Pertengkaran

1051 Kata
Alvian akhirnya lilih aku menoleh dan terkejut ketika mereka memutuskan untuk melamarku. “Ma-maaf, ta-tapi saya tidak setuju dengan pernikahan ini. Kenapa Nyonya tidak tanya saya dulu, saya sedang marah Nyonya,” protesku dengan merengut. “Riana, tolong … tolong penuhi permintaanku terakhir kali. Hidupku tinggal menghitung hari. Aku tidak ingin suamiku yang baik ini mendapatkan wanita yang tidak aku kenal. Sudah cukup aku tidak bisa memberikannya kebahagiaan dengan memberinya anak,” kata Yeni memohon. “Tapi Nyonya, saya … saya tidak mencintai Tuan. Demikian juga sebaliknya,” jawabku bergeming keluar dari kamar dengan perasaan campur aduk. Hingga tiba di dapur hatiku masih bergemuruh. Bibik yang mengetahui kondisiku menghampiri. Dengan mengusap rambut Bibik mengangkat dahuku dengan tangannya. Bibik dengan lembut bertanya apa yang sedang terjadi. Akupun menceritakan permintaan dari Yeni. Bibik menghela napas berat dan memandangku. “Ri, kamu ingin menjadi orang yang menyesal seumur hidup. Ini permintaan orang yang sudah diambang kematian. Bibik pikir, tidak ada yang buruk dari Tuan Alvian. Bahkan sangat sempurna untuk seorang suami meski usianya jauh di atas kamu. Beliau sangat setia dan tidak pernah berbuat buruk selama ini.” “Apa Bibik juga membela mereka? Aku bukan barang yang tidak punya hati” Kembali Bibik mengusap rambutku. Dengan lembut Bibik bercerita selama mengikuti keluarga Alvian semenjak mereka menikah. Tidak pernah melihat ada pertengkaran meski Yeni mengalami sakit selama bertahun-tahun tetapi Alvian tetap setia dan tidak pernah mendengar perempuan lain selain istrinya. Bibik pernah mendengar curhatan Yeni dengan kondisinya yang semakin buruk meski sudah menjalani berbagai pengobatan. Dia sangat mencintai suaminya semenjak di bangku SMA. Tidak ingin jika dia meninggal Alvian tidak mendapatkan pendamping untuk melanjutkan hidupnya. Yeni sangat tahu sifat Alvian yang setia hanya dengan satu wanita. “Kamu pertimbangkan dulu, kasihan Nyonya. Bibik harap kamu bisa terima sebagai bentuk balas budi. Jika suatu hari nanti kalian tidak cocok, bisa pisah.” “Astaga, Riana hanya menikah sekali Bik. Tidak mau berkali-kali,” ucapku kesal. “Kalau begitu pertimbangkan saja. Tidak ada yang buruk dengan Tuan Alvian. Malah kamu mestinya bersyukur sudah dipilih menjadi pendampingnya,” sahut Bibik. “Kalau kamu keberatan tidak usah,” kata Alvian tegas. Kami terkejut mendengar suara Alvian yang tiba-tiba muncul di dapur. Rasa malu dan campur aduk saat itu di dalam hatiku. Mengingat kebaikan mereka selama ini yang sudah menganggapku seperti keluarga. Kulirik Alvian yang selama ini terkesan dingin selama aku menjadi perawat istrinya. Dia jarang memerintahku apalagi berbincang jika tidak atas permintaan istrinya. Dia menyakinkan aku jika hanya menuruti kehendak istri yang sangat dicintai. Jika setelah menikah aku tidak cocok maka dia akan melepasku dengan senang hati. Akhirnya aku menurut, dan terjadilah pernikahan kami yang dihadiri oleh keluarga saja karena kondisi Yeni semakin buruk. Semua keluarga Alvian menyetujui tetapi tidak dengan Weni, mamanya Alvian. Dia menganggapku sebagai orang yang sudah merebut perhatian Yeni. Selama ini nasihat Weni yang didengar tetapi semenjak hadirnya aku di dalam keluarga nasihat Weni sering diabaikan oleh Yeni. Aku sendiri tidak tahu, mengapa Yeni sering mengabaikan Weni. Dan selama menjadi perawatnya tidak pernah menanyakan akan hal itu kepada Yeni karena kuanggap sebagai privasi. ** Saat ini Weni yang masih bersamaku dan terkejut melihat kedatangan Alvian yang tiba-tiba. Alvian menatapku tajam, aku menunduk menyibukkan diri dengan membersihkan piring kotor yang ada di meja makan. “Ada apa, Ma?” “Hmm … ti-dak , tidak ada apa-apa, iya kan, Ri?” ucap Mama dengan menginjak kakiku membuatku terjingkat. “Iya, tidak ada apa-apa, Tuan. Tadi Nyonya Besar sedang mengenang memori Nyonya Yeni,” kataku bohong. Alvian menatap tajam ke arah kami bergantian, kemudian menatapku. “Jangan panggil aku Tuan, ingat itu!” ucapnya kemudian bebalik dan pergi dari hadapan kami. Aku terkejut mendengarnya. Kesambet apa Alvian sampai tidak mau aku panggil Tuan. Lantas aku harus panggil apa padanya, dia layak menjadi ayahku. Weni kemudian menarik napas dan menarik tanganku. Dia mengancamku jika sampai Alvian tahu rencananya yang membuat janji di taman. Terlihat dengan jelas dari tatapan sinis dan mengejek dari Weni. Meski aku ingin melawan tetapi hatiku masih bisa diajak kompromi. Setelah kepergian Weni dari hadapanku dengan samar aku mendengar obrolan dari balik dinding yang membuat telingaku panas. “Riana adalah pelakor. Dia mengasut Yeni supaya menikahkannya dengan Alvian. Sungguh licik wanita itu.” Pukul 9 malam, aku menyetujui untuk datang ke taman samping rumah. Meski telinga masih panas dengan obrolan sebagian keluarga yang ada ruang tengah. Aku tidak perduli setelah ini aku pun bisa pergi dan minta bercerai dari suamiku, Alvian. Tugasku sebagai balas budi sudah selesai dan ingin menyehatkan telinga dengan menghilangkan tuduhan mereka yang tidak mendasar. “Sepi, kemana Nyonya Weni?”gumamku lirih. Tetapi aku dikejutkan oleh kedatangan beberapa orang keluarga Alvian diantaranya adalah Weni. “Punya nyali juga kamu rupanya,” ucap salah satu keluarga yang aku lupa namanya. “Saya ada janji dengan Nyonya Weni,” jawabku setelah menarik napas panjang agar bisa tenang. “Langsung saja, Ri. Aku membawamu ke sini untuk sebuah kesepakatan. Bukankah kamu menikah dengan Alvian karena berhasil menghasut Yeni? Sungguh licik kamu, demi harta yang Yeni miliki kamu bisa meyakinkannya supaya menjadikan kamu Nyonya di rumah ini, jangan mimpi!” “Maaf, Nyonya. Sejak awal saya menikah dengan Tuan Alvian karena terpaksa ….” “Halah, alasan saja kamu. Sekarang tulis berapa uang yang kamu inginkan supaya kamu pergi dari kehidupan anakku. Jangan harap kamu jadi Nyonya besar di rumah ini. Aku sudah punya calon yang lebih baik dari kamu,” ancam Weni sembari menunjuk ke wajahku. Hatiku sangat panas mendengar tuduhan Weni. Namun aku berusaha untuk menjaga mulutku agar tidak mengeluarkan kata-kata kotor kepada wanita yang lebih tua. Apalagi dia dengan terang-terangan menunjukkan sikap bermusuhan dengan tidak menerimaku sebagai menantunya. Kupikir buat apalagi aku bertahan jika tidak ada restu dari orang tua Alvian. “Baiklah Nyonya Weni yang terhormat. Saya tidak butuh uang Anda. Tetapi saya menikah dengan baik-baik maka kembalikan saya dengan baik-baik kepada orang tua saya. Saya juga tidak mencintai Tuan Alvian, saya sudah punya calon sendiri,” sahutku berbohong. Sakit sekali saat dibuang oleh orang yang tidak menginginkan kehadiran kita. “Jadi kamu sudah punya calon suami, Riana?” Kami semua menoleh ke arah suara yang sudah familiar di telingaku. Alvian berdiri dan menatap tajam ke arahku. Aku bingung seperti orang bodoh, niatku hanya ingin membalas ucapan Weni tetapi malah berbalik. Kemudian aku mendekati suamiku yang sudah 10 hari menikahiku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN