CEMBURU?

968 Kata
Arfa berada di ujung rooftop bersama kursi panjang yang ia gunakan untuk bebaring. Ia mendongak menatap langit sedikit memincing. Tiba-tiba sebuah tangan menghalangi sinar matahari yang menerpa matanya. Arfa tertegak dan langsung menampis tangan tersebut. Clara yang menerima kembali perlakuan kasar Arfa mendadak tertegun. Kenapa Arfa? Apa dia sedang PMS? Atau apa? "Kasar." gumam Clara. "Pergi." titah Arfa dingin. Clara langsung mendelik. "Lho! Kok jadi begini lagi kamu?!" "Pergi." Clara duduk di sebelah Arfa tanpa permisi membuat Arfa menatapnya tajam. "Gue bilang pergi." sarkasnya. Clara menggeleng. Geram, Arfa mengatasinya dengan menarik napas dalam-dalam. Menghadapi spesies seperti Clara harus dengan cara yang berbeda. "Gue yang pergi atau lo yang pergi?" Clara menoleh menatap Arfa seraya menangkup pipi Arfa. Sangking bingungnya Clara meneliti wajah Arfa baik ke kanan, ke kiri, ke atas maupun ke bawah. Kenapa Arfa kembali dingin seperti dulu? Apa ada yang salah. Arfa menampis kasar tangan Clara buat si empu terkejut. Arfa berdiri sejenak lalu melangkah. Tapi sebelum melangkah ia berucap. "Jangan ikutin gue." Arfa sadar bahwa Clara akan mengikutinya, maka dari itu Arfa memperingatinya terlebih dahulu. Clara yang hendak berdiri mendadak terhenti. Ia menatap punggung Arfa yang menghilang hingga di balik pintu. Clara duduk termenung dan mendongak menatap langit sedikit memincing. "Ma... Arfa lagi PMS ya? Apa lagi kesurupan?" ucapnya bermonolog. Sejurus kemudian badannya tertegak, matanya langsung menatap pintu rooftop. "Apa emang bener lagi kesurupan?! Kesurupan hantu taman belakang kali ya?! Clara harus sembuhin Arfa!" setelah itu Clara dengan secepat kilat mengejar Clara, mengabaikan jam pelajaran yang masih berlangsung. Arfa berjalan dengan santai menuju taman belakang sekolah serta tak lupa mengendong taasnya di bahu kanan. Ketika sampai di taman belakang segeralah Arfa bersiap kabur. Melempar tas keluar dan melompat tinggi adalah perbuatan yang sering ia lakukan. Saat membolos tepat ya. Arfa merasa aneh melihat Clara hari ini, entah mengapa perasaannya mendadak sensitif dan ia tidak dapat mengontrol emosinya sendiri. Cpara memang menyebalkan! Bagiamana tidak? Arfa sudah mulai mencoba membuka hatinya tapi tiba-tiba di patahkan begitu saja. Tau rasanya? Kemarin adalah jadwal Clara belajar di rumah Arfa. Saat itu Arfa sudah memasak makanan untuk dimakan bersama berupa spagetti, ia memilih baju yang cool agar terlihat keren di depan Clara. Bahkan Arfa yang biasanya tak memakai pomade tiba-tiba memakai dan memodel rambutnya agar terlihat maskulin di depan Clara. Tapi apa yang ia dapat? Clara tak datang disaat ia menunggunya hingga beberapa jam. Arfa memutuskan untuk memakan spagetti buatannya sendiri, dan memberikan porsi yang seharusnya dimakan Clara pada kucing tetangga yang sejenak mampir ke depan rumahnya. Merasa Clara tak akan datang, Arfa memutuskan membereskan dapur. Mungkin ada keperluan mendadak yang membuat Clara tidak bisa datang untuk belajar dan menghubunginya, begitulah pikiran Arfa. Saat hendak mencuci piring ia teringat akan catatan bahan-bahan makanan yang harus ia restock di kulkas. Arfa telah berbelanja semua keperluan yang di butuhkan, ia melaju dengan santai bersama mobilnya. Betapa terkejutnya dirinya ketika melihat figur Clara di cafe bersama sosok lelaki? Arfa hendak turun dari mobilnya tapi niat itu ia urungkan karena lelaki yang bersama Clara adalah Aldo. Arfa tersenyum masam. Ternyata memang bukan Clara yang akan menjadi pemilik hatinya. Arfa tertawa miris. "Bodoh." makinya pada dirinya sendiri. *** "Lara! Diem dulu nape! Gerak mulu kek uler keket!" protes Fino yang merasa tak nyaman karena sendari tadi Clara terlihat gelisah gundah gulana. Clara menoleh pada Fino dengan wajah peluh keringat. Kakinya tidak bisa diam menghentak kecil di lantai. "Bantuin Clara keluar dari sekolah. Clara tadinya mau bolos, ehh... ketahuan sama bu Murni yaudah Clara terpaksa masuk kelas. Clara, tuh, mau cariin Arfa! Dia lagi kesurupan." bisiknya pada Fino yang kontak membuat temannya itu menggebrak meja. "Seriusan?!" pekiknya tak percaya. Clara mengangguk mantap namun di samping itu bersamaan penghuni kelas memasang wajah kesal seraya mengelus d**a, sangking kagetnya. Bagaimana tidak mengelus d**a, di tengah keheningan mengerjakan tugas sejarah yang membosankan tiba-tiba saja mendengar gebrakan meja seraya pekikan melengking Fino. Bahkan Monica yang tengah memoles lipstik di bibirnya langsung melencong dari jalurnya. "Ada apa Fino?" tanya bu Mareta. Fino membeku lalu dengan kaku menatap penhuru kelas lalu meringis malu. Fino mengaruk tekuknya yang tidak gatal, bagaimana ini? Dan baru saja sebuah ide datang! Fino memasang wajah panik dan gelisah, sebelumnya ia mengkode Clara agar berakting bersama. "B-bb-bu! Itu! Itu!" Fino berakting gagap dan panik membuat semua orang di kelas itu ikutan panik. "Apasih! Kalo ngomong yang jelas Lo!" sahut Monica. "R-rumah Clara kebakaran bu!" Dan alasan tersebut berhasil membuat kegaduhan. Sedangkan Clara langsung mendelik seraya berusaha menahan keinginan untuk menendang kaki Fino serta menggeplak kepala temannya itu. Fino menatap Clara yang mendelik dan memberi kode agar setuju dengan alasannya. Clara kontan mengangguk, sekarang bukan waktunya menyumpah serapahi Fino, ia harus segera mencari Arfa. Melihat Clara yang panik membuat bu Mareta ikutan panik dan akhirnya menyuruh Clara cepat-cepat pulang untuk melihat keadaan rumah. "Clara kamu cepat pulang! Nanti bilang pak satpam kalo ibu yang ijinkan pulang! Cepat!" Clara mengangguk dan langsung melesat pergi meninggalkan kelas dan meninggalkan sekolah. Beruntung satpam sekolahnya saat itu tidak ada dan pintu gerbang tidak dikunci. Disisi lain Fino sedang di introgasi oleh bu Mareta, serta seluruh teman sekelasnya. Fino harus pintar membuat alasan yang tepat, jika tidak maka ia akan terjerumus sendiri di lubang yang ia buat. *** "Kok sudah pulang?" Arfa yang melangkah menaiki anak tangga terhenti dan membalik badan menatap budhe Minah, cucu kakek neneknya yang beberapa kali memang berkunjung dan menginap bersama suaminya untuk menjenguk Arfa sekaligus nyekar ke makam nenek-kakeknya. Beliau sampai membawa spatula dengan kepulan asap panas itu. "Bolos bi." "Mau makan apa, le? Bibi lagi masak banyak." tawarnya. Dahi Arfa mengenyit, memasak banyak? Untuk apa? "Gausah budhe, nanti aja kalo Arfa laper langsung ke dapur." Arfa kembali berjalan menuju kamarnya, ia hiraukan kejanggalan yang ia rasakan. Saat ini entah mengapa ia lelah dan ia merasa bodoh. Perasaannya tiba-tiba buruk hanya karena mengingat Clara dengan Aldo kemarin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN