BATU YANG TERKIKIS

2220 Kata
Clara termenung dikamarnya, tubuhnya telentang membentuk bintang di atas ranjang. Kejadian beberapa jam yang lalu membuatnya banyak berpikir. Tadi Clara sempat mengeryit melihat Aldo bersama seorang wanita yang perutnya membuncit. Pikirannya bertanya-tanya mengapa Aldo ke rumah Arfa. Setaunya Aldo dan Arfa itu tidak memiliki hubungan baik seperti yang ia liat. Bahkan Clara masih ingat betul bahwa setiap mereka bertemu pasti selalu adu jotos atau adu mulut. Clara nampak berpikir keras. Tak menyangka bahwa Aldo dan Arfa bersaudara. Apalagi fakta bahwa hubungan Arfa dan keluarganya yang buruk. Clara meringis mengingat dulu ia pernah mengoda Arfa di rooftop tentang keluarganya. "Mulutttt! Abis ini kalo ngomong dijaga yaa.." ujarnya seraya menampar pelan bibirnya. Sejenak ia memihak dan membenarkan Arfa. Bahwa Arfa lah yang menjadi korban, kehidupan dia berubah karena kesalahan keluarganya. Tapi di sisi lain Clara juga kesal dengan perlakuan Arfa. Arfa begitu kasar dengan Berta, mengingat betapa kalutnya dirinya tadi membuat Clara langsung tertegak. Clara mengambil gulingnya dan memukuli benda mati tersebut seolah-olah itu Arfa. "Anak durhaka! Tante Berta sampe digituin. Bodoh kamu Arfa! Bodoh!" maki Clara sebal. Clara memutuskan mencari Arfa, ia harus memberitahu Arfa bahwa ibunya kini tengah kritis akibat ulahnya. Clara harus membuat Arfa meminta maaf. Ucapannya tadi pasti menyakiti hati Berta. Clara tidak ingin Arfa menyesal di kemudian hari seperti dirinya, sebetulnya Clara merasa iri. Lihatlah orang-orang diluar sana yang masih punya orang tua lengkap. Mereka membuat salah satu atau bahkan kedua sering sakit hati akibat ucapan anaknya. Mereka tidak bersyukur bahwa surganya masih di biarkan Tuhan untuk menemaninya. Surga itu adalah seorang ibu. Heii, lihatlah Clara, surganya telah kembali pada Tuhan, Tuhan lebih menyayangi surganya itu. Ibunya sudah usai menemaninya di dunia. Clara merindukan ibunya. Ia begitu menyesal karena dulu sempat membentak dan memarahi balik ibunya. Dan di suatu hari, ketika pulang sekolah, saat Clara ingin memberikan sebuah hadiah yang sudah di belinya untuk ucapan minta maaf karena sempat 'ngambek' pada ibunya dengan senyum merekah cerah seketika semuanya membentak keras. Surganya pergi, tanpa memperlihatkan senyum manis dan pelukan hangat yang nyaman. Kedatangan yang biasanya di sambut dengan kasih sayang berubah menjadi sambutan miris yang menekan perasaan. Bukan canda tawa yang hadir saat itu, melainkan tangisan penyesalan. Ibunya telah tiada. Meninggalkannya dengan rasa penyesalan yang kian lama semakin membelenggu hatinya hingga terasa sesak. *** Arfa termenung di dua pusara kedua orang yang ia sayang dan rindukan. Kedua orang yang menjadi cinta pertamanya. Kedua orang yang membela mati-matian dirinya. Serta memberi kekuatan untuknya. "Kakek. Nenek. Arfa nggak salah, kan, kalo benci sama mereka?" ucapnya begitu rapuh. Mulut Arfa bergetar menahan isak. "Mereka buang Arfa dan sekarang mereka baru cari Arfa." Arfa mengelus kedua nisan kakek dan neneknya. "Arfa ingin menyusul kalian berdua. Arfa rindu kalian berdua. Andaikan dulu kalian tidak menyelamatkan Arfa. Pasti sekarang Arfa udah sama kalian, nungguin kalian datang." Begitu hening suasana tersebut. Merasa semakin sesak, Arfa pergi meninggalkan pemakaman. "Arfa pergi, mungkin kita segera bertemu nanti." Pamitnya pada kedua pusara itu. *** Clara kelimpungan mencari Arfa, dari mulai mengeledah sekolah, taman, serta beberapa tempat yang sering Arfa kunjungi. Clara merasa lega menerima kabar bahwa Berta melahirkan bayinya dengan selamat. Pasalnya saat tadi ia mengantar Berta ke rumah sakit darah keluar begitu banyak dan dokter mengatakan untuk segera mengoperasi Berta. Jika tidak, Berta serta bayinya tidak dapat di selamatkan. Clara menyusuri trotoar dan meliarkan pandangan ke seluruh penjuru demi mencari sosok jakun yang ingin ia cakar wajahnya itu! Clara melihat sorang lelaki tengah berjalan menunduk di depannya. Jalannya begitu pelan, sesekali ia memukul dadanya. Clara meneliti secara rinci bentuk tubuh serta baju yang di kenakan lelaki tersebut. Merasa itu adalah sosok yang ia cari, langsung saja Clara berlari dan menyentak bahu Arfa kuat membuat Arfa berbalik ke samping menghadapnya. Clara melihat wajah kusut itu, seketika wajah itu berubah menjadi datar dan begitu mengerikan. "Pergi. Jangan buat gue gak bisa ngelepasin lo," ucap Arfa penuh penekanan. Clara tersentak. Apa maksud Clara tidak bisa melepaskannya? "Arfa harus segera ke rumah sakit." "Buat apa gue kesana? Tengokin Aldo yang hampir mati? Atau liat wanita itu yang pura-pura kesakitan?" sarkas Arfa. PLAK. Tamparan mendarat mulus di pipi Arfa. "Puas lo buat keluarga lo jatuh semakin dalam sama kesalahan mereka?! Puas lo bikin kedua orang yang sayang banget sama lo hampir hilang nyawanya?!" Arfa tersentak, tidak biasanya Clara berbicara memakai 'lo-gue'. Nada bicara gadis itu bahkan sangat tegas dan lantang. Arfa tersenyum miring lalu mencengkeram bahu Clara dan menguncangnya. "Siapa lo ikut campur urusan gue?!" Sontak semua orang yang berlalu menatap mereka. Pasalnya Arfa dan Clara tepat berada di trotoar depan Indomaret serta kedai-kedai kecil. Clara meringis merasakan cengkraman Arfa yang begitu kuat. "Gue Clara! Gue bisa jadi temeng lo! Jangan sok kuat dan jangan egois!" Arfa merasa malas berhadapan dengan Clara. Ia sentak cengkraman pada bahu Clara dan pergi meninggalkan Clara yang tersungkur di trotoar. Clara berdiri lalu menghentak kembali bahu Arfa hingga menghadapnya. "LO HARUS MINTA MAAF!" Teriaknya membuat suasana begitu ramai, Clara tidak memperdulikan beberapa orang yang berbisik dan menontonnya. Kali ini Arfa sudah benar-benar keterlaluan. Arfa tak menggubris teriakan Clara dan kembali berjalan. Lagi dan lagi Clara berjalan kesal lalu menyentak bahu Arfa. "LO HARUS MINTA MAAF KE TANTE BERTA! DIA HAMPIR MATI SAMA BAYINYA GARA-GARA PERBUATAN LO TADI!" Deg. Apa? Mamanya hampir mati? Apa maksud ucapan Clara? Bayi? Oh iya! Bahkan ia lupa bahwa Berta tengah mengandung! Pasti akibat dorongannya tadi Berta menjadi begitu. Clara mengeplak belakang kepala Arfa. "GAK USAH BANYAK MIKIR! Lo harus ke rumah sakit sekarang!" Setelah itu Clara menarik tangan Arfa sedangkan Arfa hanya bisa mengikuti tarikan Clara. Otaknya begitu penuh memikirkan beberapa pikiran negatif yang bersarang. Apakah Berta baik-baik saja? Sebenci-bencinya ia pada Berta, tak pernah sekalipun dirinya berniat mencelakai wanita yang telah melahirkannya. Apakah wanita yang begitu ia rindukan baik-baik saja? *** Satu hal yang sendari tadi Arfa lakukan. Hanya menatap dibalik kaca ruangan inap Berta. Ini adalah kesekian kalinya Arfa hanya berdiri kemudian berbalik untuk pergi setelah merasa puas menatap orang terkasih. Ya, kasih yang tak sampai. Penyesalan selalu menemani Arfa selama lima hari ini. Dia telah membuat Berta terpaksa harus melahirkan bayinya sebelum waktu melahirkan yang seharusnya. Dan Arfa tidak tahu harus bertindak apa, maka dari itu diam adalah cara Arfa mencoba mengurangi penyesalannya. Walaupun kenyataannya dia tidak mampu menghilangkan seluruhnya. Berta, Aldo, Yuda, dan bayi perempuan digendongan Berta seolah sangat bahagia. Apakah kehadirannya bisa menambah kebahagiaan? Arfa menggelengkan kepalanya, Apa yang gue pikirin, sih?! itu semua nggak mungkin terjadi! Tiba-tiba sebuah memori indah melintas. Memori ketika pertama kali adik perempuannya lahir, berada dalam gendongannya, dan lantunan adzan Arfa yang diperuntukkan untuk adik kecilnya. Arfa mulai mengingat situasi kalut waktu itu. Dimana saat Berta masih terbaring lemah karena obat bius dan Aldo yang masih tak sadarkan diri setelah mendapatkan tonjokan membabi buta darinya. Arfa yang saat itu berada di dekat Berta disarankan oleh seorang suster untuk melantunkan adzan menyambut kelahiran bayi Berta. Awalnya Arfa menolak sebab saat itu Yuda sudah dihubungi oleh pihak rumah sakit dan berada dalam perjalanan. Namun, bayi yang kala itu baru saja lahir terus menangis dan Arfa mencoba menuruti saran dari suster tersebut. Syukurlah, setelah mendengar lantunan adzan Arfa, bayi tersebut langsung diam dan menjadi tenang. Semua itu terekam jelas di pengelihatan Clara. Ya, hanya Clara yang kala itu menemaninya. Berdiri tepat di samping Arfa. Entah mengapa Arfa merasa tenang dengan kehadiran Clara, apalagi tiba-tiba jemarinya digengagam oleh telapak tangan mungil yang lembut. Arfa sangat bahagia ketika bayi dalam gendongannya menunjukkan ketertarikan padanya. "WOI!" Lamunan Arfa buyar seketika saat seseorang menepuk bahunya seraya berteriak di dekat telinganya. Decakan malas keluar dari bibir Clara. "Masih aja intip-intip! Masuk gih!" serunya. Arfa menggeleng. "Gue ada urusan,"kilahnya kemudian berbalik untuk pergi menjauhi ruang inap Berta. Namun, Arfa lupa dengan keberadaan Clara. Cewek itu entah sejak kapan bisa membuat Arfa sedikit takhluk terhadap beberapa hal. Saat Arfa hendak melewatinya, Clara langsung mendorong tubuh Arfa membuat si empunya terhuyung ke samping dan reflek memegang knop pintu ruangan Berta. Gedubrak. Pintu ruangan terbuka bersamaan tubuh kekar Arfa yang terjerembab ke ubin putih itu. Clara menatap polos Arfa sedangkan ketiga orang yang tadinya sedang asik bercanda gurau langsung memfokuskan diri ke pintu. Arfa meringis merasakan ngilu di sikunya akibat membentur ubin, ia melirik tajam ke arah Clara. Clara tersadar dan langsung membantu Arfa berdiri. "Hehe sorry. Kelepasan Clara." Arfa mendengus. "Emang s****n lo," hardiknya. Cengiran Clara tidak menmbuat Arfa lebih baik, malah kebalikannya. Cengiran tersebut malah membuat Arfa semakin gondok sendiri. Dua orang itu sendari tadi belum menyadari bahwa ada tiga pasang mata yang memperhatikan daritadi. "Ehhh... Halo om, tante, kak Aldo," sapa Clara sedikit membungkuk setelah menyadari sedang diperhatikan. Arfa tertegun, ia lupa bahwa Clara telah membuatnya mati kutu di depan keluarganya. Apa? Keluarganya? Arfa memangil mereka keluarga? Bagaimana bisa ka-- Clara membalik badan Arfa hingga menghadap ke Yuda, Aldo, Berta dan si bayi. Melihat Arfa yang diam saja membuat Clara gregetan sendiri. Maka Clara memutuskan untuk memukul punggung Arfa agar membungkuk dan berucap salam. Tapi sayang, Arfa sudah peka, oleh karena itu kali ini Clara yang terjerembab ke lantai. "Jangan sok," hardiknya, tangan Arfa terulur untuk membantu Clara berdiri. Clara menerima uluran tangan tersebut sambil mendengus kuat-kuat. Hal yang tak terduga, Clara menarik tangan Arfa mendekati Berta. Arfa menghempas kuat tangan Clara. "Gue ada urusan." lalu Arfa berbalik. "Arfa." Arfa berhenti melangkah. Suara lembut itu menghentikannya. Suara itu menahannya. "Terima kasih dan mama minta maaf." lirihnya. Hati Arfa terketuk kali ini, mendengarkan lirihan Berta. Bukan hanya Berta, Yuda dan Aldo ikut berterimakasih dan meminta maaf padanya. Bukankan seharusnya Arfa menerima amarah karena telah membuat kondisi Berta dan Aldo seperti saat ini? "Bisa kamu kesini? Ke samping mama?" pinta Berta penuh harap. Arfa masih bergeming membuat bahu Berta merosot. Aldo dan Yuda pun hanya bisa menghela napas pasrah.Arfa yang masih belum bisa digapai. Seakan mengerti keadaan, bayi di rengkuhan Berta pun menangis. Tangisan itu menyita penuh perhatian Arfa tetapiArfa masih dalam posisinya, memunggungi keluarganya. Dinding ego yang entah sejak kapan tercipta membuat Arfa semakin menjauh dari orang-orang terkasihnya. Tanpa sadar Arfa melamun, melamunkan betapa bahagianya jika ia dapat bergabung dalam keluarga bahagia di depannya. Clara memegang lengan Arfa membuat Arfa tersadar dari hayalannya. Mata Clara menatap yakin pada Arfa kemudian mengangguk mantab seolah sedang meyakinkan pada Arfa akan satu hal. "Untuk apa saya ke samping anda?" Berta, Yuda, dan Aldo mendongak. Tangis bayi itu pun berhenti. "Kamu punya adik yang pertama kali ketemu sama kamu. Pertama kali dapat pelukan, gengaman, ciuman sayang yang selalu mama impikan," ujar Berta. Seakan mengerti keadaan, Clara beranjak meninggalkan ruangan. Urusan keluarga Arfa adalah privasi, jadi ia tidak boleh ikut campur semakin dalam. Arfa mencekal tangan Clara membuat Clara menatap cekalan Arfa dan beralih pada wajah Arfa. "Jangan tinggalin gue, temenin gue disini." pinta Arfa dengan suara lembut. Clara menyembulkan kepalanya ke samping, meminta persetujuan dari keluarga Arfa lewat tatapan mata. Mereka mengangguk membuat Clara memilih menuruti permintaan Arfa. Cekalan Arfa berpindah menggenggam halus tangan Clara, entah hanya Clara saja atau Arfa juga, yang jelas debaran jantung Clara saat ini terasa nyaman. Namun, keryitan didahi Clara muncul ketika merasakan tangan Arfa dingin dan berkeringat. Perlahan Arfa membawa Clara melangkah mendekati Berta. Semua yang ada disitu terlihat menahan senyum bahagia sebab Arfa memberikan respon positif pada semua situasi yang ada. Tak lama setelahnya senyum Aldo luntur begitu saja kala melihat tautan tangan Arfa dan Clara. Ternyata benar, Arfa sudah memiliki Clara. Aldo langsung menyadari bahwa tidak akan ada kesempatan untuk mendekati Clara. Ketika Arfa berniat menyentuh tangan si bayi, tiba-tiba telunjuknya di genggam lembut. Tanpa sadar senyum Arfa menggembang, senyuman itu menular ke semuanya. Arfa menatap penuh arti pada Berta. Seolah mengerti tatapan Arfa, Berta membantu Arfa menggendong bayinya. Tautan yang baru saja terlepas membuat Clara mendelik dan langsung waspada ketika Arfa mengambil alih bayi dari rengkuhan Berta. Cewek itu tidak sepenuhnya yakin Arfa bisa menggendong bayi. Ini bayi lo, bukan kucing. Jika jatuh taruhannya banyak. Wajah datar dan kaku Arfa berubah menjadi lebih lembut. Apalagi ditemani senyuman manis, astga! Tiba-tiba saja Clara punya mimpi Arfa sedang menggendong bayinya. Arfa terlihat telaten dan sabar kala menggendong bayi tersebut. Bayi itu juga terlihat cukup nyaman dalam gendongan Arfa. Luar biasa! Clara ingin sekali mendokumentasikan memori indah ini! Semua tercengang melihat Arfa. Apalagi Berta. Yuda dan Berta saling tatap, seakan menyalurkan kebahagiaannya melalui tatapan dengan mata yang berkaca-kaca. Aldo tak luput memperhatikan Arfa. Ia senang jika adiknya senang. Setelah sekian lama, akhirnya ia dapat melihat lengkungan di bibir Arfa. Clara ikut tersenyum, tangan Clara megarah ke jemari bayi tersebut. Dan telunjuk Clara tiba-tiba di genggam. Clara mendongak menatap Arfa yang kini ikut menatapnya, Arfa tersenyum manis dan mengangguk membuat pipi Clara memanas dengan sendirinya. Dan itu ketara sekali hingga membuat gelak tawa orang diruangan tersebut tercipta. Ralat, hanya Berta, Yuda dan Aldo. Sedangkan Arfa hanya tersenyum biasa. Clara hanya bisa membalasnya dengan tersenyum kikuk. Setidaknya ia tidak sampai koprol dan gulung-gulung di lantai karena senyuman manis Arfa. Dasar cowok ganteng, curang! Untung saja bayi di gendongan Arfa menggengamnya. Jika tidak, entah apa yang akan Clara lakukan saat salah tingkah tadi. Bisa jadi Clara langsung nyosor ke Arfa bukan? "Beri nama untuk adik kalian," Ujar Yuda menoleh ke arah Arfa dan Aldo bergantian. "Olivia." "Heavenly." Ucap Aldo dan Arfa bersamaan. Yuda dan Berta tersenyum. "Olivia Heavenly," ucap Yuda menyimpulkan nama anak ketiganya. "Clara boleh ikutan ngasih nama nggak ya?" harap Clara di dalam hati. Dan dari situlah hubungan Arfa dan keluarganya bertambah baik, bertambah erat, dan bertambah harmonis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN