Momen Romantis

1917 Kata
Karena tempat yang sangat Ramai membuat Lena merasa sangat bahagia, apalagi ditemani oleh seorang pria yang sangat tampan yang berdiri di sebelahnya. "Andika, ternyata kamu terlihat lebih tampan dari pada waktu masih SMA, aku benar-benar merasa terpesona dengan ketampanan mu," ucap Lena sambil tersenyum. "Pasti karena jas putih yang aku kenakan, jas ala dokter yang melekat di tubuhku." Andika sama sekali tidak merasa curiga dengan sikap Lena. "Mungkin itu menjadi salah satu yang membuatku merasa jatuh cinta, Aku benar-benar merasa bahagia saat berada di dekatmu," ucap Lena sambil tersenyum. "Jangan membuatku merasa malu, pujian mu sungguh membuat hatiku merasa bahagia." Andika tersenyum sambil memandangi wajah wanita yang ada di sampingnya, tentu saja pesona kecantikan Lena mulai terlihat jelas di wajahnya, sikap Lena yang sangat baik mulai membuat Andika merasa nyaman. "Apakah ada yang salah dengan wajahku?" Lena bertanya kepada Andika, agar Andika tidak memandangi wajahnya. "Seperti yang kamu katakan kepadaku," jawab Andika sambil tersenyum. Andika tidak ingin cintanya yang bertepuk sebelah tangan selalu ada di dalam hatinya, berbagai cara Andika harus bisa melupakan Salsa, wanita yang selama ini membuat Andika merasa malu. Sikap Salsa yang terus menolak cinta Andika, mulai membuat Andika merasa kecewa, saat ini adalah momen yang tepat untuk melupakan Salsa. "Apa yang pernah aku katakan? Sepertinya tidak ada." Lena tidak mengetahui sesuatu yang Andika maksud. "Yah sungguh aku terpesona dengan mu Lena," ucap Andika membisiki telinga Lena. "Apa yang kamu katakan Andika?" Lena bertanya kepada Andika. "Apakah kamu belum mendengar Ucapanku?" Andika bertanya kepada Lena sambil tersenyum. "Aku tidak tahu dengan yang kamu maksud, aku sungguh masih polos." Jawab Lena sambil tersenyum. "Yah, sungguh wanita secantik mu, mungkin tidak akan pernah mengetahui jika ada laki-laki yang mencintai mu." Andika tidak mau memberitahu kepada Lena mengenai perasaannya, karena takut jika Lena berpikir Andika hanya bermain-main dengan perasaan. "Andika, Aku ingin menerbangkan burung merpati seperti mereka," ucap Lena sambil tersenyum. Menerbangkan burung merpati biasa dilakukan oleh sepasang kekasih, namun kali ini mereka yang bukan sepasang kekasih ingin ikut menerbangkan seperti pasangan lainnya. "Apakah kamu tidak takut, kita sampai kita berjodoh?" Andika bertanya sambil menatap kedua bola mata Lena. Lena tersenyum membalas senyuman Andika, menatap wajah Andika yang sedang memandangi wajahnya. "Hal yang tidak akan pernah aku tolak, Apakah kamu tahu? Jika aku sangat berharap hal itu bisa terjadi." Lena tersenyum. Andika menyadari sebenarnya Lena mencintai dirinya, Namun karena tidak ingin jika sampai terjadi sesuatu pada hubungannya Andika tidak mau memberi harapan palsu. "Ayo mari kita mencari burung merpati," ajak Andika sambil memegang tangan Lena. Tidak sengaja saat Andika berada di taman tersebut, ada Bagas yang sedang berdiri di dekat mobilnya, Bagas sepertinya sangat sibuk dengan ponselnya sampai tidak mengetahui jika ada Andika. "Kenapa Bagas berdiri di situ, seperti sedang menunggu seseorang," ucap Andika dengan penuh rasa penasaran. Andika merasa jika Bagas memiliki wanita lain, dan Salsa harus mengetahui semua keburukan yang Bagas miliki. "Salsa harus mengetahui jika laki-laki yang sangat dicintainya sudah memiliki kekasih yang lain," gumam Andika saat melihat Bagas. "Andika," panggil Lena. Andika masih sibuk memandangi pria yang sedang berdiri di dekat mobilnya, Andika bahkan tidak mendengar panggilan dari Lena. "Andika," panggil Lena. Namun karena Andika masih sibuk memandangi pria yang ada di dekatnya, dia tidak mendengar jika Lena memanggilnya. Terlihat sangat jelas jika Lena sangat kesal ketika melihat Andika sedang menatap pria tersebut. "Halo Andika," panggil Lena kembali. Kali ini Andika mendengar panggilan Lena, Andika segera menatap kearah wajah Lena sambil tersenyum. "Maafkan aku Lena, aku tidak bermaksud membuatmu merasa kesal," ucap Andika sambil tersenyum ke arah Lena. "Sudah lupakan saja, Aku ingin segera pulang." Lena tidak ingin berlama-lama menunggu Andika memperhatikan pria yang sedang berdiri di dekat mobil, daripada merasa kesal dengan sikap Andika, Lena segera mengajak Andika untuk pulang. ''pulang ke mana?" Andika belum mengetahui rumah Lena. "Apartemen." Lena menjawab dengan sangat singkat, karena tidak ingin jika sampai Andika terlalu banyak bertanya kepadanya. "Apakah kita satu apartemen?" Andika bertanya kepada Lena. "Sepertinya begitu, Ayo kita pulang." Karena merasa kesal Lena tidak mau terus berdiam di taman, Lena masih punya beberapa pekerjaan yang akan diselesaikan. "Kita belum menerbangkan burung bersama," ucap Andika. Andika berharap jika Lena tidak marah dengannya, karena Andika merasa tidak nyaman saat melihat perubahan wajah Lena, Lena menjadi sedikit diam setelah Andika sibuk memandangi pria yang ada di dekat mobil. "Sebentar lagi kamu akan berangkat bekerja," ucap Lena memberi tahu Andika. "Aku masih bisa menemanimu bersenang-senang, aku tidak buru-buru, karena hari ini tidak ada jam operasi." Andika sengaja ingin menunggu di taman untuk mengetahui Kakashi Bagas, Namun sepertinya Lena tidak ingin berlama-lama di taman. "Sebaiknya kita pulang saja, aku masih sangat sibuk," ucap Lena mengajak Andika pulang. "Baiklah jika kamu mengajakku pulang, aku akan mengantarkanmu pulang." Andika tersenyum sambil memandangi wajah Lena. Ini adalah pertama kalinya Andika pergi ke taman bersama wanita, meskipun Andika memiliki karir yang bagus, tapi kisah asmara tidak sebagus karirnya. "Andika, aku tidak usah turun di apartemen, aku turun di depan saja," ucapkan Lena. Andika merasa heran ketika Lina tidak mau turun di depan apartemen, seperti ada sesuatu yang disembunyikan oleh Lena. "Baiklah jika itu maumu." Andika tidak bisa menolak ucapan yang dikatakan oleh Lena, karena Lena bukan pacar Andika. Saat Lena turun dari mobil Andika, ternyata ada Salsa yang sedang berdiri di dekat toko. Karena tidak ingin jika Salsa mengetahuinya, Andika segera meninggalkan tempat tersebut. "Kenapa Andika segera pergi meninggalkanku, Apakah dia marah?" Lena berpikir jika Andika sedang marah dengan nya. Namun Lena tidak mengetahui jika Andika sedang mencoba untuk menyembunyikan identitasnya. Lena berjalan menuju ke toko kue, karena memang sangat hobi berbelanja beberapa macam makanan untuk menemaninya saat bekerja. "Aku akan membelikan kue untuk Andika," ucap Lena sambil memilih beberapa macam kue. Kue yang terlihat sangat nikmat, apabila disantap dengan minuman hangat. "Aku yakin Andika pasti menyukai ini," ucap Lena. Lena segera pergi meninggalkan toko tersebut, namun saat Lena akan keluar dari toko, tidak sengaja Lena menabrak Salsa yang sedang berada di depannya. "Maaf aku tidak sengaja," ucap Lena. Lena merasa tidak nyaman ketika dirinya menabrak seorang wanita cantik yang ada di depannya. "Oh tidak apa-apa," jawab Salsa sambil berjalan meninggalkan Lena. Salsa segera naik taksi yang ada di depannya, karena Salsa dan Lina tidak saling mengenal, mereka tidak saling menyapa satu sama lainnya. "Sepertinya wanita itu tidak asing," ucap Lena saat memandangi wajah Salsa. Tentu saja Salsa tidak asing, mereka saling bertemu namun tidak saling mengenal. Salsa segera pergi ke rumah sakit, karena ada beberapa pasien yang harus Salsa cek. "Mau ke mana kita Bu," tanya sopir taxi kepada Salsa. "Rumah Sakit Pak," jawab Salsa singkat. Salsa memang tidak bisa mengemudikan mobil, jadi Salsa lebih sering menggunakan angkutan umum untuk pergi ke rumah sakit, apalagi jadwal kerja yang tidak sama dengan sepupunya, membuat Salsa harus berangkat sendiri. "Andai saja ada laki-laki yang mau mengantarkanku ke rumah sakit, mungkin aku tidak selelah ini," gumam Salsa. Salsa berpikir jika andai saja kedua orang tuanya mengizinkan Salsa mengemudi mobil, tentu saja Salsa akan memiliki mobil untuk pergi ke rumah sakit, karena tidak memiliki kendaraan pribadi, terpaksa Salsa harus naik taksi. "Ya, teman satu ruangan ku, terlalu sibuk dengan dunianya, dia tidak mau mengajakku untuk pergi bersama ke rumah sakit." Salsa sangat ingin jika dirinya bisa pergi ke rumah sakit bersama Andika, meskipun Salsa sangat kesal dengan sikap Andika, namun Salsa memiliki rasa yang berbeda. "Hari ini aku sungguh menyesal sudah membuat anda merasa kesal dengan sikapku, andai saja aku tidak bersikap egois, mungkin aku bisa jauh lebih dekat dengannya," ucap Salsha dalam hati. Ada rasa menyesal saat bersikap kasar dengan Andika, laki-laki yang selama ini Salsa cintai, ternyata sudah berhenti untuk mendekati Salsa. Andika mungkin merasa lelah, setiap mendekati Salsa, Salsa selalu bersikap kasar dengannya. "Bagas, sangat sibuk dengan pekerjaannya, aku rasa Dia tidak mungkin bisa seperti Andika." Salsa menyadari Jika hubungan lebih indah jika memiliki pekerjaan yang sama, tersadar dengan kata-kata orang tuanya yang berharap jika Salsa bisa menikah dengan seorang dokter. Dokter tampan yang menjadi idaman Mama, awalnya tidak membuat Salsa menjadi jatuh cinta, namun saat Andika berusaha menjauhi Salsa, saat itu juga Salsa merasa jika Andika sangat penting dalam hidupnya. "Mungkin Andika sudah memiliki kekasih yang jauh lebih baik dariku, kenapa kemarin aku terus menolak sikap baik Andika," ucap Salsha sambil memandangi jalanan yang sangat ramai. Tidak menunggu lama Salsa sudah tiba di depan gerbang rumah sakit, saat itu juga Salsa memberikan uang kepada sopir taksi. "Ini pak uangnya," ucap Salsha sambil mengulurkan uang untuk membayar ongkos taksi. Salsa segera turun menuju ke dalam ruangannya, melihat beberapa pegawai rumah sakit menatap Salsa dengan sangat jelas. "Mengapa mereka begitu menatapku?" Salsa merasa bingung ketika melihat banyak orang yang menatapnya. Namun Salsa tidak mau mempedulikan ucapan orang lain, yang terpenting saat ini adalah Salsa bisa bahagia, meskipun kisah asmaranya sangat membingungkan. "Dokter Salsa," panggil seorang wanita cantik yang sedang berjalan menghampiri Salsa. "Ada yang bisa kami bantu dok?" Salsa bertanya kepada wanita itu, wanita cantik bernama Raisa yang menjadi salah satu wanita yang dekat dengan Andika. "Sebenarnya tidak ada hal yang sangat penting, Aku hanya ingin meminta tolong kepada dokter Salsa," ucap Raisa sambil tersenyum. "Apa yang bisa aku bantu?" Sasa ingin mengetahui sesuatu yang bisa Salsa bantu, meskipun terlihat sangat jelas jika Salsa tidak menyukai Raisa, namun Salsa harus bersikap baik dengannya. "Bolehkah aku ikut ke ruangan mu?" Raisa meminta Salsa untuk mengizinkan masuk ke dalam ruangannya. "Boleh," jawab Salsa sambil tersenyum. Mereka berjalan menuju ke ruangan Salsa, Salsa sangat heran dengan sikap Raisa, Mereka terlihat tidak dekat, bahkan Salsa saling cemburu dengan sikap Raisa selama ini, Salsa tidak suka ketika melihat Andika bersikap perhatian dengan Raisa. "Silakan duduk dok," ucap Salsha meminta Raisa untuk duduk di sofa ruangannya. "Sebenarnya aku ingin meminta bantuan kepadamu?" Reisa sangat ingin jika Salsa bisa membantunya, berbeda dengan Salsa, Salsa justru terkejut saat Reisa meminta bantuan kepadanya. "Apa sebenarnya yang akan dikatakan oleh Reisa," ucap Salsha dalam hati. Salsa tersenyum saat melihat Raisa begitu ramah dengannya, ini adalah hal yang pertama kali dilakukan oleh Salsa. "Sebenarnya aku malu mengatakannya?" Raisa tidak ingin mengatakannya kepada Salsa, karena tidak ingin jika laki-laki yang dicintainya pergi meninggalkannya. "Sebenarnya ada apa?" Salsa sungguh penasaran dengan sesuatu yang ingin dikatakan oleh Raisa. Raisa tersenyum ketika menatap wajah Salsa, terlihat sangat jelas jika Salsa mulai merasa bingung dengan sikap Reisa. "Apakah ada hal yang sangat penting yang bisa aku dengar?" Salsa bertanya kepada Reisa. "Sebenarnya bukan hal yang sangat penting, tapi ..." Raisa masih sangat berat untuk mengatakannya kepada Salsa. Takut jika sampai Salsa akan marah saat mendengar ucapannya, namun Raisa tidak ingin jika santai impiannya selama ini menghilang. "Aku sungguh penasaran, Aku sangat ingin dokter mengatakannya sekarang?" Salsa sangat tidak nyaman ketika melihat Reisa merasa ragu untuk mengatakan sesuatu kepadanya. "Sebenarnya wanita ini ingin berkata apa? Sejak tadi dia malu-malu untuk mengatakannya," gumam Salsa. Reisa mencoba menarik nafasnya, memulai untuk mengawali pembicaraannya dengan Salsa. "Sebenarnya, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan, tapi aku sangat takut jika kamu sampai marah." Raisa tidak ingin jika sampai Salsha marah dengannya, melihat selama ini Salsa terlihat sangat cantik dibanding Reisa, tentu saja Salsa akan lebih mendapatkan perhatian dari laki-laki.. "Aku sangat penasaran, jika dokter tidak mau mengatakan, aku akan semakin penasaran?" Salsa sangat ingin mendengar ucapan yang ingin dikatakan oleh Raisa, melihat sikap Raisa yang terus tersenyum membuat Salsa semakin tidak tahu. "Sebenarnya aku ..." Reisa sangat ragu ketika akan mengatakan sesuatu, melihat sikap baik Salsa selama ini, tentu saja membuat Reisa merasa sungkan. "Baiklah jika tidak mau berbicara, Aku tidak akan memaksa." Salsa tidak mau memaksakan kehendak, melihat sikap Raisa membuat Salsa tersenyum. "Dokter yang sangat aneh, sepertinya Dia memiliki masalah?" Salsa bertanya-tanya dalam hatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN