Mengobrol dengan Lena

1098 Kata
"oh Andika, apakah kamu sedang sibuk?" Lena bertanya kepada Andika sambil tersenyum. "Sebenarnya aku sedang sibuk sekali, namun jika kamu mau mengajakku bersantai tentu saja aku mau," jawab Andika sambil tersenyum. "Aku sangat setuju dengan ucapanmu, Baiklah aku akan mengajakmu untuk bersenang-senang." Lena tersenyum memandangi wajah Andika, Andika terlihat sangat tampan di mata Lena. "Dari jaman masih sekolah sampai sekarang, kamu terlihat sangat tampan, aku benar-benar merasa kagum denganmu," ucap Lena. Andika sudah ingin merespon kata-kata Lena, Andika tidak ingin jika dirinya sampai jatuh cinta dengan sahabatnya. "Ayo masuk ke dalam mobilku, aku akan mengajak ke suatu tempat." Karena kesal dengan sikap Salsa, Andika mencoba membuang kesedihannya untuk mencari kebahagiaan. "Setidaknya aku harus bisa bahagia," ucap Andika sambil tersenyum. Kebahagiaan yang selama ini Andika harapkan, terlihat sangat sulit, wanita yang dicintainya tidak pernah mengerti perasaannya. "Aku sudah bersusah payah untuk membuat Salsa jatuh cinta tapi dia tega menghianati perasaanku," gumam Andika sambil membawa mobilnya. "Andika, Kenapa kamu diam saja," tanya Lena. Luna melihat jika Andika sedang mengalami sesuatu yang membuatnya merasa kesal, terlihat sangat jelas di wajah Andika. "Aku hanya fokus mengemudi," jawab Andika. "Andika, aku tahu jika kamu sedang memikirkan sesuatu?" Lena seorang psikolog tentu saja memahami sikap Andika. "Kenapa kamu bisa mengetahui, apa yang sedang aku pikirkan?" Andika merasa aneh dengan sikap sahabatnya, selama ini Andika sudah tidak pernah bertemu dengan sahabatnya. "Tentu saja aku bisa memahami, Aku adalah seorang psikolog, sudah biasa menangani orang yang memiliki masalah." Saat itu juga Andika tersenyum bahagia, Andika tidak menyangka jika dirinya sedang bersama dengan seorang psikolog. "Aku justru merasa malu, jika sampai kamu mengetahui masalahku," ucap Andika sambil tersenyum. "Jadi sekarang sudah ada perubahan, semenjak menjadi dokter, ternyata kamu lebih pasif." Lena mencoba untuk menghangatkan suasana. "Mungkin lebih menjaga image, bayangkan saja jika aku seperti zaman waktu sekolah, kamu lebih tahu bagaimana aku waktu itu." Andika membahas masa lalunya bersama Lena, sambil mengarahkan mobilnya menuju ke sebuah danau yang sangat indah, di danau tersebut biasa digunakan oleh pasangan yang belum menikah untuk berfoto ria. "Ini bukankah danau yang biasa digunakan muda-mudi untuk bersenang-senang?" Lena bertanya kepada Andika saat mobil Andika masuk ke dalam tempat parkir danau tersebut. "Iya, tadi aku sudah bilang, Jika aku ingin melepaskan kekesalan yang ada di dalam kepalaku." Andika ingin segera bisa bahagia dan melupakan masalahnya, Andika tidak ingin jika terus memikirkan masalah yang sedang terjadi, melihat sikap Salsa yang membuatnya patah Hati, Andika ingin segera bangkit kembali. "Aku takutnya malah jatuh cinta padamu," ucap Lena sambil tersenyum. "Selama belum ada janur kuning melengkung, semua wanita berhak mencintaiku." Andika mencoba untuk melepaskan Salsha dan membuka hatinya untuk wanita lain, Andika tidak ingin jika terus-menerus disakiti oleh Salsa. "Selama ini mungkin Salsa bisa menyakitiku, tapi kali ini aku tidak mau terus-menerus disakiti oleh wanita," ucap Andika dalam hati, senyuman manis Andika berikan untuk Lena, melihat Lena yang sedang bersiap-siap untuk turun, Andika segera membukakan pintu mobilnya. "Ayo turun," ucap Andika dengan sangat mesra. "Sayang sekali kita tidak bisa seharian liburan, kamu harus bekerja," ucap Lena dengan sangat sedih. "Kamu jangan bersedih, Aku bekerja pukul 7 malam, tentu saja aku memiliki waktu banyak untuk bersenang-senang dengan mu." Andika tersenyum memandangi wajah Lena. "Jadi kita bisa seharian bersenang-senang disini," tanya Lena. "Tentu saja, Aku ingin kamu bisa bahagia, meskipun aku takut jika sampai kekasihmu mengetahuinya." Andika tidak ingin jika sampai kekasih Lena mengetahui