"kak ayo!" Ajak Salsa kepada Reiner. Reiner merasa tidak nyaman saat melihat Andika berdiri diam di hadapan Salsa.
"Iya," Reiner berjalan mendekati Salsa sembari menatap wajah Andika.
"Ayo keluar disini aku gerah sekali?" Ucap Salsha sambil melirik Andika.
Andika terdiam tak bisa berkata-kata saat melihat Salsa pergi meninggalkan dirinya.
"Ah karena aku kerja bersama dokter Reisa, Salsa salah paham!" Ucap dokter Andika. Dokter Reisa pergi menuju ke ruangan Andika.
"Lo Dokter Salsa mau kemana?" Tanya dokter Reisa kepada Salsa.
"Oh aku mau cek pasien dok?" Jawab Salsa sembari menundukkan kepalanya.
"Oh aku juga mau ke ruangan dokter Andika, siang ini kami ada jadwal pemeriksaan pasien rawat jalan?" Ucap dokter Reisa sembari tersenyum melihat Salsa.
"Oh iya dok, aku permisi dulu!" Jawab dokter Salsa. Dokter Reisa merasa dokter Salsa sangat kesal pada dirinya.
"Ah biarkan saja, mungkin dia kurang piknik!" Ucap Dokter Reisa sembari berjalan menuju ruangan Andika.
"Dasar nggak punya hati!" Ucap Salsha sembari berjalan meninggalkan dokter Reisa.
"Kenapa si Sa?" Tanya Reiner untuk membuat hati Salsa kembali ceria.
"Dasar wanita itu kak!" Ucap Salsha sambil menengok ke belakang.
"Jangan cemburu Sa! Andika kan sedang menggantikan Dokter Bram!" Reiner menjelaskan kepada Salsa.
"Sudah nggak usah dipikirin, ayo kita perlu mengecek pasien!" Salsa masuk kedalam ruangan pasien.
"Selamat siang pak!" Sapa Salsa saat melihat Pasien sedang terbaring di atas ranjang Rumah Sakit.
"Siang dok!" Jawab pasien dengan suara lemas.
"Kita cek dulu iya pak!" Ucap Salsa sembari mengecek keadaan pasien.
"Oh ada dokter?" Sapa seorang laki-laki tampan bernama Bagas.
"Iya pak!" Jawab Salsa sembari mengecek keadaan pasien.
"Dok, ini anak satu-satunya yang saya miliki, dia jomblo dok!" Ucap pasien sembari menatap Salsa.
"Ah masak tampan jomblo pak!" Salsa mulai menanggapi pembicaraan pasien.
"Dok boleh saya tahu nama dokter?" Tanya Bagas sambil mengulurkan tangannya.
"Boleh, aku Dokter Salsa!" Jawab Salsa sambil berjabat tangan dengan Bagas.
"Aku Bagas dok, bekerja sebagai CEO," Bagas memperkenalkan dirinya.
"Oh senangnya saya bisa berkenalan dengan bapak!" Jawab Salsa sembari tersenyum.
"Terimakasih dok, Dokter senang berkenalan dengan anak saya!" Ucap pasien yang sedang sakit.
"Dok boleh saya minta kontak dokter?" Tanya Bagas sembari mengulurkan ponselnya.
"Boleh pak!" Salsa meraih ponsel Bagas dan menulis nomor teleponnya.
"Ini pak," Salsa memberikan ponsel Bagas.
"Saya permisi ya pak!" Salsa pergi meninggalkan Bagas dan Arjuna.
"Cantik, ramah, baik iya pa?" Ucap Bagas saat Salsa sudah meninggalkan ruangannya.
"Kalau kamu suka, datangi dia!" Papa Bagas memberi semangat kepada Bagas, untuk mendekati Salsa.
"Siap pa!" Jawab Bagas sangat bersemangat.
"Sa hari ini ada dua cowok yang meminta kontak ponselmu?" Tanya Reiner.
"Iya hilang satu tumbuh dua?" Jawab Salsa sembari tersenyum menyeringai ke arah sepupunya.
"What?" Reiner merasa heran dengan ucapan Salsa.
"Ah sudahlah jangan dibahas!" Tegas Salsa. Salsa pun masuk keruangan pasien.
"Lo kok sendirian?" Tanya pasien saat melihat Salsa tidak bersama dokter Andika.
"Dokter Andika, menggantikan sip dokter Bram pak!" Jawab Salsa sembari tersenyum manis.
"Oh Dokter Andika pindah sip!" Pasien dokter Andika sudah merasa nyaman dengan perawatan dokter Andika. Sehingga ia mencari dokter yang biasa merawatnya.
"Ibu aku coba periksa iya? Siapa tahu ibu nyaman aku periksa!" Salsa mencoba untuk mengambil hati pasien.
"Oh baik dok!" Jawab pasien. Salsa mencoba untuk memeriksa pasien.
"Sudah agak baikan!" Ucap Salsa saat melihat pasien yang sudah stabil.
"Boleh pulang dok?" Tanya pasien.
"Aku tanya dokter Andika dulu iya Bu, soalnya dia yang bisa memutuskan!"
Salsa menjelaskan kepada pasien.
"Terimakasih dok!" Pasien sangat berterima kasih kepada Salsa.
"Aku permisi Bu, masih banyak pasien yang belum aku periksa!" Salsa berjalan pergi meninggalkan pasien.
Saat salsa keluar dari ruangan tak sengaja ia berpapasan dengan Bagas.
"Dok!" Panggil Bagas.
"Iya pak!" Jawab Salsa. Bagas nampak sangat gugup.
"Papa ku drop!" Ucap Bagas dengan suara gugup.
"Oh baik!" Salsa dan Reiner segera masuk kedalam ruangan pasien.
"Kak ini pasien perlu dibawa ke UGD!" Salsa segera membantu pasien dengan prosedur Rumah sakit.
"Ayo kita bawa ke UGD disini alat tidak lengkap!" Reiner segera membawa pasien ke UGD, Bagas membantu Salsa memindahkan pasien ke ruang UGD.
"Kak panggil Dokter jaga!" Ucap Salsa. Reiner segera berlari ke arah Dokter jaga.
"Ka ada pasien kritis!" Reiner memberi tahu Andika.
"Oke aku kesana!" Andika berlari menuju UGD.
"Sa ambil obatnya!" Perintah Andika. Salsa segera mengambil obat yang Andika minta.
Andika dan Salsha sangat berkonsentrasi membantu pasien, dua puluh menit kemudian pasien siuman.
"Ba, huh huh huh," pasien mencari Bagas.
"Sebentar pak aku panggil Bagas!" Ucap Salsa. Salsa segera mencari Bagas.
"Gas, Papa mencarimu!"ucap Salsa memberi tahu Bagas.
"Oh baik!" Bagas segera masuk ke ruangan Papanya.
"Apa pa?" Tanya Bagas sembari menggenggam tangan Papanya.
"Jaaaa ga dirimu," Tut Tut Tut Tut detak jantung berhenti.
"Papa!" Teriak Bagas sembari menangis. Salsa dengan refleks berlari mendekati Bagas.
"Sabar Gas, jangan sampai air matamu mengenai papa mu!" Ucap Salsha sembari memeluk Bagas.
Salsa mulai meneteskan air matanya.
Andika segera mengecek keadaan pasien.
Innalillahi wa innailaihi rajiun
"Papa," Bagas menangis dalam pelukan Salsa.
"Sabar Gas!" Ucap Salsa. Salsa tak sadar dirinya memeluk Bagas sambil meneteskan air matanya.
"Ini kenapa anak bisa berpelukan," gumam Andika dalam hati. Andika mulai merasa tidak nyaman melihat Salsa bersama dengan Bagas. Ia segera pergi keluar ruangan.
"Reiner!" Panggil Andika. Saat melihat Reiner keluar dari ruangan.
"Ada apa ka?" Jawab Reiner. Andika menarik nafasnya dalam-dalam.
"Itu siapa yang berada didalam bersama Salsa!" Tanya Andika.
"Itu Bagas!" Jawab Reiner. Reiner tak ingin memperpanjang obrolan dengan Andika. Ia segera pergi meninggalkan Andika.
"Ada apa si dengan hubungan mereka!" Tegas Andika. Andika mulai merasa cemburu hatinya berdebar-debar.
"Sabar Gas!" Ucap Salsa.
"Aku sendiri Sa, ibuku sudah meninggal dan sekarang Papa ku," ucap Bagas sembari meneteskan air matanya.
"Doakan Ayahmu masuk surga Gas!" Ucap Salsa. Salsa menasehati Bagas.
"Sa tolong urus semuanya Sa! Ini ATM ku ini kode PINnya," ucap Bagas sembari mengulurkan ATM kepada Salsa.
"Terimakasih Sa!" Ucap Bagas.
"it's okay gas, I'm happy to help you!" Ucap Salsa. Ia pun keluar ruangan menyiapkan semua berkas-berkas Ayah Bagas. Bagas hanya bisa menangis sembari memandangi Ayahnya dari kejauhan.
"Ayah maafkan aku!" Ucap Bagas, sembari mengingat masa lalunya bersama Ayahnya.
Kesedihan sangat Bagas rasakan, membuat Salsa sedih melihat Bagas.
"Kamu harus bersabar menjalani ini semua," ucap Salsa.