“Kamu siapa, aku hanya ingin bicara dengan orang yang punya ponsel ini,” sahutku.
Terdengar tawa keras dari sebrang, “Kenalin, gue calon istrinya. Sekali lagi gue calon istrinya Alvian.”
“Kak … Kak Riana, buka pintunya!” teriak adikku sangat keras.
Dengan cepat kubuka pintu yang terbuat dari papan triplek tersebut. Kulihat wajah ketakutan dari adikku Faris yang berdiri sembari mengulurkan ponselnya. Dari tatapannya aku bisa pastikan sesuatu sudah terjadi dengan adikku.
“Apa yang terjadi?”
“Mertua Kakak sudah merampas ponselku dan memintaku mentranfer uang yang ada di rekening,” kata Faris dengan tubuh gemetar.
“Apa? Gila, tuh orang. Trus gimana?” tanyaku penasaran.
Sekarang aku yang kalut jika uang yang ada di rekening adikku habis bagaimana kami melanjutkan hidup nantinya. Mantan mertua kejam, tidak berperasaan sama sekali. Aku panik dan menyuruh adikku untuk minum terlebih dahulu. Kulihat wajahnya pucat dan gemetar. Kutenangkan diri Faris di ruang tamu sedangkan pikiranku sekarang blank tidak tahu hendak melakukan apa selanjutnya.
Setelah tenang kemudian Faris bercerita jika bertemu dengan Weni saat keluar dari warung yang berada di ujung jalan. Waktu itu jalanan sepi sehingga Faris tidak bisa meminta pertolongan kepada siapapun ketika anak buah Weni memaksanya mentransfer semua uangnya.
“Kakak minta maaf, sudah membuatmu ketakutan.”
“Sebenarnya apa yang sedang terjadi, Kak. Mengapa uang yang Kak Riana kirim diambil lagi sama mertua kakak?” tanya Faris lirih sembari menoleh ke sekeliling.
“Mantan mertua, Dek. Kakak sudah diusir dari uang Tuan Alvian, sekarang kakak belum punya kerjaan lagi,” sahutku.
“Ya Tuhan,” ucap Faris geram.
Kemudian aku bercerita kepada Faris tentang keadaanku sekarang. Aku memintanya agar tidak memberitahukan dulu kepada ibu mengingat kondisi kesehatan ibu sekarang. Aku akan menyampaikan sendiri menunggu waktu yang tepat. Faris mendengarkan ceritaku dengan tangan mengepal.
Berulang kali aku menyebut nama mantan mertuaku Faris berulangkali menyela dengan nada tidak suka. Semua kuceritakan kronologi yang akhirnya berbuntut Alvian menalakku dalam keadaan mabok. Sampai detik ini rasanya aku masih tidak percaya, seperti mimpi. Baru beberapa hari menjadi nyonya Alvian kini menjadi janda kembang.
“Jadi mereka sudah mengusirmu dengan tidak hormat?”
Suara Ayah tiba-tiba mengejutkan kami yang sedang berbincang lirih. Aku mengangguk pasrah jika ayah memarahiku dengan kejadian ini. Alvian benar-benar keterlaluan dulu memintaku kepada orang tuaku dengan baik-baik sekarang membuangku. Tetapi aku bersyukur lepas dari lelaki tua yang hanya terlihat baik di depan istri pertamanya.
“Setelah nanti surat cerainya tiba sebaiknya kamu putuskan hubungan dengan mereka. Berdoa saja kamu tidak hamil!” kata Ayah menatapku tajam.
Deg deg deg
Aku mengangguk dalam hati aku juga was-was jika sampai hamil tanpa suami. Tapi lebih baik seperti itu daripada punya suami tapi tua dan penuh kemunafikan. Apa yang diceritakan oleh Bibik tidak terbukti. Nyatanya belum genap sehari aku tinggalkan Alvian sudah bersama dengan wanita lain, tentunya dia adalah pilihan Weni berasal dari keluarga kaya dan lebih terhormat daripada aku.
Nasi sudah menjadi bubur, tidak perlu menyesali yang sudah terjadi. Sekarang bersama keluargaku aku putuskan untuk menjauh dari keluarga Alvian. Kucoba scrol di medsos mencari pekerjaan. Aku hanya lulusan SMA tidak punya ketrampilan selain merawat orang sakit. CV pekerjaan juga tidak punya, mungkin menjadi karyawan toko atau buruh pabrik yang bisa aku dapatkan.