hubungannya, Lena tersenyum mendengar ucapan Andika. "Aku tidak memiliki kekasih, jadi kamu Jangan berpikir jika ada yang marah saat kamu mendekatiku, Karena aku berharap kekasihku adalah seorang dokter." Lena menggoda Andika. "Hatiku semakin berdebar-debar, saat mendengar ucapanmu, Aku sungguh tidak menyangka Jika kamu bisa mengatakan ini semua." Andika setidaknya merasa tenang, bisa menemukan wanita yang mau Mencintainya, Andika tidak ingin jika Salsa terus-menerus bersikap kasar dengannya. Salsa segera membaringkan tubuhnya di atas ranjang, mengambil ponselnya dari tasnya. "Bagas," ucap Salsha sambil membayangkan wajah tampan Bagas. ''Aku sepertinya sedang jatuh cinta, ucap Salsa sambil memandangi foto Bagas." Salsa terus menerus tersenyum saat mengingat senyuman Bagas. "Aku benar-benar mencintaimu Bagas," ucap Salsha sambil memandangi wajah Bagas. Sasa melupakan ucapan yang Mama katakan, karena Salsa tidak ingin kita sampai dirinya menikah dengan Andika. "Aku tidak mau jika sampai aku menikah dengan laki-laki seperti Andika, sikap Andika Selalu membuatku merasa kesal, Aku tidak mau melanjutkan hubungan kebersamaan Andika." Salsa lebih berharap jika dirinya bisa jatuh cinta dengan Bagas, melihat ketulusan Bagas membuat Salsa semakin jatuh cinta. "Sungguh senangnya jika aku bisa bersama dengan Bagas, aku bisa lebih bahagia, dan menikmati keindahan dunia ini," ucap Salsha sambil tersenyum. Tiba-tiba bagas menelepon Salsa, saat itu juga Salsa terlihat sangat bahagia. "Bagas," ucap Salsa sambil tersenyum. Bagas tersenyum memandangi wajah Salsa, karena adalah salah satu wanita yang sangat Bagas cintai. "Salsa aku ingin bertanya kepadamu," tanya Bagas sambil tersenyum. "Aku akan menjawab semua pertanyaan mu," jawab Salsa sambil tersenyum. "Aku mendengar jika kamu sebentar lagi akan menikah dengan Andika." Bagas sangat sedih mengatakan hal ini. "Siapa yang mengatakan semua itu?" Salsa terkejut saat mendengar pertanyaan Bagas, karena Salsa tidak pernah mengatakan hal itu. "Kemarin aku bertanya kepada salah satu pegawai rumah sakit, mereka menjawab jika dirimu akan diperkenalkan kepada keluarga besar Andika." Bagas mulai cemburu dengan Salsa, melihat orang yang dicintainya bersama dengan pria lain. "Kemarin memang sempat bertemu dengan keluarga Andhika, tapi aku sama sekali tidak memiliki hubungan yang spesial dengan Andika." Salsa mencoba untuk menjelaskan kepada Bagas sambil tersenyum. "Berarti benar yang dikatakan oleh mereka, aku kira mereka hanya berbohong," ucap Bagas dengan penuh rasa kekecewaan. "Tidak seburuk yang kamu pikirkan, yakinlah hatiku hanya untukmu, Aku tidak pernah memiliki perasaan yang soecial untuk Andika." Salsa mencoba menjelaskan kepada Bagas, agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, apalagi Bagas adalah salah satu laki-laki yang sangat Salsa cintai. "Sebenarnya sakit mendengarkan berita itu, tapi aku lebih tidak tega jika harus marah denganmu." Bagas terlihat sangat marah ketika mengatakan hal itu kepada Salsa, berharap jika Salsa tidak memiliki hubungan dengan Andika, Namun ternyata Salsa sempat dekat dengan keluarga Andhika. "Mungkin Jika kamu dekat dengan Andika, kamu bisa jauh lebih bahagia, memiliki keluarga yang lengkap, dan saudara yang banyak, sedangkan Jika kamu menikah denganku, aku hidup sebatang kara, tidak ada saudara yang peduli denganku." Bagas menceritakan semua kesedihanmu pada Salsa. "Aku tidak mencintai Andika, Aku berharap jika kamu tidak salah paham, aku hanya mencintai dirimu." Salsa takut jika Bagas semakin kecewa dengan semua yang terjadi, melihat wajah Bagas yang diam membuat Salsa semakin merasa tidak nyaman. "Aku sedang sangat sibuk, aku tidak bisa melanjutkan panggilan ini," ucap Bagas sambil mematikan ponselnya. Terlihat sangat jelas kekecewaan yang Bagas rasakan, melihat orang yang dicintainya pergi dengan laki-laki lain, adalah sesuatu yang sangat menyakitkan untuk Bagas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN