mana perginya Salsa? Andika sangat terkejut saat melihat Bagas bertanya kepadanya. Wajah Bagas tersenyum saat bertanya kepada Andika, namun Andika justru merasa kesal saat mendengar Bagas bertanya kepadanya. "Aku tidak tahu kemana perginya, Aku bukan kakaknya ataupun pacarnya," jawab Andika sambil meninggalkan Bagas. Karena merasa sangat kesal, Andika tidak bisa menjawab pertanyaan dengan sangat lembut, justru dia bersikap sangat kasar. "Aku tidak tahu harus berbuat apa, lebih baik aku menjawab dengan ucapan kasar," gumam Andika. Rasa cemburu yang ada di dalam hati Andika membuat dirinya semakin merasa kesal ketika harus berhadapan dengan Bagas, apalagi Bagas terlihat jauh lebih tampan darinya. "Kenapa banyak sekali pria yang ingin menjadi kekasih Salsa, saingan ku semakin banyak?" Andika merasa dirinya harus lebih berjuang untuk mendapatkan Hati Salsa. Karena takut Bagas segera ke apartemen Salsa, Andika segera keluar menuju ke apartemennya. "Aku akan menjaga di depan pintu kamar Salsa, Aku tidak mau jika sampai Bagas datang ke apartemen Salsa.'' Andika sudah sangat takut jika sampai Bagas dan Salsa mengobrol di dalam apartemennya. "Aku tidak akan membiarkan mereka semakin dekat, Aku sangat takut jika sampai mereka memiliki hubungan." Rasa cemburu dan khawatir menjadi satu, berharap jika Sasa bisa mencintai dirinya. "Entah sampai kapan Salsa terus bersikap kasar kepadaku, padahal orang tuanya sudah sangat setuju jika aku meminangnya." Dukungan orangtua tidak menjadi Salsa jatuh cinta kepada Andika, rasa kecewa yang pernah Andika torehkan membuat Salsa enggan Mencintainya. "Kenapa dahulu Raisa harus mendekatiku, kini aku harus merasakan pahitnya cinta." Andika mulai merasa menyesal ketika di dekat dengan Raisa, Selama ini Raisa mencintai Andika, bahkan ia sangat berani menghampiri Salsa untuk mengungkapkan perasaannya. "Jika terus saja begini, Aku tidak akan bisa mempertahankan perasaanku untuk Salsa." Sepanjang perjalanan terus memikirkan hubungannya dengan Salsa, berharap jika dirinya bisa menjadi pasangan yang sangat serasi. "Aku sangat ingin suatu saat aku bisa menjadi pasangan yang sangat serasi, entahlah mungkin itu adalah sebuah mimpi yang tidak akan pernah aku rasakan." Andika sebenarnya merasa ini adalah suatu hal yang sangat sulit untuk dijalani, Namun karena cinta Andika harus lebih berjuang. Kebahagiaan akan datang ketika kita terus berusaha, namun jika kita putus asa di saat berjuang, maka kebahagiaan itu akan sulit untuk di raih, itu adalah salah satu konsep Andika untuk terus berjuang mendapatkan hati Salsha. Mencintai seseorang yang pernah singgah di hatinya sangat sulit untuk membuatnya bisa kembali, apalagi noda cinta pernah ditorehkan ke dalam hatinya, tentu saja perjuangan Andika sangatlah tidak mudah untuk bisa mendapatkan kembali hati Salsha.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN