Telepon Mama

1556 Kata
Kedua orang tua Salsa sangat bahagia ketika melihat Salsha dekat dengan Andika, mereka sangat Ingin jika Salsha dan Andhika bisa berjodoh. Meskipun hidup di zaman yang sangat modern, namun mereka sangat ingin menjodohkan putri mereka dengan laki-laki yang sangat baik. Mereka sangat tidak ingin jika sampai menikah dengan laki-laki yang tidak dicintainya, apalagi berasal dari keluarga yang sama sekali tidak mereka kenal. "Papa, Apakah perlu kita menelpon Salsa untuk memastikan keadaannya hari ini." Mama sangat ingin mendengar keadaan Putri kesayangannya, karena takut jika sampai terjadi sesuatu pada Salsa, Salsa adalah Putri tunggal yang harus mereka sayangi. "Sebaiknya kita harus meneleponnya, berharap jika Salsa baik-baik saja di sana," jawab Papa. Papa sangat kangen dengan Salsa, jarak jauh yang memisahkan keduanya, membuat mereka merasa kesepian. "Baiklah, Mama akan mengambil ponsel untuk menelepon Salsa," ucap Mama. Mama segera pergi ke kamarnya untuk mengambil ponselnya, saat berjalan menuju kamar mama teringat jika Salsa dan Andika harus saling bersama agar tumbuh rasa cinta. "Sebaiknya aku harus menelepon Andika terlebih dahulu, Aku ingin mereka bisa sangat dekat." Tiba-tiba Mama ingin menelepon Andika, berharap jika Andika akan memberikan perhatiannya kepada anaknya. "Selamat sore Andika," ucap Mama saat menelepon calon menantunya. "Sore Mama, Apakah Mama baik-baik saja?" Andika menyapa Mama Salsa dengan sangat ramah, meskipun Andika kesal dengan sikap Salsa, namun Andika tidak ingin jika sampai terjadi sesuatu pada Salsa. "Mama sangat baik, tapi Mama sangat ingin jika melihat kalian berdua bersama." Mama tersenyum saat mengobrol dengan Andika. "Ide bagus Ma, Andika sangat ingin bersama dengan Salsa nanti malam, untuk bersenang-senang menikmati keindahan malam." Andika menyetujui ucapan Mama Salsa, Padahal malam ini Andika sedang bekerja, tentu saja akan sulit jika sampai Andika meninggalkan rumah sakit. "Mama sangat senang jika kamu mengajak Salsa untuk makan malam, pasti Salsa akan mencintaimu jika sering bersama." Mama sangat bahagia ketika mendengar suara Andika, tanpa Mama sadari jika sebenarnya Andika sedang menghadapi sebuah masalah dalam hubungannya. "Mama minta maaf jika sikap Mama terlalu berlebihan, mama hanya ingin melihat Salsa menikah denganmu." Karena tidak ingin jika sampai Andika berpikir buruk mengenai keluarganya, Mama meminta maaf terlebih dahulu agar tidak terjadi salah paham. "Mama sama sekali tidak bersalah, justru Andika sangat senang mendapat dukungan dari Mama," jawab Andika. Melihat Mama sangat menyayangi Andika, membuat Andika menjadi lebih bersemangat lagi untuk mendapatkan cinta Salsa, meskipun terasa sangat sulit namun Andika akan terus mencoba. "Mama Salsa sebenarnya tidak mengetahui hubunganku dengan Salsa, Jika dia mengetahui tentu saja akan sangat kecewa," gumam Andika. Andika merasa jika mama Salsa benar-benar berharap jika dirinya bisa menikahi putrinya, meskipun Salsa terus menolak untuk menjadi kekasih Andika. "Sampai jumpa, besok Mama akan meneleponmu lagi.'' Mama segera mematikan ponselnya, karena tidak ingin jika sampai Papa mengetahui sikap mama. "Jika sampai Papa tahu aku menelepon Andika untuk menemui Salsa, tentu saja papa akan sangat marah," ucap Mama sambil memegang ponselnya. Papa tidak suka jika mama menelepon Andika, Papa hanya tidak ingin jika Salsa dianggap sebagai w************n. "Ya seorang perempuan memang tidak pantas menelepon laki-laki, namun aku tidak mau jika sampai Salsa menikah dengan laki-laki selain Andika." Mama tidak ingin jika sampai memiliki menantu berasal dari keluarga yang tidak diketahuinya, tentu saja akan membuat dirinya semakin kecewa. "Andika sudah sangat jelas asal usul keluarganya, tentu saja aku tidak akan kecewa dengan latar belakang keluarga Andhika." Mama tersenyum sambil berharap jika Salsa bisa menikah dengan Andika. "Apakah ada yang salah? Kenapa Mama sangat bahagia?" Papa melihat jika istrinya sedang bahagia, seperti sedang mendapatkan sesuatu yang sangat berharga. "Tidak ada sesuatu yang perlu Papa khawatirkan, hari ini mama hanya sangat senang sekali." Terlihat sangat jelas diwajah Mama bahwasanya Mama benar-benar bahagia, tidak tahu apa yang sebenarnya membuat Mama bahagia. "Ada apa Ma? Papa sangat penasaran dengan sesuatu yang Mama sedang lakukan?" Papa sangat paham dengan sikap istrinya, jika mama tersenyum bahagia, tentu saja ada sesuatu yang sangat spesial. "Memang salah jika mama tersenyum? Mama ingin hari-hari Mama dipenuhi dengan rasa bahagia." Mama tidak ingin memberitahu suaminya karena takut jika sampai Papa mendengar dirinya menelepon Andika tentu saja akan membuat Papa sangat kecewa. "Baiklah jika mama tidak mau bercerita, Papa tidak akan maksa kan mama untuk bercerita." Papa tidak ingin melanjutkan perdebatan dengan Mama, melihat mama bisa tersenyum bahagia, Papa sudah sangat senang. "Ini ponselnya, Papa bilang akan menelpon Salsa," ucap Mama sambil memberikan ponselnya. "Papa sangat kangen dengan Salsa, Papa sangat berharap jika Salsa tidak sibuk." Papa segera menelepon Salsa, tidak lama kemudian Salsa segera mengangkat ponselnya. "Selamat sore Papa, Papa sedang apa?" Salsa bertanya kepada Papanya. "Loh kamu kok seperti berada di dalam bus?" Papa melihat kursi bus yang Salsa duduki. "Sekarang jam kerja Salsa tidak sama dengan Kak Rainer, Salsa harus berangkat kerja sendiri," Jawab Salsa sambil tersenyum. "Kasihan sekali kamu Sa, harus naik angkutan umum," ucap Papa dengan sangat sedih. Papa sungguh merasa kasihan ketika melihat putrinya harus naik angkutan umum untuk sampai ke apartemennya. "Justru hal ini sangat menggembirakan, Salsa belum pernah menikmati saat Salsa kuliah," ucap Salsha dengan senyuman manis di bibir nya. "Kenapa kamu tidak membawa mobil mu saja, Papa sungguh tidak tega jika harus melihatmu naik bus setiap hari." "Salsa tidak ingin menambah kemacetan di kota ini, Papa tahu setiap hari Jakarta sangat macet, tentu saja jika sampai Salsa membawa mobil, kendaraan akan semakin macet.'' Salsa menolak permintaan Papanya, Mama yang duduk di samping Papa terlihat sangat khawatir melihat keadaan Salsa. "Kamu pasti sangat lelah sayang? Mama yakin itu." Mama tidak ingin jika melihat Salsa sampai merasa kelelahan, melihat Salsa bisa menjadi seorang dokter adalah impian Mama, namun jika melihat Salsa harus bekerja keras, tentu saja Mama tidak akan tega. "Salsa baik-baik saja Ma, Mama tidak usah khawatir." Salsa tidak ingin melihat Mama sangat khawatir kepada dirinya, mencoba untuk terus bisa bersabar menghadapi perjuangan dalam berkarir. "Kenapa Andika tidak mengajakmu pulang bersama?" Mama saya ingin mendengar jawaban dari Salsa. "Saat ini Andika masuk jadwal sore, Salsa tidak mungkin jika harus bareng bersamanya." Mama sangat sedih mendengar jawaban putrinya, ada rasa sangat kecewa ketika melihat Salsa harus naik angkutan umum. "Hati-hati di jalan sayang, Mama tidak ingin jika sampai terjadi sesuatu pada dirimu." Karena tidak tega jika harus melihat keadaan Salsa saat ini, Mama sampai meneteskan air matanya. "Kenapa Mama menangis? Aku baik-baik saja Ma," ucap Salsa mencoba menenangkan hati Mama. "Mama tidak ingin jika kamu naik angkutan umum, tempat yang sangat tidak nyaman." Mama melihat mobil bus terlihat sangat padat, membuat Salsa meneteskan keringat. "Sasa sudah bilang pada Mama, Salsa baik-baik saja Ma." "Besok papa akan pergi ke Jakarta, mengantarkan mobil untukmu.'' Kebahagiaan Salsa adalah menjadi prioritas kedua orang tuanya, mereka tidak ingin jika sampai Salsa menderita. "Tidak usah, Salsa tidak ingin membawa mobil sendiri." Salsa sangat menolak ketika kedua orang tuanya memberikan uang kepadanya. "Kenapa kamu menolak?" Papa merasa sangat aneh ketika melihat Salsa tidak mau mengikuti sarannya. "Apakah kamu akan pergi bersama Andika?" Mama bertanya kepada Salsa mengenai hubungannya dengan Andika. "Aku sudah melupakan Andika," Jawa Salsa sambil tersenyum. Saat itu juga Mama sangat terkejut mendengar ucapan Salsa. "Kamu jangan berbohong, Mama tidak suka jika mendengar kamu berbohong." Mama sangat khawatir jika sampai Salsa putus dengan Andika, harapannya tentu saja akan menghilang jika sampai putrinya tidak mau menjadi kekasih Andika. "Kenapa harus memaksakan menjadi kekasih Andika? Aku masih mempunyai kekasih yang sangat menyayangiku." Salsa sebenarnya tidak ingin jika kedua orang tuanya berharap jika dia berjodoh dengan Andika, rasa sakit yang ada di hati Salsa begitu terasa saat bersama Andika. "Baiklah jika kamu berpikir seperti itu, Mama akhiri panggilan ini." Karena kecewa mama segera mematikan ponselnya, melihat sikap Mama yang tiba-tiba marah dengan Salsa membuat Papa merasa kesal. "Aku sudah bilang kepadamu, Kamu tidak usah membuat Salsa merasa bingung, biarkan dia putuskan semua keinginannya, Aku tidak mau Jika kamu terus ikut campur masalah Salsa." Papa memarahi Mama agar Mama bisa sadar, meskipun terlihat sangat menyakitkan untuk istrinya, namun akan lebih baik jika Salsa menikah dengan laki-laki yang dicintainya. ''Andika sangat baik, tentu saja akan sangat cocok jika menikah dengan Salsa.'' Mama memang sangat bangga jika memiliki menantu seperti Andika, meskipun hubungan Andika dan Salsa terlihat sangat buruk sekali, namun Adika terus mencoba untuk menutupi semua masalah yang sedang terjadi. "Kamu terus membanggakan Andika, Apakah kamu tidak malu jika Andika menikah dengan wanita lain.'' Papa tidak ingin jika sampai dirinya kecewa, melihat sikap putrinya yang terus menolak untuk menikah dengan Andika, membuat Papa sadar. "Pernikahan bukanlah hal untuk bermain-main dalam cinta, mereka akan mengungkapkan janji suci yang harus mereka jalan sampai akhir hayatnya." Papa ingin mengingatkan kembali kepada Mama untuk lebih bersabar menjalani kehidupan ini, meskipun Mama menolak ucapan dari papa, namun tidak membuat Papa merasa putus semangat. "Jangan bersedih, aku yakin Allah akan memberikan jodoh yang terbaik untuk putri kita." Karena takut jika sampai mama merasa kecewa dengan ucapannya, Papa segera memeluk agama untuk membuktikan bahwa dirinya sangat mencintai mama. "Tidak usah memelukku, kamu hanya bisa membuatku merasa kecewa, Aku benar-benar kesal dengan sikapmu selama ini." Mama segera pergi meninggalkan Papa dan masuk ke dalam rumah, kekecewaan yang merasakan benar-benar membuat hati Mama merasa sakit. "Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya aku lakukan, Aku hanya ingin yang terbaik untuk putriku." Mama menangis sambil meninggalkan Papa, Papa hanya terdiam menatap wajah mama yang sedang terlihat sangat kesal, karena tidak ingin berdebat Papa membiarkan Mama berjalan meninggalkan dirinya. "Yah memang Mama sangat egois, Wajar saja jika dia tidak terima mendengarkan nasehatku." Papa sangat menyadari jika istrinya tidak ingin melihat Papa menolak keputusan yang selama ini dipegang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN