sulitnya untuk jujur

1003 Kata
Andika bersikap manis dengan dokter Reisa, sesampainya di Restoran Andika segera memesan makanan. "Duduk sini dok!" Andika menarik kursi agar bisa ditempati dokter Reisa. "Terimakasih dok," dokter Reisa mulai merasa nyaman dengan perhatian yang Andika berikan. Ia segera duduk di kursi yang sudah Andika siapkan. "Tunggu sebentar, makanan sedang disajikan!" Ucap Andika. Ia memberi tahu dokter Reisa. "Oh nggak apa-apa dok, memang kita harus menunggu makanan yang disajikan!" Jawab dokter Reisa sembari tersenyum menatap dokter Andika. "O iya dokter nanti malam ada jadwal apa?" Tanya dokter Reisa. "Tidak ada dok," jawab Andika singkat. Ia pun mulai menyadari kedekatan dirinya dengan dokter Reisa bisa membuat dokter Salsha cemburu. "Nanti malam saya ada rencana nonton film terbaru di bioskop!" Dokter Reisa mulai memberi kode dokter Andika supaya ia menawarkan untuk nonton bareng. "O film terbaru!" Jawab Andika singkat. "Ayo ajak aku nonton bareng," gumam dokter Reisa. "Pak ini makanan yang bapak pesan tadi," pelayan mulai menghidangkan makanan di meja makan. "Terimakasih mbak," sapa dokter Reisa sangat ramah kepada pelayan Restoran. "Selamat menikmati Bu!" Ucap pelayan sambil meninggalkan mereka. "Ayo dimakan!" Ajak Andika. Dokter Reisa pun tersenyum sembari menjawab. "Terimakasih dok, saya senang bisa bersama dokter Andika," ucap dokter Reisa. Sambil menyantap makanan yang sudah dihidangkan. "Disini makanannya enak!" Dokter Andika memuji restoran. "Iya dok aku nyaman disini," dokter Reisa mulai nyaman berada di Restoran. "Aku bukan nyaman dengan tempat ini tapi aku lebih nyaman bersamamu," gumam dokter Reisa sembari menatap wajah tampan dokter Andika. Tatapan demi tatapan diantara mereka berdua membuat dokter Reisa, mulai berdebar-debar, hatinya mulai dipenuhi bunga-bunga cinta yang sedang bermekaran. "Sa serius mau makan di restoran gang melati?" Tanya Reiner sembari mengemudikan mobilnya. "La Emang kenapa si kak, biasanya juga makan disitu!" Tegas Salsa dengan suara sedikit kesal. "Aku nggak enak kalau nanti bertemu dengan Andika?" Jawab Reiner. Salsa hanya tersenyum mendengar ucapan sepupunya. "Emang kita makan minta Andika?" Tegas Salsa. Reiner menggelengkan kepalanya ia tak ingin membuat sepupunya bertambah kesal. "Terserah dia kak, aku nggak peduli dengan Andika," Ucap salsa dengan nada kesal. Dirinya sangat merasa kecewa dengan perlakuan Andika. Ia mengira Andika laki-laki yang setia. "Sebenarnya Andika tidak seburuk yang kamu pikirkan sa," Reiner mencoba untuk menenangkan kemarahan Salsa. "Baiknya pakai tanda tanya," Hahaha Salsa mulai tertawa mendengar penjelasan kakak sepupunya. "Serius Sa, selama ini dia nggak pernah pacaran?" Ucap Reiner memberi tahu Salsa. Hahaha "Cowok playboy dipuji? Enek aku dengar namanya!" Salsa mulai berpura-pura membenci Andika. Rasa cemburunya mulai terlihat jelas. "Oh iya sudah kalau kamu tidak percaya!" Reiner tak ingin membahas terlalu dalam masalah yang sedang terjadi. Reiner mulai menakutkan mobilnya di parkiran Restoran, ia melihat mobil Andika sedang parkir. "Sa pindah saja ia!" Ajak Reiner. Salsa menatap dengan tajam mobil Andhika, Pratama ia segera turun dari mobilnya. "Sa, Sa, Sa!" Panggil Reiner. Namun Salsa segera masuk ke dalam Restoran ia pun mengawasi Andika dari kejauhan. "Dasar Playboy," ucap Salsha dengan penuh rasa kecewa. "Kan kakak sudah bilang jangan disini!" Reiner mulai mendinginkan kemarahan Salsa. "Nggak apa-apa kak, aku bisa tahan kok, lagian siapa juga Andika!" Ucap Salsa sembari memandangi wajah Andika dari kejauhan. "Ada noda di bibirmu!" Ucap Reisa. Reisa pun segera mengambil tisu dan membersihkan noda di bibir Andika. Reisa membersihkan noda dengan sangat mesra sekali, membuat Salsa semakin cemburu, namun Salsa menahan kekesalan yang ada dalam hatinya. "Dasar laki-laki, coba nggak usah manja?" Umpat Salsa saat melihat kekasihnya bersama orang lain. "Sa memang Andika pacarmu?" Tanya Reiner. Reiner mulai kesal melihat Andika bersama dokter Reisa. "Nggak biasa saja, toh aku juga nggak mau pacaran sama laki-laki play boy seperti dia," ucap Salsa. Kekesalan nampak sangat jelas diwajah Salsa. Pipinya mulai memerah, ia pun mulai menaikan nafasnya. Huh Ia mulai merasa lega, setelah menarik nafasnya dalam-dalam. Ia pun mulai menyantap hidangan yang ada di meja makan. "Kak ayo makan!" Ajak Salsa. Reiner yang sedang bermain ponsel meletakkan ponselnya dengan segera. "Oke, kakak juga sangat lapar!" Reiner merasa sangat lapar ketika melihat makanan yang sangat enak di meja makan. "Kak Reiner memang nggak punya pacar?" Tanya Salsa. UHuk uhuk uhuk Reiner tersedak saat mendengar pertanyaan Salsa, ia pun mulai tersenyum mengingat wanita cantik bernama Seina. "Ada Sa namanya Seina," jawab Reiner. "Seina?" Salsa merasa asing dengan nama yang Reiner sebutkan. "Iya Seina, dia mahasiswa kedokteran, " jawab Reiner santai. "Aku nggak kenal?" Jawab Salsa. "Aku juga nggak paham, karena dia sepupu Andika!" Jawab Reiner malu-malu. "Sepupu Andika?" Teriak Salsa. Suara Salsa sangat keras membuat orang menengok ke arah Salsa saat mendengar suaranya. "Hus diam-diam saja," jawab Reiner. "Jangan bilang kalau kakak suka sama dia?" Salsa mulai tak suka dengan hubungan kakaknya. "Aman dek cuma teman dekat saja?" Jawab Reiner. Padahal Reiner sangat berharap bisa menjadi kekasih Seina. Namun Reiner belum berani mengungkapkan perasaannya pada Seina. "Sudah nggak usah bahas si Seina, nggak penting?" Ucap Salsa yang merasa sangat kesal mendengar nama Seina di telinganya. Kisah asmara yang Salsa rasakan benar-benar membuat dirinya merasa sangat kesal, Andika orang yang ia cintai justru dekat dengan dokter senior, Salsa mulai minder saat ia harus bersaing dengan dokter Reisa. "Ayo pulang?" Ajak Andika kepada dokter Reisa. "Pulang!" Dokter Reisa bingung saat mendengar Andika salah bicara. "Maksudku pulang ke Rumah sakit!" Tegas Andika meluruskan ucapannya. Dokter Reisa pun tersenyum, ia sangat berharap Andika bisa mencintai dirinya. Mereka berdua pun pergi meninggalkan Restoran, saat Andika berada di parkiran ia terkejut. "Lo ini mobil Reiner!" Andika mulai merasa tidak enak saat melihat mobil Reiner parkir. "Salsa pasti marah," ucap Andika. Dokter Reisa tak sengaja mendengar ucapan Andika. "Salsa, memang ada hubungan apa dengan Salsa?" Tanya dokter Reisa. Dokter Reisa mulai kesal mendengar ucapan Andika. "Aku dengan Salsa, nggak ada hubungan apa-apa!" Andika tak ingin jujur pada dokter Seina. Ia tak ingin dokter Seina merasa tidak nyaman dengan dirinya. "Aku kira kamu ada hubungan spesial sama salsa?" Tanya dokter Reisa. Andika mulai tersenyum mendengar pertanyaan yang dokter Reisa berikan. Ia merasa bingung antara jujur dan tidak jujur. "Hubungan yang spesial? Aku sama sekali tidak memiliki hubungan yang spesial, aku hanya dekat saja." Andika tidak mau jujur mengenai hubungannya. Dokter Reisa tersenyum bahagia mendengar ucapan Andhika.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN