BERDEBAR

1522 Kata
Hening. Tidak ada yang bersuara sama sekali. Di dalam mobil, Clara terus melirik Arfa yang sendari tadi mengulum senyum. Cowok itu terlihat sedang bahagia tetapi tidak mau mengekspresikannya dengan baik. Clara mendengus melihatnya. 'Mau senyum aja pake di tahan! Gengsi banget jadi orang!' batin Clara, terus memperhatikan kelakuan Arfa. Clara tidak habis pikir dengan kepribadian Arfa. Dari tadi mulur cowok itu mengembung, berdekud, dan sesekali dia menggaruk pipinya. Mungkin terasa kram karena terus menahan senyum. Clara geram. "Kalo mau senyum itu senyum aja! Kentut nanti malu! Nanti nanges!" sindir Clara. Arfa menoleh, melihat Clara yang memejamkan matanya. Cewek itu menyandar dengan nyaman di duduknya. Tak lama kemudian Arfa mengembalikan fokusnya ke jalan raya. "Kenapa lo merem?" "Clara tau, Arfa mau senyum trus ditahan gara-gara malu ada Clara disini kan?" Tebak Clara, masih dengan mata terpejam. Mendengar alasan itu membuat bibir Arfa melengkung dsepenuhnya. Entah bagaimana bisa, Arfa meyakini bahwa dia telah jatuh hati dengan pesona Clara. Hanya dengan mendengar tebakan atau ucapan absurd Clara, Arfa hilang kendali dan reflek tersenyum. Clara adalah cewek yang akhir-akhir ini membuatnya bisa jujur mengekspresikan dirinya. Tersenyum dengan leluasa contohnya. "Buka mata lo," ucap Arfa. Clara menggeleng. "Nanti. Kalo Arfa udah senyum." balasnya. Arfa kembali tersenyum simpul. "Gue udah senyum." Clara mengangguk dan membuka matanya, ia menoleh ke Arfa. Seketika Clara mematung. Bagaimana tidak, Arfa menatapnya lembut dengan senyuman paling manis. Clara masih normal, dan jantungnya secara alami berdegup tak seperti biasanya. Arfa merasakan perubahan pada Clara. Mata Arfa mengikuti tangan Clara yang perlahan menempel di d**a, tepat di tempat jantung. Cowok itu menatap Clara dengan keryitan di dahi, dia memperhatikan bagaimana perubahan wajah Clara sampai cewek itu blushing. Kok gemes? batin Arfa. Dengan kekehan renyahnya, Arfa meyakini bahwa Clara baru saja terpesona dengannya. Bukannya terlalu percaya diri, tapi memang benar bukan? Senyuman Arfa terus membuat Clara tersipu, cewek itu beralih mengigiti kuku-kuku jarinya, menahan diri agar tidak memberikan respon memalukan dihadapan Arfa. Arfa mengeryit melihat kelakuan Clara, cowok itu tertawa lepas melihat wajah blushing Clara. Tak lama kemudian tawa itu berubah menjadi sebuah bentuk protes. Cowok itu menepikan mobilnya. "Aduh.. Aw-aw lwepas!" Clara langsung melepaskan cubitannya dan menampilkan deretan gigi putih. Bukannya marah, Arfa malah mengacak gemas rambut Clara membuatnya mematung lalu mengerjap beberapa kali. Arfa sepertinya sudah gila, benar-benar gila! Ia menyadari betapa banyak perubahan pada dirinya. Alasannya cuman satu, karena Clara. Entah mengapa ada rasa lega dan bahagia dalam diri Arfa. Tanpa basa-basi cowok itu langsung memeluk Clara untuk mengekspresikan rasa terimakasihnya. Berkat perlakuan Arfa, Clara berada di posisi aneh. Cewek itu kaget sekaligus senang? Entahlah, yang jelas dia tidak menyangka Arfa akan memberikan respon yang tak terduga seperti ini. Luar biasa! "Makasih." lirih Arfa. Arfa mengeratkan pelukannya seolah mewakili syukur atas kehadiran Clara di hidupnya. Cewek dengan segudang kehebohan dan keberanian yang telah mengulurkan tangan untuk menolongnya dari lubang penyesalan yang selama ini menjebak kebagiaannya. Entah sudah berapa kali Clara terkejut, yang jelas dia tidak menyangka Arfa bisa mengucap terima kasih. Arfa berterimakasih padanya?! HELL! Air muka Clara berubah menjadi bingung saat merasakan bahunya basah. Apa Arfa menangis? Atau meludahi bahunya? Hendak memprotes dan melepaskan pelukan Arfa, Clara dikejutkan dengan permohonan Arfa. "Bentar aja, gue pengen peluk lo." Suara itu terdengar bergetar, tak salah lagi. Arfa menangis! Clara langsung membalas pelukan Arfa dan menepuk lembut punggung Arfa, berusaha menenangkan si empunya. Dan kalian tau mengapa Arfa begitu? Itu karena sudah dua minggu ini ia merasakan kembali kehangatan keluarga. Hari ini, baru saja Arfa makan malam dengan keluarganya bersama Clara. Kehangatan yang Arfa dambakan, terbalas dengan momen makan malam hari ini. *** Clara menghempaskan tubuhya, dia telentang diranjang dengan wajah penuh makna. Cewek itu menatap langit-langit kamar dan meletakkan telapak tangan kanannya di d**a kiri. Dia sedang mengecek degup jantungnya yang masih terasa aneh. Clara berusaha menepis segala ingatan manis di mobil tadi, apalagi senyuman manis Arfa. Bisa diabetes melitus gueeee!!! *** Sejak masuk ke dalam rumah, Arfa tidak sekalipun terlihat melunturkan senyuman manis. Dia merasa bahagia tiada tara. Baik keyakinan mengenai perasaannya pada Clara maupun kehangatan keluarga yang baru saja dia dapatkan. Ingatan Arfa terus berlabuh pada Clara. Astaga cewek gila yang penuh pesona itu berhasil menyita perhatiannya! Arfa memasuki kamarnya, menghempaskan tubuhke kasur. "Gue harap ini semua bukan mimpi," gumam Arfa, tak lama kemudian dia tertidur pulas dengan senyumannya. **** Clara merenggangkan badanya yang terasa remuk, entah mengapa ia merasa begitu letih hari ini. KRAK KRAK. Suara tulang saat Clara merenggangkan badannya terdengar ngilu di telinga. Clara mengerjap berusaha mengumpulkan semua nyawanya. Hidung Clara otomatis kembang kempis tatkala mencium bau makanan lezat. Matanya masih terpejam sesekali mengerjap. "Pizza," ucapnya menyebutkan bau yang begitu mendominasi. Clara kembali mendengus. "Pasta... Martabak?... Dakgalbi.. Gado gado?... Wahhhh!" Mata Clara langsung terbuka lebar ketika mendapati bau yang benar-benar mengodanya. "BALADO!" Dengan semangat empat lima, Clara menyibakkan selimutnya lalu berlari menuju sumber kelezatan. Dia berhenti di ujung anak tangga dan menunduk melihat ruang makan yang sudah tersaji berbagai macam makanan dan teman-temannya yang entah sejak kapan sudah berada disana. "OM! OI!" Kebiasaan Clara ketika teman-temannya ikut nimbrung, memanggil papanya dengan sebutan 'om' Merasa terpanggil semua manusia yang tadinya makan dengan canda gurau kontan menoleh menatap Clara. "OM TIO! KENAPA NGGAK BANGUNIN CLARA?! KALIAN JUGA KUPRET KENAPA GAK BANGUNIN CLARA! NYARI UNTUNG YA!" protesnya menyalahkan Tio, Fino, Gea, Hasan dan Sela. "SENGAJA YE! DASAR KEBO KEDODORAN!" Jawaban itu bukan dari mulut Fino yang biasanya lenjeh, jawaban itu juga bukan dari Tio papanya atau bahkan teman-teman yang lainnya. Tiba-tiba seorang cowok bergabung dari arah dapur dan menatap Clara dengan berkacak pinggang. Clara mengerjapkan matanya, menampar pipinya bahkan menyentil dahinya sendiri. Merasa itu nyata Clara langsung tergerak untuk turun ke bawah dan segera memeluk cowok tersebut. Menumpahkan segala rindu yang kian terpendam lama. "SARMANTO!!!" teriaknya. "BAPAK GUE ITU BENGEK!" Tak menggubris aksi protes itu, Clara terus berlari menuruni tangga dengan sembrono membuat mereka semua takut Clara akan ter-- "ADOHHHHH!!!" Semua kontan berdiri dan meninggalkan makanannya, menghampiri Clara yang jatuh dari tengah tangga ke bawah. Benar dugaan mereka! Belum selesai mengira-ngira sesuatu akan terjadi dengan Clara, ternyata sudah terjadi duluan. Clara menuruni tangga dengan berguling-guling dan terbentur-bentur. Kepalanya terasa pening, kakinya terasa nyeri, bahkan tangan kanannya ikutan nyeri karena sempat tersangkut peyangga tangga. Semua bergerombol menatap Clara. Mereka langsung memberikan respon yang beragam. "Gimana sih, nak! Kalo mau atraksi yang bener lah!" Ujar Tio. "Sembrono banget sih lo!" "t***l deh!" "Aduhhhh hati-hati, Ra!!" Sepertinya memang hanya Hasan yang normal, disaat semua memarahinya Hasan malah mewantinya kenapa tidak berhati-hati. Clara menangis, bukannya mereka cepat menolong malah memarahinya. Sarmanto yang tadi hendak ia hampiri langsung menggendongnya ala bridal style. Clara kontan melingkarkan tangannya di leher Sarmanto, tapi itu malah membuatnya merasakan sakit pada tangan kanannya. Clara di dudukkan di sofa, matanya mengeluarkan cairan bening karena tak kuasa menahan nyeri. "Apa yang sakit?" tanya Tio khawatir karena Clara yang terlihat kesakitan. "Tangan Clara sama kaki Clara, pa. Sakit banget." jawabnya seraya mengigit bibir bawahnya, dia menangis. "Bawa ke rumah sakit aja om, kayaknya Clara perlu kesana," saran Hasan diangguki oleh Tio. Mereka memutuskan membawa Clara ke rumah sakit. Clara menyuruh papanya untuk menyupir sedangkan ia di kursi penumpang bersama dengan lelaki yang ia panggil Sarmanto. 🐣🐣🐣 Saat ini Clara hanya menghabiskan waktu dengan beristirahat setelah melewati penanganan dokter. Cewek itu sibuk mendumal karena Tara mengomelinya. Tara menyuapi Clara dengan dengusan kasar yang tak tertahankan. Bagaimana tidak, Clara meminta pertanggungjawaban karena merasa peristiwa jatuhnya dirinya dari tangga adalah salahnya sebab datang dan membuat Clara terketuk untuk segera memeluk melepas rindu. Tangan kanan Clara terbalut tensocrap dan harus memakai Armsling Medistra selama kurang lebih satu minggu. Kaki kanannya pun juga dipakaikan tensocrap akibat angkle kakinya cidera. "Pizza dong... Ehhh Pino air putih dong..." Pinta Clara semena-mena pada Tara dan Fino. Keduanya hanya bisa mendengus dan menahan makian, tetapi tetap menuruti perintah Clara. Clara benar-benar menyebalkan disaat-saat seperti ini. Tak lama setelah itu Tio memasuki ruangan Clara dengan selembaran kertas ditangannya, membuat semua orang yang ada di ruangan tersebut penasaran dengan isi kertas yang Tio bawa. "Itu apa om?" Fino menjadi orang pertama yang bertanya. Semua menatap penasaran kertas dan wajah Tio. "Papa..." lirih Clara. Tio menatap Clara sendu. "I-itu kertas persetujuan amputasi kaki Clara ya?" Sontak semua membelalak ketika Tio mengangguki pertanyaan Clara. Wajah Tio dan Clara terlihat pilu membuat suasana mendadak hening dan tak menyangka. "Sumpah lo amputasi?" tanya Tara, ngegas. "Kok bisa?" timpal Fino. "Parah banget ya?" Tambah Hasan. "Yang bener lo?" Tambah Sela. "Seriusan?" terakhir, Gea memastikan dengan pertanyaannya. Tio mendekat pada Clara, memeluk, merengkuh dalam diam. Kontan suasana yang ada menjadi semakin pilu. Semua terdiam karena tidak ingin memberikan respon yang kiranya dapat menambah kesedihan yang ada. "HAHAHAHAHA!" Semua mendongak menatap aksi anak dan bapak yang sedang tergelak tersebut. Bukannya harusnya mereka berdua bersedih? Kenapa ini malah tertawa? Tio dan Clara ber-high five merasa candaan mereka berdua berhasil membuat semua orang terjebak pada suasana yang ada. "Tegang amat kalian semua," ucap Clara dengan penuh canda sementara Tio tidak bisa meredakan tawanya melihat wajah memilkukan yang ditampilkan oleh Tara. Mereka semua mencebik. Kesal dan merasa tertipu dengan kelakuan Tio dan Clara. "Dosa gak sih, ngatain orang tua sekalian anaknya?" gumam Fino tapi masih dapat terdengar jelas di telinga orang-orang di ruangan tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN