Andika merasa kesal dengan tingkah Salsa, ia bergegas mengemudikan mobilnya menuju kesebuah kafe untuk menghilangkan kekesalan yang sedang melanda dirinya, ia segera masuk dan memesan kopi.
"mbak kopi satu iya!" Andika memesan segelas kopi untuk menghilangkan rasa kesalnya.
"baik pak!" pelayan itu segera membuatkan kopi pesanan Andika.
Andika segera mengambil ponselnya yang berada di sakunya, ia pun memandangi wajah Salsa yang berada di ponselnya.
"sebenarnya kamu itu baik Sa, tapi sikapmu membuatku kesal!" gumam Andika dalam hati ia merasa sangat kesal dengan tingkah Salsa, ia merasa kecewa sikap Salsa bisa kasar kepada Andika.
"tapi mau bagaimana mana lagi, nasi sudah menjadi bubur!" ucap Andika dalam hati .
Pagi hari yang cerah Andika pun mempersiapkan kebutuhannya untuk pergi ke Rumah sakit, ia mengenakan kemeja putih dengan lengan panjang.
Ia berangkat sangat pagi, untuk bisa sampai dirumah sakit terlebih dahulu.
Reiner pun terbangun dari tidurnya ia bersiap-siap untuk pergi ke Rumah sakit, ia tak ingin melihat Andika dan Salsa bersama.
"Sa sudah apa belum?" Tanya Reiner. Ia melihat salsa belum selesai mempersiapkan kebutuhannya.
"Sudah kak, ayo kita berangkat!" Ajak Salsa. Namun Reiner merasa heran kenapa Salsa tak menunggu Andika.
"Lo tumben sekali kamu tidak menghampiri Andika?" Tanya Reiner dengan senyuman manis di bibirnya. Reiner sangat senang melihat sepupunya mulai menjauh dari Andika.
"Nggak kak, aku nggak ingin berangkat bersama Andika!" Jawab Salsa dengan nada kecewa.
"Kenapa? Kamu lagi bertengkar?" Tanya Reiner. Reiner sangat ingin mengetahui apa yang terjadi di antara Salsa dan Andika.
"Nggak ada apa-apa kak!" Jawab Salsa. Wajah Salsa yang nampak kesal sudah mewakili rasa kekesalannya, Reiner tak ingin banyak bertanya, karena ia sangat senang sepupunya bisa menjauh dari Andika.
Salsa dan Reiner telah selesai mempersiapkan kebutuhannya, Salsa pun berjalan menuju ke rumah sakit.
Bruk
Salsa tak sengaja menabrak laki-laki yang ada di depannya, ia pun menatap wajah laki-laki itu, hati Salsa mulai terasa getaran-getaran cinta. Saat laki-laki itu mulai menangkap tubuh Salsa.
Hem
Reiner mencoba untuk mengakhiri tatapan mereka berdua, laki-laki itu pun terkejut dan melepaskan tubuh Salsa.
Bruk
"Aduh sakit," teriak Salsa saat tubuhnya terjatuh ke lantai, laki-laki itu pun membangunnya.
"Ayo aku bantu!" Ucap Andika. Salsa yang merasa kesal segera menampik tangan Andika.
"Nggak usah terimakasih," jawab Salsa ketus. Reiner segera mengulurkan tangannya dan membantu sepupunya untuk bangun.
"Sini aku bantu!" Reiner sembari tersenyum melirik Andika. Andika pun segera pergi meninggalkan keduanya. Ia berjalan sangat cepat menuju mobilnya.
"Sialan baru saja baikan sudah terjadi sesuatu kembali," gumam Andika dalam hati. Andhika mulai menyesali perbuatannya, ia tidak bisa untuk tetap diam, melihat Salsa marah. Ia melajukan mobilnya menuju toko bunga.
"Mbak aku mau cari bunga yang cocok untuk wanita?" Tanya Andika kepada penjual bunga.
"Bapak mau cari mawar ini atau buket Bunga?" Tanya penjual itu kepada Andika.
"Buket mbak, biar terlihat mewah bunganya!" Andika pun memilih buket bewarna merah, yang berisi beberapa bunga mawar merah.
"Buat pacarnya mas!" Ledek mbak penjual bunga.
"Hehe nggak kok mbak!" Andika pun pergi meninggalkan toko bunga, ia bergegas menuju Rumah sakit.
Salsa dan Reiner sudah sampai di Rumah sakit, Salsa menyibukkan dirinya, ia tak ingin berbicara dengan Andika.
"Sa!" Panggil Andika. Salsa tidak menjawab, wajah Salsa masih dipenuhi rasa malu yang sangat kuat.
Salsa pergi meninggalkan Andika dan kembali duduk di kursinya. Andika mencoba mendekati Salsa sembari memberikan buket bunga.
"Aku minta maaf Sa," Andika masih merasa bersalah ketika melihat Salsa tak mempedulikan kata-katanya.
Andika kembali ke meja kerjanya, ia segera menyiapkan dokumen-dokumen yang perlu ia tanda tangani.
"Andika sudah jam 07.30 waktunya kita cek keadaan pasien!" Reiner mengajak Andika untuk pergi mengecek pasien.
Setiap pagi Reiner, Andika, dan Salsa harus mengecek keadaan pasien dan mencatat keadaannya.
"Ayo Sa," ajak Andika saat melihat Salsa masih duduk. Salsa pun segera berdiri dan mengikuti Andika.
"Sama sekali tidak mau menjawab kata-kataku," gumam Andika dalam hati.
"Kita mulai dari ruangan melati iya," ajak Andika.
"Loh bukannya kita biasa mulai dari ruangan mawar," Salsa mulai mengangkat suaranya.
"Nah gitu dong mau berbicara, kan enak kalau liat mau bicara, jadi nggak seperti patung!" Andika tersenyum memandangi wajah Salsa.
Salsa tak bisa menahan kemarahannya, ia pun menyambut senyuman Andika dengan senyuman manis.
"Bucin pagi-pagi," Reiner pun menggoda mereka berdua. Ia berjalan mendahului Andika, Reiner menuju ruang mawar.
"Kan enak, kalau lihat kamu tersenyum!" Ucap Andika seraya memandangi pipi merona Salsa.
"Kamu jangan buat aku marah lagi iya!" Salsa pun mengangkat jari kelingkingnya. Andhika pun menyambut jari kelingking Salsa.
"Oke tuan putri," jawab Andika.
"Ah apa-apaan si, emang aku Ratu!" Salsa tak mau disebut Ratu.
"Iya calon Ratu semalam, yang bersanding di pelaminan bersama diriku," ucap Andika.
Reiner menengok kebelakang melihat dokter Andika dan Salsa masih asik dunianya sendiri.
"Woy kita mau cek pasien!" Panggil Reiner. Andika segera berjalan menuju Reiner.
"Sabar dikit iya bro," jawab Andika. Andika mulai masuk ke ruangan pasien.
"Kak Reiner jangan jomblo dong, biar ikutan seneng," ledek Salsa.
"Selamat pagi ibu," sapa Andika kepada pasien wanita yang sedang terbaring lemas.
"Pagi Dokter Andika," jawab pasien sembari tersenyum menatap Andika.
"Dok kapan saya boleh pulang?" Tanya pasien, pasien sudah bosan dirawat di Rumah sakit.
"Akan saya cek terlebih dahulu iya ibu, kalau keadaan ibu sudah baik ibu boleh pulang," jawab Andika. Andika sangat memahami perasaan pasien. Di rumah sakit sangat membosankan bagi pasien yang sering keluar masuk Rumah sakit.
"Dok saya kan sudah tua, memang tidak bisa sembuh," tanya pasien. Pasien memiliki sakit komplikasi, jadi sangat sulit untuk sembuh.
Andika tersenyum sembari memandangi wajah pasien, pasien pun mulai memahami senyuman Andika.
"Sulit untuk bisa sembuh iya dok," tanya pasien lagi.
"Ingsya Allah akan sembuh ibu, asalkan ibu selalu rutin minum obat yang saya berikan, dan jangan makan-makanan yang saya larang!" Jawab Andika sangat bijak.
"Tapi kan saya ingin makan-makanan yang enak dok!" Ucap pasien.
"Ibu kan ingin sembuh, jadi harus mengikuti saran saya!" Andika memberikan saran agar pasien tidak sering drop.
"Baik dokter," pasien mulai merasa nyaman setelah Andika menjelaskan kepada dirinya, ia pun mulai berpikir untuk menjaga pola makannya, seperti yang sudah Andika Anjurkan. Andika pun mulai mengecek keadaan pasien, Andika meminta Salsa untuk mencatat keadaan pasien.
"Salsa, kamu harus mencatat semua data-data mengenai pasien," ucap Andika sambil tersenyum menatap wajah Salsa.
kemarahan yang terjadi sedikit demi sedikit menghilang dari wajah Andika, berharap jika itu semua mampu memberikan perdamaian diantara mereka.