Ancaman
Baru saja aku terlelap, tiba-tiba merasakan udara dingin menyergapku. Setelah bekerja keras mengeluarkan keringat semalaman bersama suamiku. Perlahan kami membuka mata dan saling memandang. Alvian terlihat memberikan isyarat dengan tangan agar aku tidak bangun dari tempat tidur. Maraup kembali bibirku seperti tidak ada rasa bosan.
Pintu tiba-tiba pintu diketuk berulangkali, Alvian mendesah, “Ckk … siapa, ganggu aja,” keluhnya melepasku.
Alvian melangkah menuju pintu dan membukanya, “Ada apa Bik?!”
Terdengar mereka berbincang yang kurang jelas di telingaku. Aku melihat Alvian panik saat Bibik menyebut nama majikan perempuannya. Dia berhambur keluar dari kamar diikuti oleh Bibik. Aku masih bengong di atas tempat tidur. Seketika aku menyesal tidak menjaga maduku dengan baik malah menghabiskan malam dengan dengan Alvian. Kami baru saja menikah atas permintaan Yeni. Semenjak Yeni istrinya sakit kanker 5 tahun lalu, pria berumur 42 tahun itu tidak pernah menyentuh wanita.
Berjalan tergesa menuju kamar mandi dengan menggunakan selimut karena pakaianku raib entah dibuang kemana tadi malam. Badanku terasa remuk redam setelah pertempuran sengit tanpa pedang antara aku dan Alvian. Beruntung usiaku sudah 21 tahun hingga tidak lagi tabu dengan masalah percintaan meski baru pertamakali aku melakukannya.
Keadaan di rumah sangat panik. Alvian mondar-mandir di kamar dengan memegang ponsel. Sesekali melirik ke arahku dan Bibik yang memandangi tubuh Yeni yang terbaring dengan selimut dalam diam. Kami berdiri di sisi tempat tidur sembari menunggu Alvian. Kaki hendak melangkah mendekat ke tempat Yeni terbaring tetapi dilarang oleh Alvian saat akan menyentuh Yeni.
“Riana, kamu jaga Yeni. Aku ke depan dulu!”
“Bagaimana keadaan Nyonya, Tuan?” tanyaku dengan cemas.
“Aku panggil dokter dulu untuk memastikannya. Jangan kemana-mana!” titah Alvian sembari menyugar rambutnya yang berantakan.
Aku melirik sembari menutup mulut, “Tuan, jangan lupa resletingnya ditutup rapat,” bisikku mengingatkan. Wajah Alvian merah menatap tajam ke arahku. Aku mengangguk memberinya isyarat supaya segera pergi.
Setetes air mata jatuh melihat tubuh yang terbujur di depanku. Selama 3 tahun aku merawatnya baru kali ini aku lalai. “Maafkan Riana, Nyonya,” ucapku lirih.
“Tadi malam Bibik menunggui Nyonya atas permintaan Tuan. Dan semalam Nyonya tertidur seperti biasa. Bibik tidak curiga namun anehnya ketika Nyonya dibangunkan tidak bergerak sama sekali.”
Aku menoleh mendengar cerita Bibik. “Jadi tadi malam bersama Bibik?” Bibik menjawab dengan anggukan.
Tidak lama kemudian dokter datang dengan tergesa dan memeriksa Yeni. Dengan harap cemas aku berdoa semoga ada keajaiban terhadap Yeni. Semua yang berada di dalam kamar tegang melihat dokter yang memeriksa nadi berulang kali. Kemudian berbalik melepas alat medisnya dan menatap Alvian.
“Katakan! Istriku tidak apa-apa, Dokter,” tanya Alvian dengan nada bergetar.
“Maaf, Tuan. Sekali lagi saya katakan jika istri Anda sudah tiada.”
Deg deg deg
Jantung rasanya ingin lepas dari sangkar saat mendengar berita duka. Meski semua sudah mengira pada akhirnya dengan penyakit yang diderita oleh Yeni tetap saja berita ini membuat kami terpukul. Terutama aku yang sekarang menjadi istri sah dari seorang Alvian.
“Ti-dak ti-tidak mungkin Yeni meninggalkan aku, tadi masih aku lihat denyut nadinya. jangan bicara sembarangan, Dokter!” teriak Alvian menggoncang bahu dokter.
“Ini kenyataan, nadinya sudah tidak berdetak saat saya memeriksanya.”
“Yeni - Yen, kenapa kamu pergi, setelah aku turuti maumu?” luruh Alvian terduduk di samping jenazah Yeni. Aku tergugu melihat kecintaan suamiku kepada istrinya. Terbersit rasa perih saat melihatnya tidak mengiginkan Yeni pergi.
Aku lihat air mata jatuh dari mata Alvian. Laki-laki yang lebih pantas aku panggil Om tersebut ternyata sangat mencintai istrinya bahkan segera bersimpuh dan memeluk tubuh istri pertamanya. Tetesan air mata yang deras mengalir dari kami bertiga. Aku dan Bibik berpelukan tidak kuasa melihat tubuh Yeni yang pucat pasi itu tersenyum diam sudah menjadi mayat.
“Tuan, sabar yak. Nyonya sudah tenang di sana ikhlaskan karena tidak merasakan kesakitan lagi.”
“Dia wanita yang kuat bahkan menyuruhku menikah.” Alvian menatap Yeni yang pucat, “maafkan aku yang tidak bisa membuat kamu bahagia, Yeni,” jawabnya sembari meraub wajah Yeni dengan tangan kanannya.
“Tuan saya ikut berduka cita atas meninggalnya Nyonya,” ucap Bibik.
“Terima kasih, Bik.”
“Tuan Alvian, saya juga turut berduka cita. Semoga Almarhum mendapat tempat terbaik di SisiNya. Saya permisi dulu,” ucap dokter pamit.
“Terima kasih banyak Dokter, maafkan segala kesalahan istri saya.”
“Sama-sama Tuan, permisi.”
Aku memberanikan diri memeluk Alvian untuk menenangkannya. Sejak tadi kulihat dia sangat sedih dan tidak bergerak dari tempatnya. Kubisikkan kalimat untuk segera mengurus jenazah Yeni agar Almarhum segera dikubur. Alvian tersadar dan segera menghubungi orang-orang terdekatnya, termasuk Weni, mama mertua yang tidak menyetujui pernikahan kami.
“Tuan, sebaiknya kita adakan kirim doa untuk arwah Nyonya. Kita undang tetangga terdekat saja,” tawarku.
“Kamu atur saja dengan Bibik,” jawab Alvian tanpa menoleh kepadaku.
Semua kerabat berdatangan dan sebagian menginap selama kami berkabung selama 7 hari termasuk mama mertuaku. Selama 7 hari Weni tidak pernah bersikap baik ketika kami sedang berdua. Tetapi sebaliknya jika ada Alvian sikapnya seperti sangat manis bahkan memuji setiap tindakanku.
Hari ini terakhir acara kirim doa. Weni mendekat dan berbisik, “Setelah ini aku mau bicara! Kutunggu di taman samping dan ingat, jangan coba ngadu kepada anakku, ngerti?!” ancamnya.
Aku hanya mengangguk tidak membantah ucapan Weni. Tetapi dalam hati aku berkata, “Aku tidak boleh lemah.”
Tiga tahun yang lalu, ketika aku datang ke rumah ini diterima dengan baik dengan semua anggota keluarga. Mereka sudah menganggap aku salah satu bagian dari keluarganya. Bahkan Bibik yang sudah aku anggap seperti ibuku sendiri.
“Riana, makan dulu,” ajak Bibik melihatku datang masih mengenakan seragam sekolah.
“Nanti saja, Bik. Aku mau melihat keadaan Nyonya dulu,” jawabku melangkah ke kamar Yeni. Dulu aku adalah perawat Yeni selama hampir 3 tahun. Waktu itu aku butuh biaya untuk membayar hutang ayahku kapada rentenir yang dipakai berobat oleh ayahku. Nasibku sebagai anak sulung dan menganggung beban keluarga semenjak ayah di PHK dari tempatnya bekerja saat pendemi melanda.
Tetapi semua berubah semenjak Yeni memutuskan untuk menjadikan aku madunya. Dia menikah dengan Alvian selama 15 tahun dan belum mempunyai anak. Sedangkan Alvian tidak ingin anak hasil adopsi. Alvian awalnya menolak permintaan konyol dari istrinya. Dia hanya mencintai Yeni, tidak ingin menikah lagi meskipun tidak mempunyai keturunan.
“Mas, aku minta tolong. Ini permintaan terakhirku,” kata Yeni di hadapan Riana dan Alvian waktu itu.
“Aku tidak bisa, Sayang. Kamu jangan ngaco!”
Yeni menangis, sementara tubuhku bergetar takut mendengarkan permintaan konyol yang tiba-tiba dari Yeni. Saat itu aku memang belum punya kekasih, tapi tidak ingin menikah dengan orang yang tidak aku cintai. Apalagi usiaku dengan Alvian sangat jauh. Dia lebih pantas menjadi ayah atau omku.