Tertipu dengan rayuan

1114 Kata
Bagas dan Salsa tertawa saat melihat Andika kembali ke apartemennya, Mereka terlihat sangat bahagia ketika melihat Andika bersikap sangat lucu. "Mungkin Andika tidak biasa memberikan bunga kepada wanita yang dicintainya," ucap Bagas sambil tersenyum. "Aku sangat heran, cowok tampan Andika terlihat sangat polos saat berdekatan denganmu." Salsa sungguh merasa tidak nyaman ketika dekat dengan Andika, meskipun Andika terkenal sebagai dokter tampan, namun Salsa sama sekali tidak berharap menjadi pendamping hidupnya. "Aku dengar kedua orang tuamu sangat menginginkan kamu menikah dengan Andika?" Salsa sangat terkejut saat mendengar ucapan Bagas. "Apa? Dari mana kamu mendengarnya?" Salsa sangat terkejut dengan ucapan Bagas, selama ini Salsa terus menyembunyikan hubungan keluarganya. "Aku mengetahui dari Rainer, Dia berkata bahwasanya dirimu sebentar lagi akan menikah." Tentu Bagas tidak mau sampai itu terjadi. "Aku tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi, Sungguh Aku sama sekali tidak ingin menikah dengan Andika." Salsa merasa sangat malu ketika ada orang yang mengetahui Perjodohan tersebut. "Bagaimana jika kedua orang tuamu memaksa kamu menikah dengan Andika?" Bagas ingin memastikan keputusan yang diambil oleh Salsa. "Sampai saat ini aku tidak bisa menjawab keinginan mereka, aku terus berusaha untuk menghindari pertanyaan tersebut." Salsa tidak ingin jika harus menikah dengan Andika, pria yang sama sekali tidak bisa membuat Salsa merasa nyaman. "Aku sangat senang saat kamu tidak mau menikah dengan Andika, peluang untuk ku bisa mendapatkan hatimu." Bagas tersenyum sambil menatap wajah Salsa. "Sampai saat ini aku belum ingin menikah, selain karena usiaku masih sangat muda, aku juga masih ingin menikmati kehidupan ku." Salsa merasa jika dirinya menikah, tentu tidak akan bisa menikmati keindahan hidupnya. "Aku berharap kamu bisa menjadi belahan jiwaku, meskipun orang tuamu tidak menyetujui hubungan kita." Bagas sangat berharap jika bisa menikah dengan Salsa, memiliki hubungan yang sakral. "Bagas, Aku sebenarnya sangat merasa lelah," ucap Salsha mencoba untuk meminta Bagas segera pulang. "Baiklah aku mengetahui kelelahan mu, Aku akan segera pulang." Bagas Mencoba memahami kondisi Salsa, Salsa memang sangat lelah pekerjaannya benar-benar menyita waktunya. "Aku pulang dulu, besok aku akan datang untuk membawakan bunga sintetis." Bagas mencoba menggoda Salsa. "Jika kamu memberikan ku bunga sintetis, aku akan memberikan bunga itu untuk orang lain." Salsa sangat tidak menyukai tipe bunga sintetis. "1 bunga bisa dipakai bertahun-tahun, sedangkan Jika bunga asli hanya bertahan beberapa jam." Bagas tersenyum-senyum. "Aku tidak mau kamu bersikap seperti Andika, sikapnya benar-benar memalukan." Salsa merasa jika sikap Andika selama ini sangat membuat malu, membelikan bunga dengan tipe sintetis tentu membuat Salsa merasa tidak dihargai. Bagas keluar dari ruangan apartemen Salsa, saat itu juga Andika Masih berdiri dekat dengan pintu ruangan Salsa. "Kenapa kamu berdiri sini?" Bagas bertanya kepada Andika. "Aku hanya ingin mengambil sesuatu dekat sini." Andika mencoba untuk menyembunyikan sesuatu yang tidak boleh diketahui oleh Bagas. "Tenanglah Andika, kami tidak melakukan apa-apa," ucap Salsa sambil menatap wajah Andika. Andika terlihat sangat malu karena Salsa mendekati dirinya. "Aku sama sekali tidak menunggu kalian keluar, kalian salah memahami sikap ku." Andika tidak akan pernah mendengar ucapan Salsa, menurut Andika Salsa sudah bersikap sangat kasar kepadanya. "Aku sangat memahami sikap mu, aku tidak ingin jika melihatmu terus mengikuti semua yang aku lakukan." Salsa terlihat sangat marah melihat sikap Andika, meskipun mereka sudah sangat disetujui hubungannya namun Salsa belum bisa membukakan pintu hatinya. Bagas sudah meninggalkan mereka berdua, tentu saja Salsa akan sangat kesepian setelah Bagas pergi meninggalkannya. "Kamu pasti di rumah sendirian?" "Tidak, aku tidak merasa sendirian." Salsa menjawab pertanyaan Andika sambil meninggalkan Andika pergi masuk. "Kenapa dia terus bersikap seperti itu, aku heran saat melihat sikapnya yang begitu kasar." Bagas melihat sikap Salsa yang begitu kasar tentu membuatnya merasa sangat kesal. "Beberapa kali sudah aku lakukan untuk bisa mendapatkan hati Salsha, namun Sasa s**u bersikap seperti itu." Karena tidak ingin malu dengan sikap Salsa, Andika segera masuk ke dalam apartemennya. "Kenapa setiap kali aku dekat dengan Salsa, aku pasti merasa jika Salsa tidak menyukai diriku." Andika mulai menyadari juga hubungannya dengan Bagas akan terus berlanjut selama Salsa belum memiliki pasangan yang sah. "Aku tentu tidak akan membiarkan mereka semakin dekat, aku yakin suatu saat Salsha pasti akan menjadi kekasihku." Andika sama sekali tidak merasa ragu untuk bisa mendapatkan Hati Salsa. "Wanita secantik Salsa tentu akan membuatku semakin bahagia," ucap Andika dengan penuh rasa bersyukur. Andika segala berjalan meninggalkan apartemennya untuk menenangkan pikiran yang ada di dalam kepala. "Jika aku terus menerus berada di dalam rumah, tentu aku akan merasa sangat lelah." Andika tidak ingin jika kesalahan yang ada di dalam hatinya akan bertambah semakin besar. Andika baru saja turun dari apartemennya menuju ke sebuah parkir, saat itu juga Andika merasa sangat terkejut ketika melihat ada wanita cantik yang berdiri di dekat Andika. "Lena," ucap Andika sambil memandangi wajah Lena. "Sejak tadi aku menunggumu, aku tidak bisa menghubungi ponsel mu " Lena terlihat sangat kesal ketika harus menunggu terlalu lama. "Maafkan aku Lena, aku tidak bermaksud untuk membuatmu merasa kesal." Andika tidak ingin jika dirinya berdebat dengan wanita. "Ayo kita segera pergi, aku sudah sangat ingin bersenang-senang bersamamu." Lena menunggu kegiatan yang sangat membahagiakannya, berharap jika hubungannya dengan Andika akan membawakan hasil yang sangat indah. "Lena, sebenarnya aku sangat takut untuk pergi bersamamu." tidak ingin sampai pacar Lena datang untuk memarahi Andika, mengingat pacar Lenna yang tampan tentu saja banyak wanita yang mencintainya. "Ayolah Andika, aku sangat ingin bisa bersenang-senang dengan mu," ucap Lena sambil tersenyum. "Aku tidak mau pergi, aku sebenarnya ada perlu." Andika Mencoba mencari alasan agar dirinya tidak jadi pergi. "Andika, aku sudah bersiap-siap untuk pergi, kenapa kamu tidak bisa menepati janji mu." Lena terlihat sangat kesal ketika menatap wajah Andika. "Ya sudahlah, jika kamu tidak mau mengajakku pergi, aku akan segera pergi meninggalkan mu.'' Lena terlihat sangat kesal ketika mendengar Jawa Andika. "Kamu marah?" Andika bertanya kepada Andika sambil mengikuti berjalan. "Tentu saja aku sangat marah," ucap Lena sambil terus berjalan meninggalkan Andika, karena tidak ingin melihat Lena merasa kesal, Andika segera datang dan menatap wajahnya. "Sayang, jangan marah.'' Andika mencoba menggoda Lena. "Sayang?" Lena sangat terkejut ketika mendengar Brenda menyebutnya dengan panggilan sayang. "Sejak kapan kamu memanggil ku dengan panggilan sayang?" Terlihat sangat jelas jika Andika hanya berusaha membuat Lena merasa nyaman, Andika memang terlihat sangat pandai untuk menggoda Lena. "Jika kamu tahu, sebenarnya aku sangat marah." Lena Mencoba menahan kekesalannya, namun semua itu terasa sangat sedih. Lena tidak sengaja meneteskan air matanya, karena tidak bisa menahan kemarahannya. "Kenapa kamu menangis?" "Aku sangat kesal kepadamu, kamu tidak bisa memahami perasaan ku." Lena kesal dan ingin membuat dirinya bisa bahagia, air matanya menetes karena masalah yang datang. ''Ayolah, kamu jangan bersedih," ucap Andika. "Seharusnya kamu mengatakan semua itu sejak tadi, sekarang sudah sangat percuma.'' kekesalan Lena membuat dirinya menjadi semakin merasa sedih. Lena terlihat sangat marah dengan sikap Andika, meskipun mereka adalah sepasang sahabat, namun karena memiliki perasaan lebih, Lena memiliki sedikit rasa cemburu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN