Ada Aku Disini

1002 Kata
"mbak tolong urus data-data pasien yang bernama pak Herman iya! Dia sudah meninggal!" Ucap Salsha pada petugas rumah sakit. "Lo kok Dokter Salsa yang mengurus?" Tanya petugas yang berjaga di ruang administrasi. "Iya mbak Ayah temanku!" Jawab Salsa. Salsa berjalan meninggalkan ruangan administrasi, ia segera menemui Bagas. "Sudah gas jangan menangis!" Salsa mencoba untuk memberikan motivasi kepada Bagas. "Terimakasih Sa!" Ucap Bagas sembari menangis. "Kamu nggak ada saudara Gas?" Tanya Salsa saat melihat Bagas sendiri. "Sebentar lagi saudara Ayah datang!" Jawab Bagas. "Gas ini ATM mu sudah aku urus tinggal menunggu data-data dan kamu bisa pulang, nanti ada suster yang bantu, aku pergi dulu iya Gas, aku harus nunggu di ruang jaga!" Salsa berjalan meninggalkan Salsa, ia kembali ke ruangannya. "Huh hari ini lelah sekali!" Ucap Salsha sembari berjalan menuju ruangannya. Ia tak tahu Andika berada disampingnya. "Akrab banget iya!" Ucap Andika. Salsa terkejut mendengar ucapan Andika. "Oh kamu!" Salsa melihat wajah Andika. "Dari tadi aku disini!" Tegas Andika. "Wajar aku dekat, dia pacar baruku!" Salsa membohongi Andika. Andika hanya tersenyum saat mendengar ucapan Salsa. "Nggak usah bohong Sa, aku tahu kamu bohong!" Ucap Andika seraya menatap tajam dua bola mata Salsa. "Apaan sih!" Salsa merasa tidak nyaman dengan sikap Andika, ia pun mengalihkan pandangannya dan berjalan pergi meninggalkan Andika. "Huh sebel banget aku liat wajah Andika," gumam Salsa sembari merenggut kan bibirnya. "Sa!" panggil Reiner sembari berjalan menuju ke arah Salsa. "Apa kak!" Jawab Salsa. Reiner tersenyum melihat Salsa. "Kenapa kak?" Tanya Salsa saat melihat sepupunya tersenyum. "Bagas!" Jawab Reiner sembari tersenyum. "Iya kenapa Bagas?" Salsa merasa aneh saat mendengar nama Bagas. "Bagas sepertinya suka sama kamu!" Tegas Reiner sembari tersenyum menatap wajah Salsa. "Terus saja jadi Mak comblang!" Tegas Salsa sembari tersenyum menatap wajah Reiner. "Bahas apa si?" Tanya Andika yang tiba-tiba datang dan ikut nimbrung. "Sudah yuk kak, kita ke ruangan kita!" Salsa menyeret tangan Reiner dan tak memperdulikan kata-kata Andika. "Benar-benar orang ini;" ucap Andika ketika melihat Salsa dan Reiner pergi meninggalkan dirinya. Andika merasa kesal saat melihat Salsa bersikap acuh pada dirinya. Ia pun kembali ke ruangan rawat jalan bersama dokter Reisa. "Sudah dok?" Tanya dokter Reisa saat Andika sudah sampai di depan pintu. "Sudah dok!" Jawab Andika. Dokter Reisa merasa aneh saat melihat Andika sedikit murung. "Ada apa dok?" Tanya dokter Reisa. "Biasa masalah anak muda, di luar pekerjaan?" Jawab Andika sembari menundukkan kepalanya. Dokter Reisa mengambil minuman dan ia berjalan mendekati dokter Andika. "Aduh," dokter Reisa terpeleset dan jatuh tepat di pangkuan dokter Andika. "Nggak apa-apa dok?" Tanya dokter Andika sembari melihat wajah dokter Reisa, wajah dokter Reisa mulai memerah. "Maaf dok!" Dokter Reisa segera berdiri menjauhkan tubuhnya dari dokter Andika. "Nggak apa-apa dok!" Dokter Reisa mulai merasa malu ia terdiam dan kembali duduk di kursinya. "Aduh basah," ucap Andika saat memegang kaosnya yang basah. "Sa ayo siap-siap," ajak Reiner. Salsa lalu bergegas untuk bersiap-siap. "Ayo kak," jawab Salsa yang sudah siap. "Kak mantai sebentar yuk!" Ajak Salsa untuk pergi ke pantai terdekat. "Capek sa, kakak ingin istirahat!" Ucap Reiner. Hari ini pekerjaan sangat banyak yang harus Reiner kerjakan, ia sangat ingin segera terbaring dalam tidurnya. "Iya sudah ayo pulang?" Salsa menyadari kesalahan yang Reiner rasakan, ia juga ingin beristirahat. "Kamu harus istirahat Saja, besok kita harus bekerja!" Ucap Reiner. "Kak besok kita ganti sip malam kan?" Tanya Salsa sembari menatap wajah kakak sepupunya. "Iya Sa, kita besok masuk sip malam," Reiner memberhentikan mobilnya karena lampu merah menyala. Salsa membuka pintu mobilnya tak disengaja ada Zaki. "Sa!" Panggil Zaki. Salsa tersenyum saat melihat Zaki berada di samping mobilnya. "Kenapa Sa!" Tanya Reiner saat melihat sepupunya tersenyum. "Ada Zaki kak!" Jawab Salsa sembari menatap wajah Zaki. "Oh si dia!" Reiner mulai tak suka melihat Zaki. "Kakak kenapa sih nggak pernah dukung aku punya pacar?" Tanya Salsa kepada kakak sepupunya. "Kakak nggak mau mereka mempermainkan perasaanmu Sa!" Reiner segera melajukan mobilnya. Zaki mengikuti mobil Reiner. "Kenapa si dia ngikutin!" Gumam Reiner saat melihat mobil Zaki mengikuti dari belakang. "Namanya juga dia penasaran sama kita kak!" Ucap Salsha santai. "Penasaran?" Reiner tak mengerti apa yang Salsa maksud. "Iya penasaran, kan dia ingin mengetahui dimana aku tinggal kak!" Dengan pede Salsa mengira Zaki mengikuti dirinya. "Belum tentu juga Sa!" Reiner tidak ingin membuat sepupunya besar kepala. Sesampainya di Apartemen Reiner, Reiner memarkirkan mobilnya. Salsa dan Reiner turun dari mobilnya. "Sa!" Panggil Zaki. Salsa menengok ke arah suara yang memanggil namanya. "Oh Zaki!" Ucap Salsha saat melihat Zaki berada di belakangnya. "Boleh aku main ke apartemen mu!" Pinta Zaki pada Salsa. "Bo," suara Salsa terhenti. "Nggak boleh!" Tegas Reiner kepada Zaki. "Kakak!" Rengek Salsa. "Kamu harus istirahat, kalau dia mau main nanti jam tujuh malam!" Tegas Reiner. Zaki merasa tidak enak mendengar ucapan Reiner. "Maaf kak, aku sudah ganggu!" Ucap Zaki sembari tersenyum menatap Reiner. "Oke kamu bisa pulang, aku dan adikku mau tidur dulu!" Reiner segera menarik tangan Salsha dan membawa pergi menuju Apartemennya. "Ah kakak!" Rengek Salsa pada kakaknya. "Kamu kira kakak nyaman kamu pergi sama teman laki-laki," tegas Reiner dengan nada kesal. "Ya nyaman, kan berarti aku cantik!' jawab Salsa dengan nada santai. Wajah Reiner berubah memerah, Reiner melirik Salsa dengan tatapan tajam. "Biasa aja bro lihatin aku," ledek Salsa saat mengetahui kakak sepupunya sedang marah. "Terserah kamu Saja, aku lelah ngomong sama kamu!" Reiner pergi meninggalkan Salsa. Ia segera masuk ke dalam kamarnya. "Dududu ada yang marah!" Ledek Salsa kepada kakaknya. "Kak Reiner, aku mau pergi iya!" Ucap Salsa di depan pintu kamar kakaknya. "Terserah Sa, kakak lelah ngatur kamu!" Jawab Reiner dengan nada kesal. "Aku berangkat!" Pamit Salsa. Salsa hanya menggoda kakaknya, ia tidak pergi main, melainkan pergi untuk tidur. "Rasain kak Reiner, dia kira aku main aku mau pergi tidur!" Salsa segera mandi dan tidur. Namun sebelum ia tidur, ia membuka ponselnya. Terimakasih Salsa, aku sangat senang kamu bisa membantuku. Sebuah pesan yang dikirim oleh Bagas, membuat Salsa tersenyum. "Memang kalau punya wajah cantik, pasti selalu mendapatkan perlakuan manis dari para lelaki sukses," gumam Salsa sembari tersenyum menatap ponselnya. Ia segera tidur untuk menghilangkan rasa lelahnya, pekerjaan yang begitu banyak sangat membuat Salsa kelelahan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN