Di pagi hari yang cerah Andika segera menyiapkan perlengkapan nya untuk pergi ke rumah sakit, karena tidak ingin jika sampai dering atau lambat Andika terburu-buru untuk pergi ke rumah sakit.
"Aku harus segera pergi ke rumah sakit, ada pasien yang sangat membutuhkan bantuan ku." Andika segera memakai jas putih dan keluar dari apartemennya.
"Andika," panggil Rainer.
Tidak sengaja Reiner memanggil Andika, semenjak Salsa datang hubungan persahabatan Mereka terlihat sangat renggang, bahkan mereka bisa dibilang sangat jauh dan sudah tidak bisa seakrab dulu lagi.
"Kamu mau ke mana?" Andika bertanya kepada Rainer saat melihat dia tidak mengenakan pakaian yang rapi.
"Pagi ini aku akan bersantai di taman, kebetulan aku tidak masuk kerja pagi." Reiner tersenyum sambil berjalan bersama dengan Andika.
Reiner mengingat kejadian yang kemarin, mencoba memberanikan dirinya untuk bertanya kepada Andika.
"Andika Aku ingin bertanya kepadamu mengenai kejadian yang terjadi pada Bagas?"
Andika tersenyum saat sahabatnya bertanya mengenai Bagas, laki-laki yang selama ini sangat tidak disukai oleh Andika.
"Kamu pasti bertanya mengenai bibir yang berdarah?" Andika sudah mengetahui Apa tujuan Rainer untuk bertanya.
"Iya, Aku sangat ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi?"
Reiner terlihat sangat penasaran dengan sikap Bagas, Reiner sangat takut jika sampai Salsa hanya dibohongi oleh Bagas.
"Aku kemarin berkelahi dengannya, Aku merasa sangat kesal sampai membuat bibirnya terluka."
Andika mengakui semua perbuatan yang dilakukannya, karena tidak ingin menyembunyikan semua kesalahan yang dilakukan, Andika berkata jujur kepada sahabatnya.
"Kenapa kamu melakukan hal itu?" Reiner sangat terkejut ketika melihat sahabatnya berani melakukan hal tersebut.
"Karena aku sudah tidak bisa menahan kekesalan yang ada di dalam hatiku, Bagas selalu menggoda aku untuk marah, hingga akhirnya aku memukul pipinya."
Andika menceritakan semua yang terjadi, Reiner merasa sangat puas dengan jawaban sahabatnya. Selama ini sahabatnya tidak pernah bersikap kasar dengan orang lain, karena ada masalah dengan pria tersebut, Andika sampai bersikap kasar dengan orang lain.
"Sungguh Aku tidak percaya kamu bisa melakukan hal itu, baru pertama kalinya aku melihat kamu terlihat sangat marah."
Reiner masih tidak percaya dengan jawaban sahabatnya, melihat sikap Andika yang sangat sopan tentu tidak terasa tidak mungkin jika sampai berbuat kasar dengan orang lain.
"Kamu tidak tahu betapa kesalnya aku dengan Bagas, melihat setiap perbuatannya Aku terasa sangat ingin marah." Andika mulai menceritakan tulisan yang ada di dalam jiwanya, rasa cemburu yang begitu besar membuat Andika tidak bisa menahan emosi yang ada di dalam jiwanya.
"Apakah karena kamu cemburu melihat Salsha dekat dengan Bagas?" Reiner sengaja bertanya hal itu kepada Andika, karena ingin mengetahui lebih jelas Apa yang dirasakan oleh sahabatnya.
"Tentu saja aku sangat cemburu melihat kedekatan mereka, aku sangat benar-benar tidak percaya jika Salsa bisa menolak cintaku."
Andika merasa sangat sedih Ketika Harus mendapatkan penolakan dari Salsa, impiannya untuk bersanding dengan Salsa ternyata adalah sebuah mimpi yang harus diterima.
"Masih banyak wanita yang baik yang cocok denganmu, aku melihat Salsa masih selalu bersikap seperti anak kecil, tentu saja dirinya jauh tidak pantas jika harus menikah denganmu."
Reiner justru memberi saran kepada Andika untuk mencari wanita lain, meskipun Andika terlihat sangat kesal ketika mendengar jawaban dari sahabatnya, namun Andika mencoba untuk berpikir lebih jelas lagi.
"Sebenarnya yang kamu ucapkan benar, jika aku menikah dengan Salsa, aku kasih akan mengalami beberapa perdebatan yang terjadi di dalam pernikahanku." Andika sangat takut jika sampai dirinya menikah dan bisa membuat perdebatan yang terjadi semakin besar.
Cinta tidak bisa dipaksakan, jika sampai Andika memaksakan kehendaknya untuk bisa memiliki Salsa, tentu saja salsa tidak akan bisa menerima cinta Andika dengan sepenuhnya.
"Aku sangat mendukung semua keputusan yang ada di dalam jiwamu, berharap jika kamu bisa menemukan wanita yang sangat cocok untuk bisa menjadi pendamping hidupmu.'' Reiner selalu mendukung apa yang menjadi keputusan sahabatnya, tidak ingin jika melihat sahabatnya harus mengalami beberapa masalah yang terjadi.
"Aku yakin kamu pasti bisa mendapatkan kebahagiaan, selama ini aku melihat jika dirimu terlihat sangat baik, tentu saja akan banyak wanita yang sangat menginginkan dirimu menjadi kekasihnya.''
Reiner mencoba memberi semangat kepada sahabatnya, agar sahabatnya bisa menerima kenyataan yang ada.
"Satu hal yang perlu kamu ketahui, sungguh sangat sulit untuk bisa mendapatkan wanita yang cocok dengan hati kita, meskipun salsa selalu bersikap kasar kepadaku, entah mengapa hatiku selalu mengatakan cinta kepadanya." Ternyata Andika sangat sulit untuk melupakan Salsa, jika Salsa adalah wanita yang sangat spesial yang hadir di dalam hidupnya, tentu saja Andika tidak bisa melihat jika Salsa bersanding dengan orang lain.
"Aku tidak bisa melihatmu bersama dengan Salsa, sungguh aku tidak tega jika harus melihat sahabatku mendapat perlakuan yang tidak baik dari sepupuku." Reiner sebenarnya tidak ingin jika sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, sikap Salsa yang begitu egois tentu saja akan membuat semua pria merasa tidak nyaman saat mendapat perlakuan yang buruk dari nya.
"Cinta memang tidak melihat sesuatu yang baik, terkadang keburukan dari wanita yang kita cintai akan tertutupi oleh kebaikan yang dimilikinya." Andika ternyata benar-benar sudah mencintai Salsa, berbagai cara Reiner lakukan untuk menasehati Andika, namun Andika tidak bisa mendengar nasehat itu semua.
"Aku hanya takut jika kamu menyesal, ingat masa depan kita masih panjang."
Andika justru tertawa mendengar sahabatnya menasehati dirinya, menurut Andika Reiner terlalu bersikap berlebihan.
"Jika kamu terus berpikir seperti itu, Kamu tidak akan bisa mendapatkan kekasih yang setia, apalagi jika hubungan memiliki banyak masalah, tentu saja kita harus banyak bersabar agar pasangan kita tidak pergi meninggalkan kita.'' Andika mencoba menasehati Rainer agar dia bisa membukakan hatinya untuk wanita lain.
"Aku masih tidak ingin memiliki pasangan, seperti yang kamu ketahui Jika cinta itu sangat sulit, aku tidak bisa memaksakan diriku untuk mencintai wanita lain." Reiner masih mengingat mantan kekasihnya yang dulu pernah menjadi belahan dari jiwanya. Meskipun Wanita itu sudah tidak menghubunginya kembali, namun Reiner terlihat masih sangat dingin bisa memiliki wanita itu
"Sungguh Aku benar-benar Mencintainya, meskipun dia sudah menjauh dari kehidupanku, aku sangat yakin Di saat dia pulang ke Indonesia pasti dia akan menemui ku." Reiner tersenyum sambil menjawab pertanyaan dari sahabatnya.
"Jika dia pulang dengan membawa suami, Apakah kamu akan terus menunggunya sampai menjadi seorang janda?" Andika sengaja bertanya kepada sahabatnya mengenai hal itu, sejauh mana sahabatnya mencintai Wanita itu.
"Tentu saja aku akan menunggunya sampai menjadi janda, berharap jika suaminya akan segera pergi meninggalkannya." Reiner ternyata sangat menyayangi wanita yang sudah pergi meninggalkannya, meskipun dengan alasan kuliah tentu sangat tidak masuk akal jika sampai tidak mau menghubungi Reiner.
"Andika, sepertinya nasib asmara kita sangat buruk, aku harus mencintai wanita yang sangat jauh, sedangkan kamu harus mencintai wanita yang sama sekali tidak bisa menerima cintamu."
"Aku akan terus berusaha sampai bisa membuat Salsa menjadi pendamping hidupku, aku sangat yakin jika suatu saat Salsa akan bisa menjadi kekasihku." Andika terlihat sangat bahagia ketika mengatakan itu semua, bahkan dia sama sekali tidak merasa bersalah ketika harus mencintai seorang wanita yang sama sekali tidak Mencintainya.
"Aku heran melihat mu mengapa dirimu terus mencintai Salsa, bukankah Masih banyak wanita yang mengantri untuk menjadi pasanganmu?"
Andika justru berjalan pergi meninggalkan sahabatnya yang sedang berbicara, jika sampai dirinya merasa sangat kesal.
"Andika kenapa kamu tidak mau menjawab pertanyaanku? Bukankah itu pertanyaan sangat mudah yang harus kamu jawab?" Reiner mencoba bertanya kepada Andika dengan penuh rasa penasaran.
"Aku tidak mau menjawab pertanyaan yang sangat tidak bermutu, sungguh aku sangat tidak menyukai Jika kamu bertanya seperti itu."
Andika segera masuk ke dalam lift dan disusul oleh sahabatnya, Reiner terlihat sangat bahagia ketika melihat perjuangan dari Andika untuk bisa mendapatkan hati Salsha, meskipun terkadang mereka saling berdebat, tapi persahabatannya tidak akan pernah bisa menyebabkan mereka menjadi musuh.
"Kenapa kamu terus mengikuti langkahku, Aku akan segera pergi ke rumah sakit," ucap Andika sambil menatap wajah sahabatnya.
"Aku tidak mengikuti langkahmu, kebetulan karena aku ingin pergi ke tempat olah raga, jadi aku juga harus naik lift ini untuk bisa sampai ke bawah." Reiner tersenyum sambil menjawab pertanyaan dari sahabatnya. Tentu saja Andika merasa sangat malu ketika mendengar jawaban dari sahabatnya.
" Aku tidak menyangka Jika kamu menjawab pertanyaanku dengan tali dan sangat tidak enak," ucap Andika sambil menatap wajah Reiner.
"Aku sudah bilang kepadamu, Kamu jangan terlalu terbawa perasaan saat berbicara kepada orang lain."
"Aku sama sekali tidak terbawa perasaan saat mengucapkan hal itu kepadamu, sungguh aku benar-benar merasa kesal melihat sikapmu yang selama ini terus membuatku menjadi ingin memukulmu.'' karena kesal dengan sikap sahabatnya, Reiner sangat ingin memukul sahabatnya dengan tangannya.
"Jika kamu memukul dengan tanganmu, Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi."
Andika memang terlihat sangat keras kepala, namun terkadang sikapnya bisa mengundang tawa.
"Andika, ini sudah sangat siang sekali, sepertinya kamu sudah terlambat.'' Reiner memberitahu kepada Andika bahwasanya dirinya sudah telat untuk masuk ke rumah sakit, Andika segera melihat jam tangannya.
"Ini semua karena ulahmu, kamu membuatku merasa sangat kesal karena harus menanggapi semua ucapanmu," menatap sinis ke arah wajah sahabatnya.
"Kenapa kamu menyalahkanku? Bukankah ini semua kesalahanmu?"
Reiner tidak ingin jika sahabatnya mengangkat dirinya yang bersalah, mengingat mereka terlalu lama mengobrol sampai tidak ingat jika jam kerja sebentar lagi akan dimulai.
"Aku akan segera pergi ke rumah sakit, hati-hati di jalan, Jangan kau goda wanita yang sudah memiliki suami," ucap Andika sambil tersenyum meninggalkan sahabatnya.
Reiner merasa senang setelah beberapa hari tidak pernah mengobrol dengan Andika, hari ini dirinya bisa mengobrol dengan sangat luas, mengingat sikap sahabatnya yang begitu baik membuat Reiner tidak tega Ketika Harus menjauhkan sahabatnya dari sepupunya.