Fitnah Keji

1057 Kata
“Bu-bukan seperti yang Tuan lihat,” ucapku menyangkalnya. “Lantas, apa telingaku yang sudah tidak berfungsi?” Alvian menatap tajam. “Kalau kamu memang ingin lepas dariku, baiklah. Aku akan kabulkan pemintaanmu. Semua bukan mauku, kamu yang minta. Jangan khawatir aku akan memberikan kompensasi kepadamu,” ucap Alvian lantas pergi dari hadapan kami. Wajah-wajah yang sekarang di hadapanku tertawa mengejek dengan kemenangan. Ingin rasanya kubungkam bibir mereka yang mengolokku. Weni berjalan mendekat dan mencengkram daguku dan meremasnya. Meski hanya merasakan sedikit sakit tetapi ucapan yang keluar dari bibirnya membuatku ingin segera meninggalkan rumah ini. “Kamu tidak pantas tinggal di sini. Kamu hanya perawat, tugasmu sudah selesai ketika majikan yang kamu rawat sudah tidak ada di dunia ini. Kalau sampai kamu dinikahi Alvian itu adalah sebagian dari tugas kamu. Jangan kamu pikir Alvian akan main hati setelah menikahimu. Kamu hanya seorang pelayan yang merawat menantuku yang kaya. Dan ingat, menantuku berasal dari keluarga kaya dan terpandang, bukan rakyat jelata sepertimu, ngerti!” Aku hanya melihat wajah-wajah dengan penuh kemenangan pergi dari hadapanku. Meski kesal tidak bisa membalas tapi aku tidak ingin pergi dengan kesan buruk di hadapan Alvian. Bergegas aku menemui Alvian yang kupikir sedang berada di ruang kerjanya. Meski ada rasa takut aku mencoba mengetuk pintu. Capek juga mengetuk pintu kayu yang besar, kenapa tidak otomatis pakai remot seperti di film-film. Kemana perginya Alvian jangan-jangan ketiduran di dalam atau pergi dari rumah. Bibik yang melihatku berdiri lama di depan ruang kerja menyapaku. “Nona Riana mencari Tuan.” Aku mengangguk “Tadi saya lihat keluar dengan temannya. Saya dengar mengurus perceraian.” “Apa?” ucapku terkejut, “Hemm, ya sudah, Bik. Makasih.” Bergegas aku masuk ke kamar mencari ponsel dan mencoba menghubungi Alvian. Aku hanya ingin menjelaskan agar tidak ada kesalah pahaman. Bukan dengan fitnah yang sekarang dilakukan oleh Weni. Mereka akan semena-mena menfitnahku jika keluar dengan cara seperti ini. Lama tidak tersambung hingga aku lemas dan tertidur di kasur. ** “Bangun, dan kemasi semua barangmu! Sekarang juga, kamu aku pulangkan ke rumah orang tuamu.” “Tuan, saya ingin bicara sebentar.” Mata alvian terlihat merah dan bau alkokol menyengat di hidungku. Apakah dia mabuk-mabukan di luar sana sejak tadi. Menurut cerita Bibik, Alvian tidak pernah melakukan hal itu selama menjalin rumah tangga dengan Yeni. Tetapi pemandangan di depan mataku membuatku merasa dikhianati. Dia hanya tampak baik di depan Yeni, tetapi di belakang ternyata sama saja dengan laki-laki lainnya. Kesetiaannya juga perlu diragukan. “Tuan, mabok?” tanyaku memberanikan diri. “Apa pedulimu, silakan kalau mau bicara sebelum kesabaranku habis,” geramnya dengan mata nanar menatap sekujur tubuhku. “Kita bicara setelah Tuan sadar. Kondisi kepala dingin biar tidak terjadi salah paham,” pintaku. “Aku masih waras, cepat katakan! Kamu minta kompensasi berapa selama menjadi istriku. Aku tidak sekejam laki-laki lain yang habis manis sepah dibuang. 1 miliar cukup kuberikan padamu yang sudah melayaniku selama menjadi istriku 10 hari ini. Hari ini juga aku menalakmu, Riana. Kamu sudah bukan lagi istriku,” kata Alvian dengan keras kemudian tidak sadarkan diri ambruk di sofa. Jantungku seakan berhenti berdetak. Mendengar kalimat keramat yang diucapkan oleh suamiku, Alvian Pratama. Statusku sudah menjadi janda di hari ke-10 pernikahanku. Setelah menelan egoku kuat-kuat untuk menerima pernikahan ini sekarang dihempaskan begitu saja. Aku dibuang seperti barang yang tidak pernah berharga. Menyeret koperku ke luar kamar, itulah jalan satu-satunya untuk pilihanku saat ini. Alvian sudah menalakku, meski aku belum memberikan penjelasan. Ada rasa lega ada juga sesal sudah mengenal keluarga Yeni. Andai saja aku tidak memilih untuk menjadi istri Alvian mungkin nasibku tidak seburuk ini. Kulihat sekali lagi sosok yang terbaring tak beraturan di sofa kamar dengan rasa sesal. Mengusap air mata agar tidak jatuh dan terlihat lemah. Kututup pintu kamar dan menuruni anak tangga sembari menyeret 2 koper besar. Aku memilih segera pergi tanpa menunggu Alvian bangun. Percuma jika aku memberikan penjelasan karena Alvian sudah memberikan talaknya kepadaku. “Nona mau kemana?” Suara Bibik menghentikan langkahku. “Aku harus pulang, Bik. Tuan Alvian sudah manalakku. Jaga baik-baik majikan Bibik.” Bibik melongo dengan menutup bibirnya yang tak bergincu. Dia mencoba menarik lenganku tetapi aku memaksa dengan halus supaya melepaskannya. Dengan berbagai alasan aku meyakinkan Bibik jika aku baik-baik saja. Tetapi Bibik terlihat tidak percaya. “Sebaiknya Non Riana menunggu Tuan bangun. Jangan buru-buru pulang,” cegah Bibik. Aku tersenyum, “Tidak perlu, Bik. Karena statusku sekarang sudah beda. Aku pergi dulu.” Terlihat di mata Bibik ada bayangan yang mengembun. Aku sadar jika kami punya rasa saling menyayangi sejak 3 tahun berada di rumah ini. Kulihat Bibik menyeka mata dan memelukku. Memberikan pesan selayaknya seorang ibu kepada anaknya. Melangkah keluar rumah terasa kakiku melayang di udara. Selama 3 tahun kuhabiskan masa kerjaku di sini. Sepulang sekolah dengan masih memakai seragam berlarian ingin segera menemui Yeni yang selalu menyambutku dengan hangat dengan senyumnya. Jika tidak mengingat kebaikan wanita itu mungkin hatiku sudah dipenuhi amarah. Yeni wanita baik yang sudah pernah menolongku ketika aku dalam kesulitan. “Jalan, Pak!”perintahku kepada sopir mobil online yang kupesan. Aku sudah tidak ingin menoleh ke belakang. Saat ini hanya menyusun kalimat untuk kusampaikan kepada kedua orang tuaku. Belum lagi aku harus memikirkan untuk mencari pekerjaan baru, untuk menghidupi semua anggota keluarga. Selama dalam perjalanan tidak ada satupun notifikasi yang masuk. Itu artinya Alvian sudah melepaskan aku dengan sebenarnya. Kulirik saldo rekening di M-Banking masih ada 10 juta. Lega, aku masih bisa bertahan hidup dengan keluargaku untuk beberapa bulan ke depan. Sengaja aku tidak memberitahukan kepada keluargaku tentang kedatanganku lewat telpon. “Riana, ka-kamu.” Ibu celingukan melihat arah belakangku. “Riana pulang, boleh kan, Buk?” Ibu terlihat mengangguk dengan ragu. Membimbingku masuk dan memanggil kedua adik-adikku untuk membawakan koper ke kamar. Sementara aku duduk di ruang tamu seperti orang disidang. Tidak ada kata keluar dari bibir orang yang sudah melahirkan dan membesarkanku selama ini. Aku menangis tergugu dan memeluknya. Menumpahkan semua yang menyesakkan d**a selama dalam perjalanan. Ibuku yang usianya hampir setengah abad selisih beberapa tahun dengan Alvian memelukku dengan lembut. Menyuruhkan menangis hingga puas. “Menangislah sepuasmu. Baru kalau sudah lega bicara sama Ibu.” Kedua adikku yang masih duduk di bangku sekolah melipir pergi setelah melihatku menangis di pangkuan ibu. Mereka keluar membeli beberapa makanan untuk makan bersama. Dua adikku laki-laki keduanya masih di klas IX dan XII. Mereka masih membutuhkan biaya sekolah yang sangat banyak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN