Anak kecil pingsan

1317 Kata
Karena tidak ingin memikirkan kedua orang tuanya yang berdebat, Salsa segera membalas pesan yang dikirimkan oleh Bagas. "Selamat sore sayangku, hari ini aku sangat merindukan dirimu, karena kesibukan yang begitu banyak, Aku baru saja sempat mengetik pesan untuk mu." Pesan singkat yang dituliskan oleh Bagas membuat Salsa tersenyum saat membacanya. "Hari ini aku pun sangat sibuk, pekerjaan benar-benar membuatku merasa sangat lelah, andai saja ada seseorang yang mengajakku untuk bersenang-senang tentu saja aku tidak akan menolaknya." Salsa membalas pesan Bagas sambil tersenyum, hatinya begitu senang ketika bisa dekat dengan Bagas, tidak ada wanita lain yang Bagas cintai selain Salsa. Bus yang Salsa tumpangi sudah sampai tepat di depan halte di dekat apartemen Salsa, Salsa segera turun, tidak sengaja ada seorang anak kecil yang terjatuh saat Salsa berdiri di dekatnya. "Apa yang terjadi pada anak ini?" Salsa sangat terkejut ketika melihat anak tersebut pingsan, karena tidak ingin jika sampai terjadi sesuatu, Salsa meminta beberapa orang untuk membawa anak tersebut ke kursi tunggu. "Ada apa dengan anak ini?" tanya seseorang laki-laki tampan kepada Salsa. "Sebaiknya anak ini diletakkan di kursi, Aku akan segera mengecek keadaannya." Dengan sangat sigap Salsa segera membantu anak tersebut. "Ternyata dia sedang mengalami demam tinggi, tapi di mana orang tuanya?" Salsa sangat merasa heran ketika melihat anak kecil harus berkeliaran di jalanan, terlihat sangat jelas jika dirinya sedang sakit. "Apa yang sedang dirasakan anak ini?" Tanya salah seorang penumpang yang turun bersama Salsa. "Dia sedang sakit, aku yakin pasti anak ini belum makan." Salsa sebagai seorang dokter sangat memahami kondisi pasiennya, apalagi melihat anak tersebut terlihat sangat pucat. "Denyut nadinya terlihat sangat melemah, anak ini membutuhkan perawatan intensif." Tidak sengaja Salsa berdiri di dekat laki-laki yang sangat tampan yang sedari tadi memperhatikan Salsa. "Apakah kamu seorang dokter?" Pria tampan itu bertanya kepada Salsa. "Kebetulan saya bekerja di rumah sakit yang tidak jauh dari sini, Jika ada yang berkenan untuk mengantarkan anak ini ke rumah sakit." Salsa sangat kasihan melihat anak kecil berusia 6 tahun harus berkeliaran di jalan raya, seperti anak yang sedang bingung tidak memiliki keluarga. "Baiklah aku akan mengantarkanmu," ucap laki-laki tersebut. Salsa tidak sengaja menatap laki-laki yang sedang berbicara dengannya, terlihat sangat tampan dan mempesona, tubuh tegaknya seperti seorang polisi. Karena sangat penasaran Salsa memperhatikan kaos yang digunakan oleh pria tersebut. "Iya dia seorang polisi," ucap Salsha dalam hati. "Ayo kita bawa ke mobilku," ucap laki-laki tersebut sambil membawa anak itu ke dalam mobilnya. "Sungguh sangat tampan, aku benar-benar terpesona dengan pandangannya," ucap Salsha dalam hati. Saat itu juga pesona yang dimiliki oleh Bagas dan Andika terlupakan oleh Salsa, mungkin saja karena belum ada ikatan yang sakral, membuat Salsa masih ingin mencari pendamping yang sangat cocok. "Kamu ikut juga kan?" tanya pria tampan itu. "Tentu saja aku ikut, anak ini tidak memiliki keluarga, aku takut jika dia salah satu korban anak hilang," ucap Salsha sambil memegang kepala anak kecil tersebut. "Kamu jangan khawatir masalah itu, Jika kamu membantu untuk menyelamatkan nyawanya, tentu aku akan membantu untuk mencari keluarganya." Laki-laki itu tersenyum sambil menatap Salsa dari kaca mobilnya. Senyuman demi senyuman membuat Salsa semakin berdebar-debar, pria tersebut sepertinya mulai jatuh cinta dengan Salsa. "Kamu sangat baik ya, aku benar-benar salut saat melihatmu begitu baik." Pria tersebut memuji Salsa, karena mendapat pujian dari pria yang sangat tampan tentu saja Salsa akan merasa sangat bahagia. "Aku kan seorang dokter, Aku harus bisa menyelamatkan orang yang membutuhkan ku." Salsa tidak ingin jika sampai terjadi sesuatu pada anak kecil itu. "Kamu benar sekali, jadi sebagai seorang polisi Aku harus bisa melayani masyarakat dengan baik." Jatuh cinta pada pandangan pertama, membuat mereka semakin bahagia, meskipun tidak tahu kondisi yang sesungguhnya. "Menatap wajah pria ini membuatku merasa bahagia, tidak seperti saat aku bersama Andika," ucap Salsha dalam hati. "Mungkin saja malam ini aku tidak bisa pulang, Aku tidak akan tega meninggalkan anak ini sendirian." Salsa tidak ingin jika sampai terjadi sesuatu pada anak tersebut. "Aku akan menemanimu saat berada di dalam rumah sakit," ucap pria tersebut. "Sungguh aku akan sangat senang jika kamu mau menemaniku." Salsa terlihat sangat bahagia saat mendengar ucapan laki-laki tersebut. Tentu saja peristiwa ini akan mendekatkan Salsa pada laki-laki yang baru saja dikenalnya, namun Salsa tidak mengkhawatirkan sesuatu, melihat mobil yang dimiliki laki-laki tersebut, sepertinya dia bukan pria yang jahat. "Bolehkah aku mengenal namamu?" Pria tersebut bertanya kepada Salsa. "Tentu saja boleh, namaku Salsa." "Nama yang sangat bagus sekali," ucap pria tersebut. "Tapi aku belum mengetahui Siapa namamu? Apa pekerjaanmu? Dan Dimana rumahmu?" Salsa sengaja bertanya secara detail untuk mengetahui identitas laki-laki tersebut, karena takut jika sampai dirinya berada dengan orang yang jahat. "Mungkin kartu ini bisa menjawab semua pertanyaan mu," ucap pria tersebut sampai memberikan kartu namanya. "Kenapa ada dua kartu nama?" Salsa merasa heran saat mendapat dua kartu nama. "Tentu saja semua itu identitas yang aku miliki, hanya perbedaannya, yang berwarna hijau biasa aku gunakan untuk pekerjaanku sebagai polisi, sedangkan yang warna biru kartu namaku untuk rekan bisnis ku." Laki-laki tersebut terlihat sangat pandai dalam segi bisnis, bodinya yang sangat kekar membuat Salsa merasa berdebar-debar, apalagi jika melihat dari cermin yang ada di dalam mobil. "Kenapa sejak tadi kamu hanya tersenyum? Apakah ada yang salah?" Pria tersebut bertanya kepada Salsa, karena mendengar pertanyaan dari pria tersebut Salsa tersenyum. "Aku hanya sangat senang bisa berkenalan dengan seorang polisi, jabatan yang lumayan bagus dan Seorang pebisnis juga, sangat-sangat keren." Salsa memuji laki-laki tersebut, laki-laki itu pun tersenyum mendengar pujian Salsa. "Sayangnya aku sangat sulit mencari kekasih, aku heran kenapa tidak ada wanita yang mau menjadi kekasihku." Salsa sangat terkejut ketika mendengar ucapannya, sangat tidak mungkin jika tidak ada wanita yang mencintai laki-laki tersebut. "Mungkin karena kamu banyak memilih wanita, jadi sangat kesulitan untuk mendapatkan kekasih." "Aku hanya tidak suka melihat wanita yang materialistis, Aku lebih suka melihat wanita yang berjiwa sosialisme." Jawaban pria tersebut mengarahkan kepada Salsa, yang selalu bersikap sosialisme kepada semua orang, saat itu juga Salsa tersenyum mendengar jawaban pria tersebut. "Sayangnya aku tidak masuk ke dalam kriteria impian mu," ucap Salsha sambil tersenyum. "Siapa bilang kamu tidak masuk dalam kriteria wanita yang aku cari." terdiam ketika mendengar ucapan pria tersebut, wajah Salsa mulai memerah karena merasa sangat malu saat mendengar jawabannya. "Aku hanya wanita biasa, aku tidak ada hal yang spesial.'' Salsa mencoba merendahkan dirinya, karena tidak ingin jika sampai laki-laki itu mencintai Salsa karena kelebihannya. "Tidak apa-apa, karena kamu bukan kekasihku." Ucap pria tersebut sambil tertawa. Saat itu juga Salsa merasa sangat malu, sudah mendapatkan penolakan dari awal, wajahnya benar-benar memerah seperti udang. "Aku sungguh merasa malu, kenapa aku tadi mengucapkan hal itu kepadanya, tidak seharusnya aku berkata seperti itu," ucap Salsha dalam hati. Namun pria tersebut justru tersenyum ketika melihat Salsa menundukkan kepalanya. "Aku hanya bercanda, Kamu jangan marah ya?" Karena tidak ingin melihat Salsha marah, Ia tersebut Segera menenangkan hati Salsa agar tidak malu. "Bercanda? Jadi tidak serius?" Tanya Salsa kepada pria tersebut. "Iya, wanita secantik dirimu tentu saja akan membuatku semakin jatuh ...?" Pria tersebut tidak melanjutkan ucapannya karena takut dianggap sebagai buaya darat. "Jatuh apa?" Dengan sangat polos Salsa bertanya kepada pria tersebut. "Aku hanya takut jatuh ... Jatuh ... Lanjutannya besok saja." Pria tersebut terlihat sangat humoris membuat Salsha tersenyum saat berada di dekatnya, berbeda dengan Andika yang selalu membuat Salsa merasa kesal, pria ini benar-benar terlihat mampu membuat Salsa merasa bahagia, Salsa memang sangat mencintai laki-laki yang bisa membuatnya tersenyum. "Baiklah kita sudah sampai, aku akan membantumu," ucap pria tersebut. Dia segera turun dari mobilnya dan berdiri di dekat Salsa, namun tidak sengaja kakinya terpeleset sampai tubuhnya menimpa Salsa. Pandangan pertama yang sangat membuat pria tersebut semakin jatuh cinta kepada Salsa, hal yang tidak sengaja terjadi di dalam mobil, membuat Salsa terbelalak menatap wajah pria tersebut. Bibir yang tidak sengaja hampir mendarat mendekati bibir Salsha, tentu saja membuat pria tersebut semakin berdebar-debar, mengingat Salsa yang terlihat mulai malu saat bertatapan dengannya. Sesuatu yang sangat membuat Salsa merasa bahagia saat berada di dekatnya, mungkin saja mereka akan jatuh cinta? Apa hanya sebatas menolong anak kecil tersebut?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN