Permintaan

1020 Kata
Bak petir di siang bolong, Kiara bingung dengan ucapan Mimi. Tidak mungkin kedua orang tua membohongi dirinya selama bertahun-tahun. Karena semenjak kacil hingga besar tinggal dan diasuh oleh mereka dengan penuh kasih sayang. Kiara berpikir, jika Mimi dan Andra sedang memprovokasi dirinya, supaya tidak berbakti kepada kedua orang tuanya. “Jangan bohong, katakan jika ini tidak benar?” sanggah Kiara dengan napas memburu. “Buat apa kami bohong kepadamu? Apalagi kamu sebentar lagi akan menjadi maduku dan akan tinggal di sini selamanya … selamanya,” ucap Mimi dengan tersenyum sinis. “Nyonya, Tuan, katakan. Apa sebenarnya yang kalian inginkan dariku?” tanya Kiara dengan menunduk, hatinya terasa hancur. “Dengarkan aku! Dengar baik-baik, kuulangi sekali lagi. Kamu bukan anak kandung mereka. Jadi pikirkan masa depan kamu saja. Jangan membuat diri kamu susah,” kata Mimi dengan tatapan tajam ke arah Kiara. “I-ni ... ini pasti ada yang salah … ada yang salah. Jangan bohongi saya, jika niat kalian hanya menjadikan aku sebagai b***k. Saya akan bayar dengan tenaga saya sampi hutang saya lunas. Tapi tolong jangan fitnah kedua orangtua saya.” “Tidak ada gunanya kami berbohong. Kamu bisa lihat, besuk aku antar kamu ke rumah kedua orangtuamu. Tapi ingat, jangan sampai kamu pingsan sebelum tahu kondisi mereka saat ini,” sahut Andra berdiri berjalan mendekat ke arah Kiara. “Tidak … saya tetap tidak percaya. Akan saya tanyakan ini kepada mereka. Jangan mencoba memprovokasi saya.” “Percayalah kepada kami kali ini. Kamu tidak akan mendapatkan apa-apa dari mereka. Kami yang akan menyelamatkan kamu. Intinya kamu sudah dijual kepada kami dan pada akhirnya kamu akan tahu, yang mereka lakukan sekarang. Mereka kanya ingin bersenang-senang dengan uang dari kami,” Mimi terdiam sejenak menatap Kiara dengan tajam, “Buka mata kamu, Kiara! Jangan hanya sekedar menyalahkan kami saja.” “Maaf, saya tidak percaya,” ucap Kiara dalam hati marah campur kesal. Sekarang giliran Andra yang mendekatkan diri dengan Kiara. Tampak senyum smirk dari bibirnya mengejek. “Dan mulai sekarang, kamu tetap panggil kami seperti biasa. Karena aku hanya menikahi kamu di bawah tangan,” tegas Andra sambil mengelus tangan Mimi di depan Kiara. Entah mengapa hati Kiara seperti sakit melihat pemandangan mesra yang ada di depannya. “Benar yang sudah suamiku katakan. Kamu tidak akan lepas dari kami meski nanti kamu sudah melahirkan anak untuk kami,” lanjut Mimi membalas dengan remasan tangan dari suaminya. “Tidak ... ini tidak mungkin!” ucap Kiara menggelengkan kepala. “Kalian jahat!” jerit Kiara dalam hati dengan napas memburu menatap tajam keduanya. “Silakan jika kamu tidak percaya, Mas tolong kamu ambil bukti dan tunjukkan kepadanya,” pinta Mimi mendongak ke arah Andra. Suaminya mengangguk dan mengeluarkan ponsel dari saku. Andra menelpon seseorang dan sesaat kemudian datang dengan map di tangan. Dia menyerahkannya kepada Kiara dengan senyum sinisnya. Kiara membaca dengan teliti, matanya melebar sempurna dengan tangan menutup bibir. “A-aku … jadi selama ini ….” Seketika mata Kiara terbuka lebar melihat kenyataan jika bukan anak kandung dari ayah dan ibu yang selama ini merawatnya. Berkas pernyataan yang dilihat dengan tanda tangan yang sudah hafal milik ayah dan dan ibunya. Tetapi mengapa mereka tidak mengatakannya sejak dahulu? “Sudah! Kamu tidak usah pikirkan lagi. Sekarang yang terpenting kamu sudah ada di sini dan siap melayani kami dengan status baru kamu nanti. Oh ya, satu lagi, kamu besok sebaiknya belajar menjadi pelayan yang baik untuk kita. Ingat status kamu sekarang sudah milik kita,” kata Mimi tanpa menatap wajah Kiara sedikitpun. “Seburuk inikah nasibku? Apakah tidak ada pilihan lagi?” keluh Kiara dalam hati dan menunduk berusaha untuk tetap tegar menghadapi kenyataan. “Semuanya sudah jelas ada di kertas yang kamu pegang, yakin di usia kamu saat ini bisa mengerti perkataanku dengan baik,” sahut Mimi dengan tenang. “Sayang, sebaiknya biarkan dia sendiri dulu. Lagi pula kita sudah menang dengan surat perjanjian ini. Kiara akan menjadi pelayan kita setelah aku menikahinya. Sayang sekali, kenapa bukan kamu saja yang mengandung anakku?” ucap Andra dengan melirik Kiara. Sangat aneh mengapa Mimi dengan mudahnya menyerahkan suami untuk menikah dengan Kiara. Jika hanya ingin anak, mereka bisa dengan program bayi tabung. Apa sebenarnya yang mereka rencanakan? “Tidak, kamu lebih baik bersama Kiara. Dia gadis yang bisa dikendalikan, apalagi usianya masih muda. Aku rela dari pada bersama wanita lain di luar sana,” kata Mimi terlihat kesal kepada suaminya. “Terserah kamu saja, aku tidak bisa menolak keinginanmu untuk punya anak. Tapi jangan lupa tetap fokus dengan kesehatan jantungmu,” ucap Andra tersenyum ke arah istrinya. “Tentu, aku sangat mencintaimu. Tidak akan rela melihat Mas tidak bahagia soal nafkah batin. Hatiku lebih sakit jika kamu bersama wanita lain! Kalau dengan Kiara aku bisa kendalikan selama tinggal di sini bersamaku.” “Tentu, Sayang. Tetapi kamu tahu tentang kebutuhanku soal itu. Mau bagaimana lagi, kamu tahu kan kebutuhanku tidak bisa dihindari,” lanjut Andra tanpa memperdulikan Kiara yang masih berdiri di dekat mereka dan bergelut dengan pikirannya. “Maafkan aku Mas, tapi sekarang sudah beres. Tinggal menunggu waktu saja, ingat aku yang atur semuanya.” “Ya, Sayang. Aku pasti tetap sayang sama kamu,” ucap Andra dengan mesra. Kiara hanya melirik adegan pasutri tersebut dan segera berlalu dari taman belakang. Pikirannya kacau dengan kenyataan tentang dirinya. ** Bibir Kiara terkunci, kaki melangkah dengan berat menuju ke dalam kamar. Ruangan yang selalu membuat selalu berkeringat ketakutan setiap malamnya. Membayangkan jika nanti menjadi istri Andra yang terlihat sangar saat menatap pada tubuhnya. Pintu kamar dibuka, tidak ada gairah sama sekali saat Kiara membaringkan tubuhnya di ranjang yang empuk dan mematikan lampu. Kamar yang gelap, segelap hati Kiara kuat menghadapi cobaan. Bersyukur masih ada yang mau menampung dirinya. Meskipun dengan syarat yang sangat berat, menjadi istri hanya untuk melahirkan keturunan. Selama ini Kiara tidak pernah menjalin asmara dengan laki- laki manapun. Karena sadar dengan kondisinya sebagai gadis miskin. Ketika mata terpejam, Kiara teringat dengan kedua orang yang selama ini mengasihi dan menyayanginya. Ternyata semua itu hanya palsu. Setetes air mata mengalir pelan membasahi pipinya yang putih mulus. Meskipun tidak memiliki wajah cantik namun tubuhnya tidak dapat dipungkiri, menarik perhatian para lelaki yang mengenalnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN