Jangan Biarkan Aku Marah

1002 Kata
"Sa, kamu kenapa?" Tanya Reiner yang melihat sepupunya bengong. "Nggak apa-apa kak!" Reiner pun melihat ke arah Andika yang sedang berjalan bersama Raisa. "Sudah nggak usah berpikir yang tidak-tidak!" Reiner menasehati Salsa. Ia tak ingin salsa berburuk sangka. "Aku baik-baik saja kak," Salsa tak ingin membahas rasa sakit yang ia alami. "Syukurlah kalau kamu baik-baik saja!" Reiner tak ingin memperdalam masalah yang ia alami. "Aduh pusing kak!" Ucap Salsa. Salsa mulai merasa tak enak badan, ia baru saja sembuh dari sakitnya. Kondisi tubuh Salsa belum stabil, ia mulai terlihat pucat, Reiner tak bisa diam, ia segera mengajak Salsa untuk pulang, "ayo Sa pulang!" Ajak Reiner. "Kak aku harus mengecek keadaan pasien ku?" Jawab Salsa. Salsa teringat pekerjaan yang belum ia selesaikan. "Kamu bisa bekerja besok lagi, biar Andika yang mengecek pasien!" Jawab Reiner. "Andika bukankah dia menggantikan dokter Bram cuti!" Jawab Salsa. "Nanti biar di cek dokter sip malam!" Tegas Reiner. "Kita sip pagi sa, kalau sudah selesai jam makan siang kita sudah nggak wajib keliling," jawab Reiner. "Tadi ada 5 kamar lagi kak yang belum kita cek!" Tegas Salsa. Salsa tak ingin lalai dalam pekerjaan yang sudah ia tekuni. "Baik Sa, aku nggak bisa melarang dirimu, karena itu adalah tugas seorang dokter!" Jawab Reiner. "Kak sebenarnya aku sangat ingin marah dengan Andika!" Ucap Salsa. "Marahlah sa?" Reiner tak melarang adik sepupunya untuk marah. Salsa yang menahan kemarahannya mulai mengambil ponselnya ia mulai mengetik pesan. "Dasar Playboy!" Umpat Salsa di pesan yang ia kirimkan kepada Andika. Andika dan Reisa masih dalam perjalanan menuju Rumah Sakit, Andika mulai merasa tidak nyaman dekat bersama dokter Reisa. "Dokter baik-baik saja?" Tanya dokter Reisa yang melihat wajah Andika mulai memerah. "Aku baik-baik saja dok!" Jawab Andika. Andika mulai memikirkan ke salah pahaman yang terjadi diantara dirinya dan Salsa. "Pasti Salsa kecewa melihat aku bersama dokter Reisa!" Gumam Andika dalam hati, hatinya terasa gundah saat ia harus memikirkan Salsa. "Sa maafin aku, aku tak bermaksud membuat kamu marah!" Ucap Andika dalam hati. Ia sangat tak ingin Salsa berpikir buruk tentang dirinya. "Dok!" Tanya Dokter Reisa saat melihat Andika bingung. "Iya!" Jawab Andika. "Dokter baik-baik saja kan?" Tanya dokter Reisa. Ia tak ingin terjadi sesuatu pada dokter Andika. "Aku bingung dok?" Jawab Andika. Ia tak sadar dengan ucapannya. "Bingung?" Dokter Reisa mendengar Jawaban yang tidak pas di telinga nya. "Oh tidak dok!" Andika tak ingin memperpanjang pertanyaan dokter Reisa. "Ah kenapa keceplosan!" Gumam Andika dalam hati. "Kak ayo ke Rumah Sakit!" Ajak Salsa kepada kakak sepupunya. "Ayo Sa, ini juga sudah hampir habis waktu istirahat kita!" Jawab Reiner. Reiner berjalan ke tempat kasir, ia segera membayar makanan yang ia pesan. "Berapa mbak?" Tanya Reiner pada pegawai Restoran. "Sejumlah seratus ribu rupiah pak?" Jawab pegawai Restoran yang sangat lembut dan ramah. "Ini mbak!" Reiner mengulurkan uang sejumlah seratus ribu rupiah kepada pegawai Restoran. "Terimakasih pak!" Ucap pegawai Restoran. Reiner segera menghampiri Salsa. "Sa ayo pulang?" Ajak Reiner. Salsa segera mengambil tasnya dan berjalan menghampiri kakak sepupunya. "Ayo kak!" Jawab Salsa. Salsa pun berjalan bersama kakaknya menuju mobil. "Sa!" Panggil laki-laki berkemeja hitam. "Siapa iya?" Salsa heran melihat laki-laki yang memanggilnya. Laki-laki itu berjalan menghampiri Salsa. "Kamu lupa?" Tanya laki-laki yang berada di depan Salsa. "Aku lupa! Kamu siapa iya?" Tanya Salsa. "Aku Zaki, teman SMA kamu di Jogja!" Zaki menjelaskan siapa dirinya. "Oh Zaki! Aku baru ingat!" Jawab Salsa. Salsa mulai mengingat masa lalunya bersama Zaki. "Sa kamu mau kemana?" Tanya Zaki. "Aku harus ke rumah sakit Zaki, aku ada jadwal pemeriksaan pasien!" Jawab Salsa sembari menatap Zaki. "Sa aku minta nomer w******p kamu?" Zaki meminta nomer w******p Salsa. Ia ingin lebih akrab dengan Salsa. "Boleh, ini nomor w******p ku!" Salsa memberikan kontak w******p nya. "Terimakasih sa!" Ucap Zaki sembari tersenyum menatap wajah Salsa. "Sama-sama Zaki!" Salsa segera naik ke mobil dan menuju Rumah Sakit. "Kak Andika balik ke ruangannya atau pindah ruangan iya kak?" Tanya Salsa kepada kakak sepupunya. "Nggak tahu kalau itu, kakak nggak mau kamu terlalu memikirkan Andika!" Reiner mulai menasehati kembali Salsa. Reiner tak ingin sepupunya merasa cemburu dengan Andika. Klunting suara smartphone Salsa, ia mulai membuka pesan w******p nya. "Sa ini aku," "Chat dari siapa ini, aku nggak paham nomornya. "Salsa mematikan ponselnya," Zaki melihat chat yang ia kirimkan sudah di baca, ia pun merasa heran mengapa hanya di read tak di balas. "Ada apa ini! Pesanku tak di jawab!" Ucap Zaki saat melihat chat yang ia kirimkan tidak ada jawaban. "Apakah dia tak mengetahui ini nomer w******p yang ku milik?" Zaki mulai bingung dengan Salsa yang hanya membaca pesannya. "Mungkin dia sibuk!" Zaki mencoba untuk menenangkan hatinya. Zaki masuk ke Restoran dan memesan makanan. "Sa, tenangkan jiwamu!" Ucap Reiner saat akan masuk kedalam Rumah sakit. "Lebai kak, memang aku seperti singa yang baru melahirkan!" Jawab Salsa sambil mengerutkan dahinya. Salsa pun membuka pintu mobil dan segera turun, Ia berjalan sangat cepat. "Gawat ini dia sepertinya marah," ucap Reiner sembari mematikan mobilnya. Dan turun mengejar Salsa. "Sa tunggu!" Panggil Reiner. Reiner berlari mengejar Salsa. "Kenapa lari kak!" Tegas Salsa. "Aku takut kamu marah!" Jawab Reiner yang mulai khawatir dengan keadaan Salsa. Salsa menggelengkan kepalanya dan menjawab perkataan kakaknya. "Aku dari tadi bilang, aku baik-baik saja kak!" Tegas Salsa. Salsa sampai ke dalam ruangan kerjanya. Andika yang sedang duduk menatap layar laptop merasa terkejut dengan kedatangan Salsa. "Oh Salsa," ucap Andika. Salsa tak menghiraukan panggilan Andika. Ia segera merapikan buku-buku yang ada di mejanya. Andika berdiri menghampiri Salsa sembari bertanya kepada Salsa. "Sa sudah makan?" Tanya Andika yang merasa bersalah terhadap Salsa. Salsa tak menghiraukan panggilan Andika, bahkan saat Andika di depannya ia tak mau menatap Andika. "Kak sudah siap?" Panggil Salsa kepada Reiner. Andika berdiri di depan Salsa namun Salsa sama sekali tak mau menatap Andika. "Sudah Sa, sebentar aku minum kopi dulu!" Reiner meneguk kopi yang masih hangat yang berada di mejanya. "Sa kamu marah!" Tanya Andika kepada Salsa. Namun Salsa sama sekali tidak menghiraukan Andika, Andika merasa bersalah sudah membuat Salsa merasa kesal melihat dirinya bersama wanita lain. "Aku rasa Salsha cemburu melihatku bersama wanita lain," gumam Andika sambil menatap wajah Salsa
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN