Tidak berapa lama terdengar suara deru motor masuk ke pekarangan rumah. Suara motor yang familiar milik Ayah yang baru pulang dari masjid. Ayah mengerutkan kening melihatku duduk sembari memeluk ibu. Terlihat isyarat dari ibu agar membiarkan aku dulu dan menyuruhnya masuk ke rumah.
Perasaanku semakin tidak enak ketika melihat ibu berkeringat dengan napas sesak.
“Bu … Ibu … Ibu sakit?” tanyaku setengah berteriak.
Dengan isyarat tangan ibu menyuruhku membawanya masuk ke kamar. Ayah yang melihat keadaan ibu menatapku dengan tajam, aku menunduk. Tanpa bicara Ayah membaringkan Ibu di ranjang dan menyuruhku keluar.
Sesak rasanya melihat kondisi ibu saat ini. Penyakit asma yang selama ini menggerogoti tubuhnya tidak kunjung sembuh. Aku tidak mungkin menambah beban pikiran kedua orang tuaku.
Baru merebahkan diri di kamar terdengar notifikasi dari M-Banking. Mataku terbelalak melihat saldo 1 milyar masuk ke rekening. Antara senang dan sedih tidak mampu aku jabarkan.
“Sebaiknya biar uang ini untuk modal kedua orang tuaku. Aku akan cari pekerjaan di kota,” gumamku sembari mentransfer 100 juta ke rekening adikku.
“Kak, kamu kirim uang banyak sekali,” pesan dari adikku.
“Buat biaya sekolah. Kakak belum mendapatkan kerja, buat hemat sama adik, yak” balasku.
Kemudian aku berniat membawa Ibuku untuk periksa, tetapi Ayah bersikeras menolak tanpa memberitahu alasannya. Hatiku sangat sedih, semenjak aku menikah dengan Alvian sikap Ayah berubah terhadapku. Jika aku memberitahu sudah diceraikan Alvian pasti ayah bertambah marah denganku.
“Kamu pasti sudah diusir oleh keluarga Alvian. Sudah kuduga, mereka hanya memanfaatkan kamu saja. Kembalikan uang dari mereka. Ayah masih bisa memberi makan kalian,” titah Ayah.
Aku terkejut, “Tapi kenapa, Yah?”
Ayah tidak menjawab melainkan menuju pintu ruang tamu setelah mendengar deru mobil datang di pelataran rumah. Rahangnya terlihat mengeras menatap keluar.
Ayah menatap tajam keluar rumah. Aku mengikutinya dari belakang dengan penasaran. Nampak Weni dan beberapa laki-laki di belakangnya turun dan berjalan dengan angkuhnya menuju ke rumah. Senyum mengejek nampak dari wanita yang usianya lebih tua dari ibuku tersebut.
“Apa kabar, Sandiaza?”
Sapaan yang kurasa lebih tepatnya ejekan yang ditujukan kepada Ayahku. Aku mengernyit melihat interaksi kedua orang yang terlihat bermusuhan. Ayah tidak biasanya bersikap tidak sopan apalagi tahu jika Weni adalah ibu mertuaku, tepatnya mantan mertua.
Para tamu duduk tanpa dipersilakan oleh pemilik rumah. Weni dengan angkuh melihat interior yang berada di sekitarnya. Sedangkan orang-orang yang mengikutinya turut mengawasi pergerakan kami, seolah ada kami seorang penjahat.
“Berikan ponsel kamu!” perintahnya.
Tentu aku terkejut, “Buat apa, Nyonya. Bukannya saya sudah keluar dari rumah itu. Apalagi yang Nyonya inginkan?”
“Kamu baru dapat kiriman uang dari Alvian, kan. Kamu tidak layak menerima uang itu.” Weni mengeluarkan amplop coklat, “Ini sudah cukup untukmu.”
Tiba-tiba Ayah maju dan melempar uang itu ke muka Weni, “Sudah cukup kamu hina kami. Meski kami miskin, kami tidak akan meminta belas kasihmu. Jika bukan karena permintaan Riana, aku tidak sudi menikahkan anakku dengan anakmu.
“Huh, sombong sekali kamu Sandiaza. Masih baik aku mau memberi kalian kompensasi. Tetapi jika tidak mau, baiklah.” Weni menoleh ke arahku. “Berikan ponselmu!”
Aku masih bingung menatap ke arah Ayah. Dengan isyarat anggukan, ayah memerintahkan menyerahkan apa yang Weni minta, tapi belum aku tetap bergeming. Bagaimana nasib keluargaku jika uang dari Alvian diminta lagi.
“Ini hakku, Nyonya tidak berhak merebutnya,” ucapku tetap kekeh mempertahankan hak milikku.
Ayah mendekatiku raut wajah tidak suka saat aku mengatakan hal itu kepada Weni. Tangan lelaki yang sudah puluhan tahun membesarkanku tersebut terulur mengambil ponsel yang ada di tanganku. Aku hanya bisa menatap wajah ayah dengan gurat kecewa dengan menggelengkan kepala. Apa yang sebenarnya terjadi antara mereka, Weni dan Ayah.
“Riana, kamu dengar Ayah. Kita tidak akan mati kelaparan meski tanpa uang dari Alvian. Jangan kau rendahkan harga dirimu hanya karena uang,” kata Ayah dengan tegas.
‘T-tapi, Yah. Ini sudah kesepakatan dengan Tuan Alvian.”
“Berikan, supaya wanita ini tidak terus menghina kita.”
Melihat raut wajah ayah yang merah padam, dengan terpaksa aku memberikan ponsel serta pasword-nya. Sesak melihat wajah Weni tertawa penuh kemenangan. Aku tidak tahu apa yang sudah dia perbuat hingga ayah sangat marah melihat kehadiran Weni ketika tiba di rumah ini. Merekapun pergi dengan membawa uangnya dan menyuruhku mentransfer semua saldo yang tertera di M-Banking. Gila, uangku terkuras habis. Untung aku sempat mengirim kepada adikku sebelumnya.
Sepeninggal mantan mertuaku aku terduduk lemas. Berpikir untuk melakukan sesuatu untuk kehidupan kami selanjutnya. Selama ini kami hidup dengan mengandalkan gajiku sebagai perawat Yeni. Aku sering mendapatkan tips dari maduku tersebut tanpa sepengetahuan keluarganya. Sering aku berpikir jika uang Yeni tidak habis dimakan tujuh turunan. Dia bukan wanita pelit, sering memberikan tips pula kepada pelayan yang lain. Tetapi mengapa Weni tidak suka dengan sikap Yeni?
Ayah menghampiriku dan memberikan peringatan agar aku tidak berhubungan lagi dengan keluarga mantan suamiku. Aku mengangguk, mengambil kembali hati ayah yang sempat menjauh setelah pernikahanku dengan Alvian. Aku tidak berani menyakan alasan ayah karena aku tahu sifat ayah. Terlihat raut kecewa di wajah ayah kepadaku.
“Maafkan Riana, Ayah. Sudah bikin Ayah kecewa, Riana janji akan segera mencari pekerjaan baru,” ujarku meyakinkan.
Tidak ada reaksi dari ayah, dia melangkah masuk ke kamar. Terdengar bunyi pintu dikunci, aku terhenyak. Menyadari jika ibu di dalam masih sesak napas, tetapi mengapa ayah bersikeras tidak mau aku membawanya berobat. Sedalam itukah rasa kecewanya kepadaku, hingga urusan ibu aku tidak boleh mengetahuinya.
Dengan pikiran kacau aku melangkah masuk ke kamar menunggu kedatangan adikku yang belum pulang dari membeli makanan. Ponselku berbunyi, notifikasi dari nomer tak dikenal memberitahu jika proses perceraianku sedang diurus oleh Alvian. Secepatnya akan diantar ke rumah.
“Kenapa bukan Tuan Alvian sendiri yang bilang. Benar-benar seperti orang dicampakkan,” gumamku.
Kupencet nomer mantan suamiku terdengar sangat berisik suara musik yang keras terdengar. Dimana sesungguhnya Alvian saat ini, lama tidak ada sautan hingga suara-suara aneh merusak pendengaranku. Aku yakin sekarang Alvian berada di sebuah tempat hiburan. Ternyata apa yang dikatakan Bibik tentang sosoknya yang alim dan setia tidak terbukti. Beruntung aku lepas darinya sebelum dikaruniai seorang anak. Nasibku sekarang menjadi janda muda, siapa yang mau denganku nanti.
Tiba-tiba ponselku berbunyi setelah aku mengakhiri panggilan kepada Alvian. Dia telpon balik masih punya hati juga ternyata.
“Hallo, Riana. Sekarang Alvian sedang happy fun denganku. Kamu sudah mantan, jangan ganggu dia lagi,” ucap seorang perempuan di sebrang.