Clara sampai di depan rumah Arfa, tapi ia masih tidak berani masuk ke dalam sana. Tau kan, Clara itu parno an. Ia memutuskan untuk mencari tempat yang pas untuk berpikir dan memutuskan pergi ke taman dalam komplek Arfa.
Setiap komplek perumahan punya taman bukan?
Tapi sekarang Clara sudah setengah jalan mengelilingi komplek, Clara lelah tak mungkin kan ia harus mengelilingi seluruh komplek perumahan Arfa yang luas hanya untuk mencari taman.
Oleh karena itu, Clara memutuskan untuk mengisi perutnya di seberang, dimana terdapat gerobak ketoprak yang menyita perhatian.
Berakhirlah Clara di sini, dengan seporsi ketoprak dan pikirannya.
Hanya satu yang ada di pikirannya.
Bagaimana menyembuhkan orang kesurupan.
Sangking khusyuknya berpikir tanpa sadar Clara mentendokkan angin ke mulutnya karena ketoprak yang ada di pangkuannya...
"Neng sudah habis neng itu ketopraknya."
Mendengar teguran abang penjual ketoprak membuat Clara menghentikan aksi menyuapi mulutnya. Clara menatap piring ketoprak, ternyata benar bahwa makanannya itu sudah habis.
"Bang." panggil Clara membuat penjual ketoprak tersebut menatap heran.
"Kenapa neng?"
"Caranya bikin sembuh orang kesurupan gimana?"
Kontan pertanyaan tersebut membuat penjual ketoprak itu meninggalkan kegiatan mengaduk bumbu ketoprak dan duduk di depan Clara.
"Memang siapa yang kesurupan neng?" tanya penjual tersebut sedikit berbisik karena tidak ingin menganggu pelanggannya.
"Temen Clara bang, ini Clara mau ke rumah dia. Mau sembuhin." jawab Clara ikut berbisik.
Penjual ketoprak itu mengode Clara untuk mendekat dan Clara langsung mencondongkan telinganya.
Clara menganggukan kepalanya mengerti maksud bisikan penjual ketoprak tersebut.
"Makasih bang!" ucap Clara seraya memberikan piring kotornya, Clara berdiri dan mengambil uang lima puluh ribu di saku bajunya.
Clara memberikan uang tersebut pada si penjual ketoprak yang tengah menengadah. "Kembaliannya ambil aja bang. Clara permisi. Assalamualaikum!"
Penjual tersebut membuka gengaman tangannya saat Clara memberinya uang tadi. Matanya berbinar dan langsung saja ia berteriak.
"Sering-sering makan kesini neng!"
Dan Clara yang berlari menjauh hanya membalas dengan mengangkat ibu jarinya ke udara.
Sekarang ia sudah berada di depan pagar rumah Arfa dengan membungkuk dan tangannya bersimpuh di kedua lutut sangking lelahnya berlari.
Senyum Clara sukses merekah, mengembang dengan sempurna sebab pagar rumah sedikit terbuka, jadi tidak perlu harus memanjat pagar seperti tempo hari yang lalu.
Tanpa pikir panjang lagi Clara langsung masuk ke dalam.
Clara menghentikan langkahnya ketika melihat sebuah mobil terparkir di garasi rumah Arfa. Mobil itu terlihat familiar-- fokus!
Clara mengabaikan rasa familiarnya pada mobil itu dan segera memanjat pohon menuju balkon kamar Arfa.
Clara melompat tepat di balkon Arfa. Saat menengok ke dalam ternyata kamar Arfa sepi.
Ceklek.
Pintu balkon tidak terkunci membuat akses Clara lebih mudah untuk masuk. Ia menutup pelan pintu balkon agar tidak menimbulkan suara yang dapat menarik perhatian Arfa.
Kata orang jika ada yang kesurupan itu jangan ganggu dia nanti kena sendiri. Dengan kata lain orang kesurupan itu bahaya.
Clara merangkak menuju bawah ranjang Arfa untuk bersembunyi.
PYARRR.
Clara yang belum berhenti berusaha bersembunyi di bawah ranjang Arfa lantas terkejut. Dan akhirnya Clara melewati bawah ranjang untuk pergi menengok ke sumber suara tadi.
Dengan kata lain, Clara tidak lewat jalur normal menuju pintu melainkan melewati bawah ranjang. Clara tidak bodoh teman-teman. Hanya saja pemikiran Clara yang unik.
Katanya nangung sudah sampai tengah, jika harus keluar kan lebih susah jadi ia memutuskan untuk berlalu saja.
***
Aldo datang bersama Berta ke rumah Arfa dengan mobil hitam miliknya. Sebenarnya Aldo tidak ingin mengunjungi Arfa karena takut kejadian beberapa hari yang lalu terulang kembali hingga Berta harus dirawat di rumah sakit kembali.
Aldo keluar dari mobil dan langsung mengetuk pintu dan saat pintu terbuka sosok Arfa lah yang terpampang disana. Entah mengapa wajah Arfa yang awalnya terlihat cerah langsung datar saat memandangnya dan Berta.
Arfa menutup pintu tapi dengan sigap Aldo menahan.
"Mama mau ketemu sama lo."
Arfa tersenyum miris. "Udah ketemu gue kan sekarang? Kalo gitu cepet pergi."
Aldo menghembuskan napas kasar.
"Ijinin Mama masuk dan ketemu lo sebentar. Please gue mohon." Arfa menggeleng. "Pergi." sarkasnya.
Arfa merasakan gengaman tangan lembut nan hangat di lengannya. "Mama mohon."
Ntah kenapa, tangan Arfa mendadak lepas dan akhirnya Arfa memilih pergi ke dapur meninggalkan dua orang yang sama-sama menghembuskan napas pasrah.
Di dapur Arfa mati-matian menahan emosi, rindu, dan perasaan lainnya yang menyeruak, tercampur di dalam hati. Selalu saja bayangan akan dirinya yang terbuang dahulu meluap. Jika terus seperti ini, akankah hati ini dapat cepat disembuhkan?
Berta duduk di sofa ruang tamu bersama Aldo. Matanya ia liarkan ke seluruh ruangan. Hatinya terasa teriris melihat foto besar yang menempel di dinding.
Foto Arfa bersama dengan kedua orang tuanya yang menjadi nenek serta kakek Arfa dan Aldo. Tak ada satupun foto keluarga kecilnya.
Berta menepuk dan mengelus pergelangan tangan Aldo yang duduk di sampingnya.
"Suruh Arfa kesini ya, Aldo. Mama pengen ketemu Arfa. Mama pengen peluk Arfa." pinta Berta.
Aldo masih diam. Sibuk dengan pemikirannya.
"Aldo please." mohon Berta, penuh harap.
Aldo mengangguk dan segera beranjak menuju dapur.
Saat di dapur Aldo yang tadinya hendak bersuara mendadak membisu. Ia sembunyikan tubuhnya dibalik tembok pembatas dapur dan meja makan.
Disana terlihat Arfa sedang memukul dadanya, menahan perasaan sesak yang ia rasakan. Lagi-lagi Aldo merasa jatuh semakin dalam. Seharusnya ia tidak di takdirkan menjadi saudara Arfa. Jahat sekali bukan dirinya dahulu?
"Ngapain lo disini." Aldo tersentak mendengar suara Arfa.
"Mama mau ketemu lo," ucapnya dengan nada bergetar.
Arfa mengernyit, suara Aldo terdengar bergetar. Arfa ingin seperti dulu, dapat bebas memeluk dan menenangkan Aldo. Tapi kini semuanya mendadak runyam.
Semua hanya tinggal puing-puing yang tersisa begitu kecil sekecil atom. Derasnya kebencian bahkan mampu dengan mudah melenyapkan perasaan sayang yang ada.
Arfa pergi membawa air putih dua gelas menuju sofa. Tapi sebelumnya ia merasakan ada seseorang di atas sana. Saat hendak menaiki anak tangga, Berta memanggil Arfa.
Arfa mengurungkan niatnya mengecek keadaan di lantai atas. Ia menaruh minum tersebut di meja.
Berta tersenyum melihat respon Arfa. Inilah kali pertama Arfa memberikannya respon semenjak kejadian dulu. Segelas air yang ia terima dari Arfa begitu terasa istimewa.
Sedangkan Arfa entah mengapa ia merespons kedatangan Berta. Seakan tubuhnya bergerak sendiri tanpa aba-aba.
Padahal yang Arfa harapkan kedatangannya bukan Berta dan Aldo. Tapi Clara dengan permintaan maafnya!
Aldo menepuk bahunya pelan.
"Terimakasih, dek. Gue bakalan jagain lo, gue bakalan perbaiki semua kesalahan kecil dulu. Gue minta maaf atas kejadian dulu. Saat itu gue masih kecil dan gue--"
BUGH.
"Arfa!"
PYARRR.
Berta berteriak melihat Arfa memukul rahang Aldo hingga Aldo terjerembab di lantai. Minuman yang tadinya hendak ia teguk lantas jatuh ke lantai menimbulkan bunyi pecahan.
BUGH
"BACOT LO! APA LO BILANG? KESALAHAN KECIL?! BAKALAN JAGAIN GUE?! CIH BUSUK!"
"LO GAK TAU RASANYA KE BUANG DARI KELUARGA SENDIRI! LO GAK TAU BETAPA TAKUTNYA GUE NYARI PERLINDUNGAN DULU!"
BUGH
Satu bogeman mentah mendarat keras di rahang Aldo membuat si empu lunglai tak berdaya diatas ubin putih tulang itu.
Mendengar ucapan 'kesalahan kecil' dari bibir Aldo membuat amarah yang tadinya tertahan langsung keluar dengan sendirinya kenyataan bahwa Aldo penyebab semuanya langsung memenuhi otak Arfa.
Kesalahan kecil? That's a lie! Yang benar itu kesalahan yang amat sangat besar!
Arfa tersenyum miring. "Kesalahan keci kata lo? Cih! Kesalahan yang lo anggap kecil itu bahkan udah ngebuat masa kecil gue hancur! Tanpa kasih sayang keluarga!"
Keluar semua uneg-uneg yang selama ini Arfa pendam. Ucapan murka Arfa dari awal sudah sangat membuat Clara ingin bertepuk tangan, pasalnya rahang serta wajah merah padam Arfa dengan urat yang menonjol begitu membuatnya seksi, tapi pemikiran itu langsung hilang kala Arfa mengatakan suatu hal yang tak terduga. Hal yang bahkan sebenarnya atau mungkin tidak boleh mengetahuinya.
"KESALAHAN KECIL DARI LO! YANG NOTABENYA ABANG GUE SENDIRI UDAH BUAT GUE HAMPIR MATI!"
Arfa mencengkeram kera baju Aldo. "BAHKAN LO GAK TAU SAAT ITU GUE TERTABRAK? SAAT ITU GUE JALAN GAK TENTU ARAH?! SAMPAI AKHIRNYA GUE PINGSAN DI JALANAN SEPI KARENA KESALAHAN KECIL ITU?!"
Deg.
Jantung Berta serta Aldo terasa berhenti berdetak mengetahui keadaan Arfa dulu. Sungguh, keduanya merasa benar-benar jatuh semakin dalam. Mengetahui fakta tersebut membuat keduanya diam tak berkutik.
Hingga tangan Arfa hendak memberikan bogeman lagi namun begitu saja gagal. Tubuhnya terhuyung ke belakang hingga kepalanya terbentur meja kecil tempat bingkai foto.
Berta mendorongnya.
Arfa memegang kepalanya yang terasa pening seketika. Berta yang menyadari perbuatannya segera berjongkok dan hendak membantu Arfa.
"A-Arfa. M-Mama gak mak-maksud buat kamu gini. M-Mama cuman, cuman mau lerai kamu. Aldo sudah seperti itu Arfa, jika kamu terus memukulnya maka Aldo akan--"
Arfa menampis kasar tangan Berta. Arfa tertawa sumbang. "Tidak perlu meminta maaf. Anda hanya sayang kepada dia,"
Arfa menunjuk Aldo. "Bukankah memang seperti itu sejak dulu? Bahkan anda merelakan putra anda yang satunya serta begitu saja mempercayainya."
Tes.
Setetes air mata jatuh ke pipi Arfa. Kali ini ia mengungkapkan rasa yang terpendam begitu lama. Rasa sesak yang kian hari semakin menimbun.
Arfa berdiri membuat Berta menahan tubuhnya dengan memeluk dari belakang. Arfa terdiam, badannya bergetar. Sakit rasanya mengingat masa kelamnya.
"Maafin mama Arfa." Berta mengulang permintaan maafnya hingga tiga kali.
Penyesalan seseorang yang memuakkan!
"Melihat anda begitu menyiksa saya, membuat saya kembali mengingat masa lalu. Membuat saya semakin membenci anda. Kenyataan bahwa ibu saya adalah anda adalah sebuah kesialan bagi saya."
Setelah mengucapkan itu Arfa melepas tangan yang melingkar di pinggangnya dengan kasar. Ia berlari meninggalkan tubuh Berta yang dengan keras pula menghantam sofa.
Berta meringis merasakan nyeri di perutnya. Punggungnya terasa begitu ngilu. Matanya membelalak ketika melihat cairan merah merembes ke lantai.
Berta menangis saat ia melihat Aldo tengah memejamkan matanya, darah semakin banyak keluar.
Diatas sana mata Clara membelalak, ia singkirkan sapu yang ia gunakan menutupi wajahnya dengan sembarangan. Ia berlari menuju bawah.
"Tante gak papa?!" tanya Clara melihat Berta meringis.
Clara menepuk keningnya. "Bodoh kamu Clara! Tante ini kan lagi berdarah-darah!"
Clara meraba sakunya mencari-cari benda pipih miliknya yang ternyata tidak ada.
Clara kelimpungan mencari cara untuk menelfon ambulan. Berta semakin meringis dan berteriak kesakitan membuat Clara semakin panik.
Clara menoleh kebelakang dan segera mengambil ponsel milik Aldo yang pemiliknya kini sedang pingsan.
Clara melihat semua, mulai dari awal tadi.
"HALO MAS DOKTER! INI ADA YANG MAU LAHIRAN! ADA YANG PINGSAN! ADA YANG --- AHH UDAHLAH! MAS DOKTER CEPET KESINI BAWA AMBULAN! EMERGENCY EMERGENCY!... IYA... CEPAT!"
Setelah itu Clara mengembalikan ponsel Aldo di saku celana jeansnya. Clara kembali menatap Berta. Ia menggenggam tangan Berta.
"Enghhhh... T-tolong ehhhggghh... Ke-jar A-Arfa!!" pinta Berta ditengah kesakitannya.
Clara kontan menggeleng kuat-kuat. "Clara tungguin tante disini. Urusan Arfa itu gampang, te. Yang penting sekarang keselamatan tante sama dedek bayi di perut tante."
Berta tidak sanggup lagi berbicara karena rasa sakit kian menggila. Tangan Berta tak henti-hentinya meremas tangan Clara. Clara tak henti-hentinya berusaha menenangkan Berta.
'Keterlaluan kamu Arfa!' hardik Clara di dalam hati.
WIU WIU WIU.
Suara ambulan terdengar membuat Clara merasa lega. Tapi sedetik kemudian ia kembali panik saat mengingat sesuatu.
Mas dokternya bawa ambulan dua gak ya? Aduhh Clara lupa bilang lagi kalo ada dua yang butuh ambulan.