Andika berpamitan pulang, saat Salsa sudah masuk kedalam kamarnya.
"Reiner aku pulang dulu ya!" Izin Andika. Reiner yang masih duduk termenung segera beranjak menghampiri Andika.
"Sudah makanya!" Ucap Reiner.
"Sudah," Andika menjawab dengan nada yang tidak bersemangat.
"Sabar iya ka!" Ucap Reiner sembari menepuk pundak Andika.
"Aku nggak mau kamu terus menerus bertikai dengan Salsa, kamu lebih cocok dengan Reisa!" Reiner memberi saran pada sahabatnya.
" Kok gitu si! Ucap Andika pada sahabatnya.
"Salsa masih labil, sedangkan Reisa sudah dewasa ka?" Ucap Reiner menjelaskan pada sahabatnya.
"Tapi jujur aku nggak tertarik sama Reisa, kalau aku sudah tertarik sama Reisa, kenapa nggak dari dulu!" Jelas Andika. Reiner hanya bisa terdiam. Ia tak mengerti dengan hubungan sepupunya.
"Ayo lah dukung aku, kamu kan sahabatku," tegas Andika. Reiner tak ingin melihat Salsa mengecewakan Andika.
"Aku nggak mau kamu kecewa sama Salsa," ucap Reiner memberi tahu sahabatnya, apa yang sebenarnya ia rasakan.
"Kamu harus dukung aku Rei, ayo lah!" Ucap Andika meminta bantuan sahabatnya. Namun Reiner tersenyum mendengar ucapan dokter yang berada di depannya.
"Ayolah Andika, sama dokter Reisa saja, yang sangat cocok sama kamu!" Jelas Reiner. Andika kesal dan ia pulang.
"Oke kalau gitu aku pulang dulu," Andika berpamitan untuk pulang. Reiner mengantarkan sampai depan pintu.
"Besok jangan lupa, kalau banyak makanan bawa kesini iya!" Ledek Reiner pada sahabatnya. Andika tersenyum melihat tingkah sahabatnya.
"Oke boleh, besok aku kesini lagi!" Andika berjalan menuju kamarnya, Reiner pun masuk kedalam Apartemenya.
"Andika, Andika, dia kira menjalin hubungan itu mudah!" Reiner tak menyadari ada Salsa berdiri di depannya.
"Kak Reiner kenapa si, nawarin Andika datang ke Apartemen kita lagi!" Protes Salsa. Reiner tersenyum melihat adiknya berdiri dihadapannya.
"Heh bocah!
"Kok kamu tahu sa!" Reiner berasa bersalah kepada sepupunya.
"Iya tahu, kakak minta dia jatuhin aku, kenapa kakak nyuruh dia datang ke Apartemen kita!" Salsa pun masuk ke dalam kamarnya.
"Heh bocah ini, nggak tahu ada orang mau makan gratisan saja!" Reiner berharap bisa makan gratis dari Andika.
"Oh kakak mau makan gratis?" Teriak Salsa sembari keluar dari kamarnya.
Reiner terkejut saat mendengar ucapan Salsa.
"Iya nggak gitu sa, kamu salah dengar!" Ucap Reiner. Salsa justru bertambah marah.
"Kak malu dong, kalau mau makan gratisan,"sindir Salsa.
"Tu Usaha bokap nyokap apa kabar! Masih kurang uangnya! Anak tunggal berasa seperti anak orang nggak punya, aku malu sama kamu kak, uang banyak tapi pelit!" Teriak Salsa memarahi kakak sepupunya. Reiner tak bisa menjawab ia justru menggaruk kepalanya untuk menghilangkan rasa kesalnya.
"Iya maaf Sa, aku hanya bercanda!" Jawab Reiner.
"Bercanda! Kakak nggak tahu dia nyakitin aku, stop kak berteman dengan dia!" Jelas Salsa. Salsa sensi kepada kakaknya.
"Aku masuk kedalam dulu!" Pamit Reiner untuk menghindari kemarahan Adek sepupunya.
"Ah kenapa aku marah sama kak Reiner!" Salsa merasa bersalah kepada kakaknya.
Salsa pun kembali tidur diatas ranjang, ia mengambil ponselnya, ada pesan dari Zaki.
"Selamat malam calon istri!" Tulis Zaki dalam pesan. Salsa melihat jam menunjukkan pukul 08.00 wib.
"Ini anak kenapa? Kesambet!" Salsa pun membalas pesan Zaki.
"Zaki kamu salah kirim pesan!" Tulis Salsa untuk menjawab pesan Zaki. Zaki tersenyum sembari memberikan emoji berbentuk love dan di iringi tulisan.
Kau adalah wanita yang terindah, aku sangat berharap aku bisa menjadi bagian dari hidup mu
Salsa tersenyum membaca pesan Zaki ia pun menjawab gombalan yang di tulis Zaki.
"Aku bukan Asisten Rumah tangga yang bisa menyiapkan kebutuhan mu, tapi aku adalah dokter yang bisa menjadi obat yang bisa mengobati kesendirian mu!" Balas Salsa dalam sebuah pesan.
"Ah dia nulis begini, berasa seperti terbang aku bacanya!" Mama Zaki merasa heran melihat anaknya.
"Lo ada apa ini dengan anak mama, ada yang salah!" Ucap mama Zaki.
"Hehe mama, nggak apa-apa ma, Zaki cuma senang!" Zaki merasa malu Mamanya mengetahui apa yang terjadi pada dirinya.
"Oh lagi jatuh cinta iya!" Ucap mama Zaki. Zaki pun tersenyum mendengar ucapan Mamanya.
"Nggak kok ma," Zaki tak berani jujur pada mamanya.
"Ini anak mama malu ceritanya?" Ledek Mama.
"Nggak kok ma!" Jawab Zaki.
Andika sangat bingung dengan hubungan antara dirinya dengan Salsa, ia tak bisa mundur namun jika bertahan Salsa sudah tidak mau menjalani hubungan dengannya.
"Putus, lanjut, putus, lanjut," Andika menghitung kancing bajunya yang kebetulan berhenti di kata lanjut.
"Aku lanjut, tapi Salsa sudah berubah!" Andika memikirkan perasaan yang harus ia lakukan.
"Aku bingung, apa salahku, sampai dia rela berbagi hati dengan laki-laki lain!" Gumam Andika dalam hati. Ia pun tak ingin mengakhiri hubungannya Dengan Salsa.
"Oke aku akan bertahan sebulan ini, nanti kalau Salsa nggak bisa maafkan aku, dan ia tetap bersama yang lain, aku akan mencoba mengakhiri hubungan ku dengan Salsa!" Tegas Andika.
Andika mulai memantapkan hatinya untuk bisa bertahan dengan Salsa. Meskipun ia harus bersaing dengan laki-laki lain.
"Aku nggak rela Salsa bersama Bagas atau pun laki-laki lainya, aku harus bertahan!" Tegas Reiner dalam hati.
Cinta terkadang tak bisa dipaksakan, saat kita mengerti bahwa cinta kita bukan untuk orang yang kita cintai, akan terasa sulit jika bersama dengan yang lainya.
Andika tidak ingin Salsa jatuh pada laki-laki lainya, meskipun ia sulit untuk bisa mempertahankan hubungan antara dirinya dengan Salsa.
Andhika dan Salsa sangat tidak mungkin untuk bisa bersatu karena ada orang ketiga yang selalu menjadi debu dalam hubungan mereka.
Bagas pengusaha kaya raya, dan seorang CEO pemilik perusahaan ternama, menjadi salah satu orang yang bisa menggeser kedudukan Andika sebagai kekasih Salsa.
Bagas mulai bisa mendapatkan hati Salsa, karena perhatian yang tulus yang Bagas berikan membuat Salsa sangat nyaman.
"Andika maaf aku nggak bisa melanjutkan hubungan ini!" Ucap Salsa dalam pesan singkatnya.
"Apa! Pesan macam apa ini!" Andika tak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya sudah Putus dengan Salsa.
"Apa gara-gara orang itu!" Ucap Andika mengingat wajah Bagas. Ia pun meremas-remas tisu yang berada di depannya.
"Baru aku pikirkan kenapa Salsa mengakhiri hubungan ini!" Andika benar-benar tak mengira hubungannya akan putus dengan Salsa.
"Terus aku sama siapa?" Andika memikirkan pasangan yang akan bisa menemani dirinya.
"Sebentar lagi ada acara pernikahan sepupu di Jogja, nggak mungkin kalau aku nggak punya pasangan!" Pikiran Andika semakin kacau dan membuat dirinya semakin pusing menjalani cinta yang semakin rumit ini. Hubungan yang sangat ia harapkan justru membuat dirinya menjadi salah tingkah.