**
Keesokan hari kami dikejutkan dengan kedatangan rombongan keluarga Alvian. Mereka datang dengan membawa sebuah map berwarna hijau bertulis akta cerai. Alvian berdiri dengan sorot mata tajam ke arahku. Tangan lelaki itu mengepal dan rahangnya terlihat mengeras menahan amarah. Apalagi yang yang sudah dilakukan Weni sehingga anaknya terlihat marah kepadaku.
“Riana, kupikir kamu adalah satu-satunya yang menjadi impian istriku untuk melanjutkan hidup bersamaku. Tetapi nyatanya, kamu mempunyai niat tertentu dengan memanfaatkan kelemahan Yeni. Kupikir, niat kamu tulus merawat Yeni tapi nyatanya kamulah yang membunuh istriku secara perlahan.”
“Apa maksud, Tuan?” tanyaku terkejut mendengar tuduhannya.
“Jangan pura-pura, Riana!” bentak Alvian. Semua terkejut, “Aku sudah punya bukti bahwa kamu yang membunuh istriku.”
Kemudian Alvian menunjukkan rekaman saat aku meminumkan obat kepada Yeni waktu itu. Aku terkejut, fitnah apalagi yang dilakukan Weni kepadaku. Kulirik wanita tua itu tersenyum mengejek.
“Rekaman ini tidak bisa dijadikan bukti. Tidak terbukti dengan jelas obat yang saya minumkan adalah racun kepada Nyonya Yeni,” ucapku dengan nada bergetar menahan amarah. Ketulusanku sudah diragukan saat Yeni sudah tiada. Kenapa ada rekaman itu? Siapa yang merekamnya? Pasti ulah Weni dan kroninya.
“Kamu bisa lihat sendiri, setelah kamu minumkan obat itu, istriku langsung tertidur dan tidak bangun lagi. Akan kubuktikan kalau kamu pelakunya. Jahat sekali kamu, Riana. Kamu tega mengkhianat kepercayaan dari striku.” Alvian menarik lenganku dengan kasar, “Kamu jangan cuci tangan dengan mengembalikan uang yang aku kirim kepada Mama, bukan berarti urusan kita selesai. Aku bersumpah akan memenjarakan kamu, Riana!” bentak Alvian dengan menyentakkan lenganku dengan kasar.
Sakit rasanya, tetapi tidak sesakit yang ada di dalam hatiku. Tuduhan Alvian yang salah, kesalah pahaman ini semakin menjebakku untuk pergi menjauh dari nama lelaki matang yang membuatku menjadi janda dalam waktu kurang dari sebulan.
“Apa maksud Tuan aku mengembalikan uang? Yang ada Nyonya Weni yang minta uang itu, jangan memutar balikkan fakta, Nyonya,” kataku dengan menahan amarah.
“Hei, kamu bicara apa anak kecil. Kamu sendiri yang mentranfer uang itu ke rekeningku. Sombong sekali dia, Al. Memangnya mereka bisa hidup tanpa uang dari kamu? Munafik sekali, bahkan selama ini hidupnya numpang dari belas kasih Yeni. Menyesal aku merestui kalian untuk menikah, ternyata kelakuannya sangat buruk.” Weni melirikku sinis, “Sudah, Al. Kamu kasih akta cerainya. Dia layak mendapatkan itu.”
Alvian melempar map hijau ke wajahku tanpa memedulikan ada anggota keluargaku di sana. Ayah nampak merah padam wajahnya, melangkah maju mendekati mantan suamiku dan menampar Alvian.
Plak plak plak
Seketika ruangan hening, bahkan Weni melongo melihat ayah berani melakukan tindakan kasar kepada seorang Alvian. Seorang ayah yang sedang melindungi anak perempuan dari penindasan, aku salut dengan ayahku.
“Begini caramu mengembalikan anakku wahai Tuan Alvian Pratama yang sombong. Kupikir kamu pria kaya terhormat. Tapi aku salah, kamu tidak lebih dari seorang pecundang. Kupastikan kamu pasti menyesal sudah membuang mutiaraku saat ini. Pergi kalian, jangan lagi menginjak rumahku!” bentak Ayah mengusir mereka.