terlelap dalam mimpi

1003 Kata
"Lo ini anak kok, nggak ada kabar!" Ucap Reiner. Reiner tak mendengar suara Salsa, ia pun turun dan mengeceknya. "Pintu terkunci!" Reiner mencoba membuka kamar Salsa. "Aku kira dia pergi," ucap Reiner sembari membuka pintu kamar Salsa, namun terkunci dari dalam. "Ternyata dia tidur," Reiner kembali ke kamarnya. Ia merasa lega, adik sepupunya tidak pergi kemana-mana. Zaki menelepon Salsa, namun Salsa belum juga mengangkat panggilannya. "Ini anak kemana kok nggak mau angkat telpon ku!" Zaki merasa kesal, ia tak putus asa, ia mencoba menelepon Salsa kembali. "Ayo dong angkat Sa!" Zaki penuh harap, ia sangat ingin bisa bersama Salsa. "Halo," jawab Salsa dengan suara mengantuk. "Sa, gimana jadi nggak?" Tanya Zaki. "Apa sih Zaki, aku nggak tau apa yang kamu maksud!" Salsa masih bingung dengan apa yang Zaki katakan. "Jalan bareng Sa!" Zaki berharap Salsa menerima ajakannya. "Maaf Zaki, aku lelah sekali!" Salsa menolak ajakan Zaki. "Yah kok nggak jadi sih sa!" Zaki mulai merasa kesal ia pun mematikan panggilannya sepihak. "Ada apa ini anak! Nelpon nggak ada yang minta, tiba-tiba main di matikan ponselnya!" Salsa pun kembali tertidur. Andika pulang dari rumah sakit ia segera naik ke apartemennya. "Makanan ini kesukaan Reiner dan Salsa," ucap Andika sembari memegang makanan yang ia beli di tempat kesukaan Salsa. Ia pun menekan tombol bel di pintu kamar Apartemen Salsa. Reiner merasa kesal saat mendengar bel pintu berbunyi. "Siapa si yang membunyikan bel di malam hari," Reiner pun turun sembari membuka pintu kamarnya. "Oh kamu ka!" Tanya Reiner saat melihat Andika berdiri di depan pintu kamar apartemennya. "Boleh masuk!" Andika meminta izin untuk masuk. "Boleh, ada angin apa ka!" Tanya Reiner saat melihat Andika yang sedang berkunjung ke Apartemenya. "Aku ingin makan bareng sama kalian!" Reiner sebenarnya ingin menolak perbuatan Andika. Namun setelah ia mencium aroma makanan perutnya pun merasa lapar. "Sebenarnya aku malas ka, makan malam sama kamu," ucap Reiner. Andika tersenyum saat melihat Reiner yang bersikap sok jual mahal. "Tapi kamu nggak bisa kan, nolak aku, ayolah lupakan semua perselisihan di antara kita!" Andika tak ingin perselisihan di antara mereka terus terjadi. "Aku hanya nggak ingin kamu melukai hati Salsa." Reiner memberi tahu apa yang membuat dirinya kesal pada Andika. "Iya sudah Rei, itu nggak usah di bahas, walaupun kamu larang aku sama Salsa aku tetap akan berusaha mendekati Salsa!" Tegas Andika. Andika tidak bisa menuruti kemauan Reiner. "Terus bagaimana dengan Reisa?" Tanya Reiner yang salah paham mengenai hubungan Andika dan Reisa. "Oh jadi selama ini kamu mengira Aku dekat dengan Reisa!" Andika tertawa melihat ke salah pahaman yang terjadi. "Aku nggak habis pikir saja kamu bisa berpikir seperti itu?" "Aku dan Reisa nggak ada apa-apa!" Jelas Andika. Andika ingin meluruskan kesalahpahaman yang sudah terjadi. "Aku nggak tahu ka yang benar bagaimana!" Reiner sulit untuk mempercayai perkataan Andika. "Ayo makan!" Ajak Andika. Andika mempersiapkan makanan di meja makan, ia pun memanggil Salsa. "Sa ayo makan, pasti kamu lapar kan! Panggil Andika. Salsa mengira Reiner yang mengajaknya, ia segera keluar dari kamarnya. "Tunggu kak, aku lapar!" Salsa segera mencuci muka dan keluar kamar. "Kak Andika!"Salsa terkejut saat melihat Andika berada di meja makan bersama kakak sepupunya. "Ah aku nggak lapar!" Salsa berjalan kembali menuju kamarnya. Andika segera menghampiri Salsa. "Sa sudah iya jangan marah, meskipun kamu masih marah, ayo makan, kamu lapar kan!" Ucap Andika sangat lembut. Salsa pun mengikuti kemauan Andika, ia segera duduk dimeja makan. "Terimakasih kalian sudah mau makan bersama disini!" Ucap Andika. Salsa tersenyum menyeringai menandai kekesalan masih jelas di wajahnya. "Iya jelas kami mau menerima mu, orang kamu tamu, nggak sopan kan kalau tamu di cuekin!" Jawab Salsa ketus membuat hati Andika tergores. "Iya sudah ayo makan dulu," Andika membuka kotak berisi pizza kesukaan Salsa. Ia menyuapi Salsa sepotong pizza dengan tatapan manja. "Ayo makan!" Salsa pun menerima sikap manis Andika, rasa kesalnya pun berlangsung menghilang. "Sebenarnya kamu baik kak, tapi kamu playboy," ucap Salsa dalam hati. Salsa sudah salah menilai Andika. "Mau makan pakai apa?" Tanya Andika setelah potongan pizza yang ia pegang sudah habis. Salsa kembali mengambil sepotong pizza dan ia berikan kepada Andika. "Ah kenapa aku seperti obat nyamuk," ucap Reiner. Reiner membawa satu kotak martabak telur favoritnya dan pergi meninggalkan mereka. "Aku pergi dulu!" Reiner berjalan menuju teras Apartemenya. "Ah mereka ini, membuat aku iri saja, kapan aku bisa memiliki kekasih!" Keluh Reiner. Reiner yang selalu bersikap dingin sangat sulit untuk bisa mendapatkan kekasih. "Jujur iya kak, aku kesel sama kamu!" Jelas Salsa. Andika tersenyum melihat Salsa marah. "Kamu marah saja aku nggak akan marah!" Ucap Andika santai. Ia sangat memahami psikologi Salsa. "Nggak jadi, aku nggak mau bersikap sembarangan sama dokter senior ku!" Tegas Salsa. "Kamu tau nggak sa, apa yang membuat ku kesini menemui mu?" Tanya Andika sembari menatap kedua bola mata Salsa. "Nggak kak, aku nggak tau!" Jawab Salsa santai. "Saat Bagas bisa meluapkan semua kesedihannya sembari memeluk mu, aku merasa sangat sakit!" Andika menjelaskan bahwa dirinya merasa cemburu. "Oh jadi kamu cemburu?" Tanya Salsa sembari tersenyum menatap wajah Andika. "Nggak sayang!" Andika tak ingin Salsa mengetahui bahwa dirinya cemburu. "Berarti. Nggak sayang dong?" Ucap Salsa di iringi rasa kesal. "Cemburu itu untuk pasangan yang baru saja menginjak puber?" Jawab Andika. Namun Salsa justru marah dengan jawaban Andika. "Oh berarti aku anak yang masih puber?" Tanya Salsa dengan nada ketus. Andika tersenyum mencoba untuk memberikan penjelasan. "Nggak gitu sa," Andika bingung mau menjelaskan kepada Salsa. "Udah kamu itu cocoknya sama Reisa, udah nggak usah dekati aku," ucap Salsa. Andika tak berani menjawab kata-kata Salsa. Karena Salsa bisa bertambah marah. "Mungkin dia masih cemburu aku kerja sama Reisa!" Gumam Andika dalam hati. "Kak aku mau tidur, kamu tau kan ini sudah malam," ucap Salsa. Salsa tak ingin dirinya bertambah marah dengan Andika. "Aku besok kerja pagi!" Tegas Salsa. "Setidaknya aku nggak bisa pulang sebelum kamu maafin aku!" Jelas Andika. Salsa tidak tahu apa yang membuat Andika sabar hari ini. "oke, aku maafin kamu." Salsa mencoba untuk memaafkan Andika, meskipun dirinya merasa sangat kesal, apalagi melihat sikapnya yang terlalu membuat Andika semakin bersabar. setiap ucapan Salsa yang ketus, Andika terus mendengarkan kata-kata yang Salsa ucapkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN