Tatapan Cinta

1002 Kata
Setelah mengecek pasien Andika, Salsa dan Reiner keluar ruangan, tak sengaja Andika berpapasan dengan dokter Reisa. "Dokter Andika!" Panggil dokter Reisa. Andika membalikan badannya. Menengok ke arah suara yang memanggil dirinya. "Oh dokter Reisa!" Jawab Andika. Andika memandangi wajah dokter Reisa sembari tersenyum kepadanya. "Dok aku ada jadwal operasi, tapi dokter Bram sedang cuti, apakah dokter bisa membantu saya?" Ajak dokter Reisa. Sembari membalas senyuman dokter Andika. "Oh bisa dok, nanti pasien biar dokter Salsa yang mengecek," Andika menerima ajakan dokter Reisa. "Dokter Salsa?" Tanya dokter Reisa yang masih asing saat mendengar nama dokter Salsa. Ia baru pertama kali mendengar nama Salsa. "Iya ini namanya Dokter Salsa!" Andika memperkenalkan Salsa kepada Dokter Reisa. "Oh ini yang namanya dokter Salsa?" Dokter Reisa mengulurkan tangannya ke depan dokter Salsa. "Salam kenal dokter Reisa," ucap Salsa sembari menyambut tangan dokter Reisa. "Sa kamu bisa kan mengecek keadaan pasien sendiri?" Tanya Andika sembari memandang wajah Salsa. "Bisa kok, aku kan dokter juga, meskipun masih magang!" Jawab Salsa dengan nada ketus. "Reiner kamu kan sudah lama jadi asisten dokter, tolong bimbing Salsa iya!" Andika memerintahkan Reiner untuk membimbing Salsa. "Sudah kak, ayo pergi!" Salsa mengajak Reiner pergi untuk meninggalkan Andika. "Sa kamu marah?" Tanya Andika. Salsa tetap berjalan meninggalkan Andika tanpa mempedulikan dirinya. "Huh wanita!" Ucap Andika. Andika merasa heran melihat sikap Salsa marah. "Ada apa dokter?" Tanya dokter Reisa. "Nggak ada apa-apa dok!" Tegas Andika. Andika dan dokter Reisa pergi menuju ruangan Dokter Reisa. Untuk mempelajari data pasien. "Mau minum dok!" Dokter Reisa memberikan minuman dingin. "Terimakasih dok!" Andika menerima minuman yang dokter Reisa berikan. "Sudah dipelajari dok, riwayat pasien?" Dokter Reisa mempersiapkan peralatan untuk operasi. "Sudah dok!" Andika adalah dokter yang cerdas. Ia tak butuh waktu lama untuk bisa memahami penyakit yang diderita pasien. "Sudah!" Andika meletakkan data pasien. "Ayo ke ruang operasi!" Ajak dokter Reisa. "Ok ayo kita segera kerjakan misi kita!" Ucap dokter Andika sangat bersemangat. "Misi apa dok?" Tanya dokter Reisa ia merasa bingung. "Operasi dok!" Jawab dokter Andika santai. Salsa sangat cemburu melihat Andika bersama Dokter Reisa. Hatinya mulai dipenuhi rasa cemburu, namun ia harus tetap tersenyum saat memeriksa pasien. "Permisi!" Sapa dokter Salsa. "Oh dokter sudah datang!" Jawab keluarga pasien. "Iya Bu, hari ini saya yang akan memeriksa pasien, dokter Andika ada jadwal operasi, dan menggantikan jadwal dokter Bram," jelas Salsa. "Berarti saya yang mengecek dokter terus?" Tanya pasien. "Nanti ada jadwal dokter Andika buk," Salsa merasa kesal ketika melihat pasien lebih nyaman oleh Andika. "Aku kira dokter akan menggantikan tugas dokter Andika!" Ucap keluarga pasien, yang sudah nyaman dengan Andika. "Apa sih spesialnya Andika, dia hanya laki-laki genit," umpat Salsa dalam hati. Andika dan Reisa mulai melakukan operasi. Dokter Reisa memandangi wajah Andika, ia melihat Andika sangat serius. "Tampan sekali dokter Andika, aku harus bisa memperoleh cinta dokter Andika!" Ucap dokter Reisa. Dokter Reisa mulai memiliki perasaan. Setelah satu jam operasi selesai, dokter Reisa dan Andika, keluar dari ruangan operasi. Tak sengaja Salsa lewat di depan ruangan operasi. "Ah kenapa ada mereka berdua si!" Keluh Salsa saat melihat Andika bersama Salsa. "Dasar genit!" Umpat Salsa saat melihat Dokter Reisa tersenyum bahagia saat mengobrol dengan Dokter Andika. "Dok ini sudah jam makan siang, bagaimana kalau kita makan bersama!" Ajak dokter Reisa. "Oh ayo Dok, kita cari saja Restoran yang nyaman!" Jawab Andika. Andika tak mengetahui kalau Salsa berada di belakangnya. "Ah kenapa coba diterima ajakan dokter genit itu!" Salsa merasa sangat kesal sekali melihat dokter genit berdiri di depannya. "Kenapa sih dengan mereka berdua, sok akrab!" Salsa merasa sangat kesal, ketika melihat kedekatan Andika dengan dokter Reisa. "Dok kalau boleh tau dokter setelah makan ada tugas apa?" Tanya dokter Reisa. "Iya kalau saya pribadi, tugas saya kan cek keadaan pasien," jawab Andika. "Siang ini ada tugas nggak dok, kalau tidak ada, bisa gantiin dokter Bram, cek pasien beliau, soalnya beliau kan sendiri, nggak ada dokter yang dampingi, hanya asisten dokter saja!" "Boleh, la dokter Reisa mau kemana?" Tanya Andika sembari berjalan menuju Restoran. "Aku kan punya pasien dok, takut aku nggak efektif kalau harus ngecek pasien dokter Bram!" Jawab dokter Reisa. "Sebenarnya jadwal saya padat, tapi ada dokter Salsa yang tangani," Andika tak menyadari kedekatan dirinya dengan dokter Reisa membuat Salsa cemburu, Andika tak menyadari kalau salsa mengawasi dirinya. "Waduh kalau dokter sibuk bagaimana dengan pasien dokter Bram," Reisa mencari cara agar bisa bersama dokter Andika. "Saya akan menggantikan dokter Bram selama dia cuti," jawaban Andika membuat dokter Reisa tersenyum. "Asik akhirnya aku bisa satu ruangan dengan dokter Andika," gumam dokter Reisa. "Ayo naik mobilku," ajak Andika. Dokter Reisa mulai berbunga-bunga saat Andika membukakan pintu mobilnya untuk dirinya. "Dasar cowok playboy, benar-benar menyebalkan!" Salsa mulai kesal saat melihat Andika bersama dokter Salsa. "Kenapa sa?" Tanya Reiner saat melihat Andika pergi bersama Raisa. "Nggak apa-apa," Salsha pun mulai meneteskan air matanya. "Kamu cemburu dengan Andika?" Tanya Reiner untuk memastikan perasaan Salsa. "Alah ngapain aku cemburu Sama Andika!" Ucap Salsha dengan suara kesal. Namun Reiner mulai menyadari bahwa sepupunya mulai cemburu melihat kedekatan Andika. "Sabar Sa," ucap Reiner sembari menepuk pundak Salsa. "Apaan si kak, nggak usah lebay deh!" Salsa melepaskan tangan Reiner dari pundaknya. "Ooo jadi kakak salah paham ni ya? Kakak kira ada yang kebakaran sumur," ucap Reiner. "Emang bisa iya sumur kebakar?" Tanya Salsa dengan suara agak kesal. "Ada?" Jawab Reiner sembari tersenyum. "Sumurnya di dunia dongeng iya kak? Ledek Salsa. Iya pun tersenyum menyeringai ke arah Reiner. "Ehm di dunia nyata si sepertinya?" Jawab Reiner. "Sudah ayo kita makan kak? Aku pengen makan yang banyak!" Salsa mulai terasa lapar saat melihat Andika dan Reisa pergi. Ia pun memutuskan untuk makan bersama sepupunya. "Boleh, mau makan dimana?" Tanya Reiner sembari membereskan data-data yang berada di meja. "Di Restoran yang ada di gang melati kak?" Salsa mengajak Reiner untuk makan di dekat gang melati, tempat favorit Salsa. "Yakin mau makan disana?" Tanya Reiner untuk memastikan Salsa. "Iya bener lah," jawab Salsa. Reiner dan Salsa pun pergi ke Restoran yang berada di gang melati, Salsa tak ingin berlarut-larut dalam kemarahannya, dia sangat ingin melupakan masalah yang sedang dihadapi meskipun sangat sulit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN