Sangat memalukan

1447 Kata
Andika merasa sangat kesal ketika melihat Lena bersikap seperti itu, Lena sama sekali tidak bisa menghargai sikap Andika. "Jika kamu hanya membuatku merasa kesal, Kamu tidak usah datang ke dalam kehidupanku, sungguh aku tidak mau membuang waktuku hanya untuk melihat wajahmu," ucap Andika dengan sangat kesal. Lena mulai terpancing emosi saat melihat Andika berkata seperti itu, kemarahan Andika dia sampaikan di tempat ramai, sungguh sangat memalukan. "Kenapa kamu tega mengatakan itu semua padaku, Apakah kamu tidak memiliki perasaan?" Lena bertanya kepada Andika. "Bukan aku yang tidak memiliki perasaan, tapi aku hanya tidak menyukai jika dirimu berkata seperti itu." Sungguh Andika memang tidak suka ketika melihat ada wanita yang mencoba bersikap kasar dengannya, berbagai cara Andika lakukan agar dirinya bisa mendapatkan cinta wanita yang sangat tulus. "Kamu tidak pernah mengerti perasaan seorang wanita, Jadi wajar saja kamu tidak bisa mendapatkan kekasih yang sangat, sikapmu yang begitu kasar tentu saja akan membuat wanita enggan menjadi kekasihmu." Lena mencoba mengatakan semua yang diketahuinya, karena tidak suka dengan sikap Andika yang begitu kasar dengannya, ini adalah awal perdebatan Lena dengan Andika. "Itu bukan urusanmu, aku tidak merasa bingung jika tidak ada wanita yang mencintaiku." Karena malu ada beberapa orang yang melihat perdebatan mereka, tentu saja Andika memutuskan untuk kembali ke dalam apartemennya. "Hari ini sungguh membuatku merasa sangat kesal, aku harus berhadapan dengan wanita seperti Lena, andai saja dia tidak mengganggu diriku tentu saja aku akan bisa sangat bahagia." Andika masuk ke dalam lift untuk segera sampai ke depan apartemennya, saat Andika turun dari lift dia bertemu dengan seorang laki-laki. "Bagas," ucap Andika saat bertatapan dengan bagas. "Kenapa kamu menatap wajahku dengan tatapan yang sangat kasar?" Sebagai sangat tidak menyukai jika Andika menatapnya dengan sangat serius, Andika sebenarnya sangat ingin marah ketika melihat Bagas bersikap seperti itu. "Tidak ada urusannya aku bersamamu, Aku sama sekali tidak ingin melihat ada pria pengecut sepertimu." Andika menganggap Bagas adalah seorang pengecut yang datang dalam kehidupannya, tentu saja karena rasa cemburu Andika mengatakan itu semua. "Kenapa kamu berani mengatakan aku sebagai pengecut, Aku sama sekali tidak melakukan hal itu." Bagas terlihat sangat kesal ketika dirinya mendapat julukan sebagai pria pengecut. "Coba mana bunga sintetis yang kamu belikan tadi? Apakah bunga itu diterima oleh Salsa?" Bagas tertawa saat melihat ekspresi wajah Andika, tentu saja Andika akan merasa sangat malu ketika mendengar ucapan Bagas. "Aku memang tidak membelikannya untuk Salsa, aku hanya ingin membawa saat berkunjung ke rumahnya." Andika tidak menyadari jika jawabannya mengundang Bagas untuk tertawa. Hahaha "Jadi kamu hanya bercanda, membawa bunga sintetis, Apakah kamu tidak malu jika berkunjung ke rumah seorang wanita membawa bunga tapi tidak diberikan oleh wanita itu?" Bagas mencoba menggoda kembali Andika agar Andika semakin merasa malu. "Itu bukan urusanmu, Kenapa kamu terus membuatku merasa kesal." Karena sangat malu Andika segera berjalan menuju ke dalam kamarnya. Bagas masih tertawa saat melihat sikap Andika, sikap Andika yang begitu polos membuat Bagas merasa sangat heran. "Dokter setampan Andika ternyata sikapnya begitu memalukan, aku tidak bisa membayangkan betapa malunya saat bertemu dengan Salsa," ucap Bagas sambil tertawa. Tentu saja Andika mendengar ucapan yang Bagas katakan. Andika berhenti sejenak sambil mendengarkan ucapan Bagas, Bagas sama sekali tidak mengetahui perasaan Andika. "Sungguh dia benar-benar membuatku merasa kesal, Aku sangat ingin menghampirinya dan memukul pipinya dengan sekuat tenaga." Andika sangat ingin datang menghampiri Bagas dan memukul pipi Bagas dengan sangat keras, berharap sikap agar bisa menyadari ucapannya itu salah. "Sepertinya aku akan memukulnya dengan sekuat tenaga, Aku tidak ingin mendengar dirinya terus menggodaku." Andika segera berbalik badan dan menghampiri Bagas. Tentu saja sebuah kepalan tangan sudah siap mendarat di pipi Bagas, saat itu juga Bagas menghentikan tawanya. "Maaf Andika, aku tidak sengaja tertawa." Bagas menganggap jika dirinya hanya bercanda, dia tidak menyadari jika Andika sudah mulai merasa kesal dengan sikapnya. "Ini satu pukulan pantas untuk mendarat di pipimu, sungguh aku merasa sangat kesal ketika melihatku bersikap seperti itu." Andika memukul Bagas dengan sangat keras sampai membuat bibir Bagas mengeluarkan darah. "Berani-beraninya kamu memukulku, Aku tidak akan diam saat kamu melakukan tindakan kekerasan ini," ucap Bagas sambil membalas pukulan kepada Andika. Namun karena Andika mengetahui Bagas akan memukulnya, Andika mencoba untuk menghindari dari pukulan Bagas. "Aku tidak akan berhenti untuk memukulmu, sungguh pukulanmu sangat membuatku merasa sangat kesal, kamu harus bertanggung jawab atas semua perlakuanmu kepada ku." Bagas tidak terima jika dirinya mendapat sebuah pukulan dari Andika. Karena Andika merasa sangat puas sudah membuat Bagas merasa marah, Andika segera berlari menuju kamarnya, tentu saja Andika segera masuk ke dalam pintu apartemennya. Bagas yang mengejar Andika merasa sangat kesal ketika pintu apartemen Andika sudah tertutup kembali. "Sialan kamu Andika, kamu sudah memukul pipiku, dan sekarang kamu masuk ke dalam kamar mu." Bagas terlihat sangat kesal ketika melihat hal itu terjadi kepadanya. Mengingat jika di hadapan kamar Andika adalah apartemen Salsa, Bagas segera membunyikan tombol pintu agar bisa segera keluar untuk menghampirinya. "Siapa yang membunyikan bel pintu, sungguh aku merasa sangat terganggu," ucap Salsha sambil bangun dari tidurnya. Salsa terlihat sangat kesal ketika dirinya diganggu oleh orang, waktu istirahat benar-benar terasa sangat membuat Salsa merasa kesal. "Jika sampai dia Andika, aku akan sangat memarahinya." Salsa sudah bersiap-siap akan memarahi Andika, mengingat sikap Andika selama ini yang membuatnya kesal tentu saja Salsa akan sangat mudah memarahi Andika. "Andika tolong kamu Jangan menggangguku," ucap Salsha dengan nada sangat marah. Namun Salsa terdiam saat melihat Bagas dengan pipi lebam dan bibir sedikit mengeluarkan darah. "Ada apa Bagas? Kenapa bibirmu ada darahnya?" Salsa sangat terkejut saat melihat Bagas dengan wajah lebam. "Tadi Andika sempat memukulku, wajahku terlihat sangat sakit saat mendapat pukulan dari Andika." Bagas sengaja memberi tahu Salsa agar Salsa bisa menjauhi Andika. "Sungguh memang Andika sangat menyebalkan, Kenapa harus memukul orang yang sama sekali tidak salah?" Salsa merasa karena kecemburuan Andika, Andika melakukan semua itu. "Aku berharap kamu tidak menerima cinta Andika, lihat dia ternyata bisa bersikap kasar kepadaku." Karena tidak ingin momen yang sangat penting ini berjalan dengan sia-sia, Bagas segera mencari cara untuk bisa membuat Salsa semakin membenci Andika. "Aku sudah sangat lelah melihat sikap Bagas, dia tidak ada bosan-bosannya melakukan hal itu kepadaku, Harus bagaimana aku bisa menolak cintanya." Salsa sangat membenci Andika, Apalagi setelah mendengar Bagas mengatakan itu semua, tentu kekesalan Salsa semakin membesar, orang yang selama ini dianggap orang baik ternyata senang membuat masalah. "Salsa Aku berharap kamu tidak membuka hatimu untuk pria yang tidak baik, jika sekarang Andika memukulku karena kesal denganmu, suatu saat dia akan memukulmu karena kesal denganmu." membuat Salsa semakin kesal dengan Andika, karena tidak suka dengan sikap Andika, Bagas tentu tidak akan membiarkan jika Salsha dekat dengan pria tersebut. Saat mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba Reiner datang, saat itu juga Salsa terlihat sangat panik ketika sepupunya masuk ke dalam apartemen. "Kak Reiner," ucap Salsha sambil memandangi wajah sepupunya. Reiner terlihat sangat marah ketika melihat Salsa bersama laki-laki di dalam apartemennya, Reiner berpikir buruk mengenai Salsa. "Kenapa kamu membawa laki-laki masuk ke dalam apartemen ini?" Reiner bertanya dengan suara sangat marah ketika melihat Salsha dekat dengan pria lain. "Aku hanya mengobati luka di pipi Bagas, kami tidak melakukan apapun di dalam kamar ini." Salsa mencoba menjelaskan kepada sepupunya, Namun karena sangat kesal melihat sikap Bagas, tentu saja Reiner sangat ingin melihat batas setelah pergi meninggalkan apartemennya. "Aku berharap kamu tidak bersikap manja, seharusnya kamu tidak masuk ke dalam apartemen ini." Reiner mencoba untuk mengusir Bagas, karena melihat sikap Bagas yang sudah tidak sopan. "Baiklah aku akan segera pergi dari tempat ini, aku sangat minta maaf jika aku mengganggu waktu istirahat mu." Bagas sangat merasa tidak nyaman ketika mendengar ucapan yang dikatakan oleh Reiner. Terlihat diwajah Bagas jika dirinya benar-benar tidak menyukai sikap sepupu Salsa. "Aku pulang dulu Sa, Aku tidak mau jika terjadi keributan di sini." Bagas segera keluar dari apartemen milik Salsa, terlihat sangat jelas jika wajahnya terlihat sangat malu. "Aku minta maaf iya," ucap Salsa merasa sangat tidak enak ketika melihat sepupunya yang bersikap sangat kasar. "Ini adalah perbuatan yang sangat memalukan, tidak seharusnya Kak Reiner mengatakan hal itu kepada Bagas, jika seperti ini tentu saja aku yang malu," ucap Salsa memarahi sepupunya. Reiner terlihat sangat kesal ketika mendengar Salsa marah dengannya, Reiner berusaha menahan emosi yang datang. "Aku harus bersabar, aku tidak mau jika sampai berbicara kasar dengan Salsa,'' gumam Reiner sambil menahan emosi yang ada dalam tubuhnya. Ini adalah pertama kalinya Reiner memarahi Salsa, karena sangat tidak suka dengan sikap Salsa yang sangat berlebihan. "Berulang kali Salsa melakukan kesalahan, tapi kali ini aku terlihat sangat marah dengannya." Reiner harus menahan semua kekesalan yang ada, melihat sikap Salsa Reiner mulai sedikit merasa kasihan. "Seharusnya aku tidak berkata kasar kepada Salsa, aku terlalu emosi sampai Salsa meneteskan air matanya," gumam Reiner merasa sangat bersalah. Mengingat jika Salsa adalah wanita baik-baik tentu saja tidak akan pernah melakukan hal yang sangat tidak terpuji.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN