Andika dan Salsa segera kembali ke kota untuk bekerja kembali, Salsa uang duduk di dalam mobil Andika terdiam dan tidak mau berbicara sama sekali.
"Salsa," ucap Andika mencoba untuk berbicara kepada Salsa. Namun terlihat sangat jelas jika Salsa sama sekali tidak mau merespon Andika.
"Aduh kalau ngambek lagi, aku bisa bertambah pusing," gumam Andika saat melihat wanita yang disampingnya sedang marah.
"Biarkan saja Andika memanggil ku terus, aku tidak akan mau menjawab," gumam Salsa sambil menatap wajah Andika.
Mereka tidak ingin mengobrol meskipun berada di dalam mobil Andika.
"Jika sikap Salsa seperti ini terus, aku tidak akan pernah bisa bertahan," gumam Andika.
"Halo Bagas, kamu sedang apa?" Salsa menelevon Bagas sambil terlihat sangat bahagia.
Andika yang melihat sikap Salsa merasa jika dirinya sangat tidak berharga di mata Salsa.
"Jika dia bersikap seperti itu, aku tidak akan mau menjadi kekasihnya lagi." Andika sangat kesal dengan sikap Salsa, Salsa keterlaluan, tidak bisa menghargai orang yang ada di sampingnya.
"Aku lihat kamu tidak ada di rumah sakit?" Bagas bertanya kepada Salsa.
"Aku pulang ke Bandung, aku sampai lupa tidak berpamitan dengan mu," ucap Salsa dengan tersenyum, pembicaraan Salsa terlihat sangat mesra, bahkan Salsa tidak mempedulikan Andika yang ada di sampingnya.
"Kenapa Salsa mengatakan itu semua di sampingku, Apakah Salsa tidak memiliki perasaan?" Andika terlihat sangat sedih sekali melihat sikap Salsa.
"Apakah kamu naik angkutan umum?"
Bagas ingin memastikan Salsa baik-baik saja, Bagas tidak ingin jika sampai terjadi sesuatu pada Salsa.
"Aku pergi bersama Andika, Tapi itu tidak sengaja." Salsa memberitahu kepada Bagas jika dirinya pergi bersama Andika, karena tidak ingin jika Bagas cemburu dengannya.
"Andika? Kenapa kamu tidak bilang kepadaku, aku bisa mengantarkan mu pulang." Bagas terlihat sangat kesal ketika mendengar Salsa pergi dengan Andika.
"Aku sama sekali tidak sengaja, aku juga tidak ingin jika pergi bersama laki-laki lain," ucap Salsa. Andika melihat wajah Salsa jangan sangat kesal, sikap Salsa sama sekali tidak bisa menghargai perasaan Andika.
"Kamu memang tidak memiliki perasaan sama sekali, seharusnya kamu tidak bersikap seperti itu, Kamu memang cantik, tetapi kamu tidak memiliki perasaan sama sekali," ucap Andika. Bagas mendengar ucapan Andika saat berada di samping Salsa, tentu saja Bagas tidak terima mendengar ucapan Andika.
"Kamu sedang duduk di samping Andika?" Bagas bertanya kepada Salsa.
"Iya, saat ini aku sedang berada di jalan," jawab Salsa.
"Sebenarnya aku sangat cemburu melihatmu bersama Andika, aku takut jika kamu jatuh cinta dengan Andika."
Bagas sangat khawatir jika Salsa berpindah perasaan, melihat sikap Salsa tentu saja Bagas takut kehilangan Salsa.
"Hatiku hanya untukmu, Aku tidak akan memberikan hatiku kepada laki-laki lain," ucap Salsa.
Kata-kata Salsa benar-benar membuat Andika merasa sangat sakit, bahkan Andika sama sekali tidak Salsa hargai, Andika hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Aku sungguh menyesal sudah mencintai wanita sepertimu, seharusnya aku tidak pernah mencintai wanita yang bersikap tidak baik sepertimu, ingat aku tidak akan pernah mau mendekatimu lagi."
Andika sudah benar-benar cemburu melihat siap Salsa yang tidak bisa menghargai dirinya, meskipun kedua orang tua Salsa sudah setuju dengan hubungan Salsa, namun Andika tidak mau melanjutkan hubungannya tersebut.
"Bagas, kita lanjut mengobrol nanti setelah aku sampai, Aku sangat lelah."
Salsa segera mematikan ponselnya, karena tidak ingin jika perdebatan itu semakin terjadi.
"Kenapa kamu akhiri panggilan teleponnya, aku masih sanggup mendengar semuanya," ucap Andika dengan sangat kesal.
"Bukan itu maksudku, Aku tidak ingin jika membuatmu merasa kesal."
Salsa tidak ingin jika sampai Andika marah kepadanya, melihat perbedaan wajah Andika setelah mendengar pembicaraan Salsa dengan Bagas, Andika terlihat sangat marah.
"Kamu cemburu?" Salsa bertanya kepada Andika.
"Untuk apa aku cemburu, kamu bukan pacarku, kamu juga bukan kekasihku."
Andika menjawab dengan sangat kasar, Salsa terdiam saat mendengar jawaban Andika.
"Ternyata Andika sangat marah," gumam Salsa.
Andika yang menganggap jika selama ini Salsa tidak bisa memahami perasaannya, bahkan Salsa selalu membuat Andika merasa sangat kesal.
Saat berada dijalan perjalanan Andika sama sekali tidak mau menatap wajah Salsa, melihat sikap Salsa yang tidak bisa menghargai Andika, Andika memutuskan untuk tidak kembali mencintai Salsa.
"Aku kali ini akan berhenti mencintai Salsa, Aku tidak ingin jika diriku semakin kecewa melihat wanita itu bersama laki-laki lain."
Rasa sakit hati yang sangat menyayat hati membuat Andika enggan untuk mencintai kembali Salsa.
Mobil Andika sampai di depan apartemennya, melihat wajah Salsa yang diam Andika tidak mau menyapanya.
"Terima kasih, aku permisi," ucap Salsha dengan nada sangat kesal. Andika sama sekali tidak merespon sikap Salsa, karena hanya akan membuat Andika merasa kecewa.
"Biarkan saja, aku sudah tidak mau Mencintainya," ucap Andika.
Rasa sakit yang ada di dalam hati Andika, membuat Andika semakin sadar, bahwasanya Salsa tidak pantas untuk dicintai.
"Lebih baik aku mencintai wanita lain, daripada aku harus mencintai wanita seperti dia," gumam Andika.
Menatap ada wanita yang berjalan mendekati mobilnya, Andika segera turun untuk menghampiri wanita tersebut.
"Sepertinya aku mengenalmu," ucap wanita yang sangat cantik.
"Wajahmu juga tidak asing, aku juga seperti sudah sangat lama mengenalmu," ucap Andika sambil memikirkan Siapa wanita yang berdiri di depannya.
"Aku Lena, kamu siapa?" Lena bertanya kepada Andika.
"Tentu saja kita mengenal, kamu dahulu adalah teman sma-ku, Wajar saja jika wajahku tidak asing," ucap Andika sambil tersenyum.
"Andika?" Lena mulai mengingat siapa sebenarnya Andika.
"Aku akan mencoba mengingat siapa kamu," ucap Lena sambil mengingat masa lalunya.
"Aku sama sekali tidak bisa mengingat dirimu, yah semenjak kecelakaan itu terjadi, aku sangat sulit untuk bisa mengingat masa lalu." Andika sangat memahami sikap Lena, Andika tersenyum sambil memandangi wajahnya.
"Apakah ada yang salah dengan cara berpakaian ku?" Lina bertanya kepada adiknya sambil memandangi wajahnya yang terpantul di cermin mobil Andika.
"Kamu sangat cantik, lebih cantik dari waktu pas kamu masih SMA."
Andika mencoba memuji Lena sambil tersenyum, meskipun Andika sedang memiliki banyak masalah, Andika tidak mau membawa masalahnya ke dalam kehidupannya.
"Kamu sangat mengetahui siapa aku sebenarnya, tentu saja aku cantik, Aku tidak mau terlihat jelek dimata orang lain." Lena tersenyum.
Andika semakin penasaran dengan kehidupan Lena yang sebenarnya, Andika sangat ingin mengetahui kehidupan Lena saat ini.
"Lena memang cantik sekali, sungguh aku terpesona dengan kecantikannya," ucap Andika dalam hati sambil memandangi wajah Lena.
"Andika, Kenapa kamu terus memandangi wajahku, Apakah ada make up yang salah."
Lena sangat takut jika sampai penampilannya tidak cantik, terus berusaha untuk bisa tampil lebih cantik, meskipun usianya yang sudah dewasa, Lena masih seperti bocah SMA yang sangat cantik.